Aku, dan Peranku

Aku adalah aku. Bukan dia atau kamu.

Mendiami badan yang sempurna, lengkap dengan indra-indra pengenal dunia. Mataku melihat dunia dalam pandang citra. Kupingku mendengar suara dengan getar nada-nada. Hidungku menciumi aroma surga sekaligus neraka. Lidahku mengecap tak terkecuali semua rasa. Dan kulitku merasa halus dan kasar sentuhan benda-benda.

Aku adalah aku. Bukan dia atau kamu.

Hidup dalam duniaku. Semua yang kurasa dalam indra adalah milikku. Bukan milik kalian dalam sudut kacamataku. Ruang dan waktu ini juga milikku satu. Tak berhak orang punyai selain diriku. Juga mengenai keadaanku, selama udara memenuhi rongga dadaku.

Aku adalah aku. Bukan dia atau kamu.

Dilahirkan pada keluarga yang bukan rendah juga bukan mampu. Pula melahirkan dua sosok manusia menjadi ayah dan ibu. Bahkan hanya aku yang memiliki keluargaku. Tak ada selainku yang berhak atas dunia kecil yang habiskan waktuku, tangis juga tawaku.

Aku adalah aku. Bukan dia atau kamu.

Yang jalani hidup dengan gayamu. Pola pikir yang tak mau dan tak boleh sama dengan milikmu. Keluargaku juga tak ada sama dengan milikmu. Berfoya atau berpangku dalam membijaki waktu yang terus melaju. Tanpa atau dengan tujuan-tujuan hidupmu. Yang kau jadikan kawan atau musuhmu. Bukan…

Aku sungguh sangat bukan dia atau kamu…

Yang dengan dunia dalam genggamku. Maju mundur bersama waktu. Dengan semua tujuanku, jelas atau tak tertuju. Demi dua sosok yang kulahirkan bersama kelahiranku. Ingin menjadi pelengkap dalam catatan buku-buku, ucapanmu, ingatanmu, obrolanmu, diskusimu, dan semua yang menjadi giat langkahmu.

Aku memanglah satu,

Karena dunia bersama waktu menjadi panggungku, dan akan menjadi sutradara dalam drama hidup sekaligus peran tunggal dimana aku berperan sebagai AKU.

Di tengah guyuran hujan,

Kediri, 17 Juni 2013 12:12 AM

L A

Pagi ini, di perjalanan ku menuju Bandung. Kamu kembali menggodaku. Dengan parasmu yang baru, dan aromamu yang, hmmm, aduhai menggoda. Selalu membuat pandangku terpana. Setelah hawa dingin merasuk ke ragaku. Kamu, dengan bodimu, menawarkan aku kehangatan tubuhmu. Dan, aku tergoda olehmu.

Pagi ini kamu masih terbungkus oleh gaunmu yang berseri. Menutupi molek tubuhmu. Ingin aku bangkit untuk segera menjamah kamu. Yang terdiam dalam sepimu. Tapi kuurungkan niatku walau dingin kian masuk ke ragaku. Ya, belum etis rasanya menikmati kamu di ruang ini. Aku akan bersabar untukmu, sayang.

Pagi yang indah di Kota Kembang. Tak sabar aku ingin menjamahmu. Menagih kehangatan yang sempat kamu tawarkan waktu lalu. Kubelai indah gaunmu yang baru. Sedikit laun terpampang putih tubuhmu. Kubelai kembali tubuh rampingmu. Dan mulai aku menjamahmu, tanpa gaun yang menutupimu. Menciumi wangimu. Dan dengan tak sabar, aku mulai mencumbumu. Tepat, bibirku mulai bersentuhan dengan bibirmu. Terbayang masih aroma itu. Aku mulai menghangatkanmu. Dan kamu pun membalas dengan kehangatan yang berlebih. Kunikmati tubuhmu dan tak ku pedulikan orang-orang yang memandangi cumbuan ku padamu, dengan biasa. Hangatmu membayar lunas dinginku semalam untuk menantimu. Dan di kota Bandung ini, kamu adalah obat dari udara yang membuatku getar.

Bandung, 25 Mei 2013

Pada sepi…

Pada sepi, aku mengadu,

Akan rindu yang semakin pilu, tentang mu dan ku. Tak mampu aku mengurai rasa yang disebut rindu. Darimana ia berasal dan kemana arah muaranya. Yang kutau hanyalah menikmati setiap hunusan pisau ke arah jantungku.

Pada sepi, aku terkulai,

Terisak dan menangisi kesendirianku. Bahkan dawai-dawai angin yang biasa terdengar kurasa mulai menjauhiku. Kutangisi kemana arah diriku yang pergi, jauh dan memohon agar segera kembali.

Pada sepi, aku gentar,

Memilih simpang-simpang jalan yang akan ku lalui. Turunan yang penuh duri, ataukah tanjakan yang tak pasti. Ku butuh mu, yang menggandeng dan menuntunku dalam diam dan sepi.

Pada sepi, aku mencoba berdiri,

Bangkit dalam sisa-sisa semangat yang kukais sepanjang jalan hidupku. Berusaha berlari, namun kembali kutempatkan dahi pada jalan berliku. Jauh dan semakin jauh ku terpaku menghiasi kesepian yang berujung semu.

Pada sepi, aku bermimpi,

Kelak di sebuah hari yang kunanti, akan ku teriakkan bahwa aku pernah menaklukkan sepi. Seorang diri. Tanpa hadirnya kau di saat ku pilu. Memang inginku. Yang menjauhkanmu dari sebuah siksaan hidup yang menggebu.

Dan pada sepi, aku mengerti,

Bahwa “ingin” tak semua terpenuhi. [AAC]

Jakarta, 2 Mei 2013

Samudera Lain

Indah, dalam lamunan panjangku
Kini saatnya ku meratapi takdirku
Yang memang untukmu
Tersandung kerikil yang kian membesar
Saat ku coba tuk terus kagumi indah itu
Mengalirku dalam perasaan kosong pengharapan
Kian sakit ku rasa

Mengarungi samudera lain yang elok
Terasa kuat arus menarikku
Terombang-ambing dalam gelombang besar
Yang siap tenggelamkanku
Dalam pelukan…
Dalam dekapan…
Dalam cumbuan…

Mengayuh ku dalam duri alasan
Semakin sakit kurasa, semakin jauh berlabuh
Walau dalam kemunafikan itu ku kagumi samudera itu
Yakinku,
Pantulan cermin kan bangunkanku, sadarkanku
Kembali aku pada dunia yang hampir kulupakan
DI dirimu…