Grand Trawas Hotel

DSC_5347Cuti adalah rutinitas yang paling saya tunggu-tunggu. Memang sebagai pekerja tambang, menanti waktu cuti adalah hal yang tidak kalah mendebarkan dengan menanti-nanti upah bulanan. Setelah hampir 2 bulan (sekitar 8 minggu) kerja tanpa henti -bahkan tanggal merah tidak berlaku di sini, jatah 2 minggu adalah hal yang tidak boleh dilewatkan dengan senyum mengembang. Kesempatan bercengkrama dengan keluarga tidak boleh di sia-siakan. Jadi kalau boleh saya bilang, bersyukurlah kalian yang bisa bertatap muka dengan keluarga -istri, anak, ayah, ibu, mertua, dll, setiap hari. Ada banyak agenda sebenarnya untuk mengisi waktu cuti, beda orang beda agenda tentunya. Ada kawan saya yang selama cuti memang dia habiskan penuh 2 minggu untuk berkelana. Mantai dan nggunung. Atau traveling secara umum, hal yang biasa para bujang lakukan kan Pak Regs? 😁. Dan kata beliau juga, cuti adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan duit baru setelahnya kembali ke site dalam kondisi kere lagi.

Continue reading “Grand Trawas Hotel”

Drama di Besakih

BesakihSebelum saya mulai nulis, ini termasuk #VeryLatePost kalo misal kita upload gambar ke Instagram. Tapi gapapa, biar telat daripada sama sekali enggak. Pepatah kok dibolak-balik.

Oke, saya mau cerita pengalaman tentang Besakih. Bali. Saya sempat mengunjungi Besakih pas bulan madu tahun kemarin. Tepatnya setelah efisiensi. Tapi waktu itu kantong masih lumayan tebel jadi pas jalan bisa agak angkat dagu dikit, sambil ngasi senyum-senyum dikit. Saya mengunjungi Besakih di hari kedua bulan madu. Rekomendasi tempat ini dari, lagi-lagi, Kanda Regy. Katanya tempat ini ajib, kalo ke Bali jangan sampe gak mampir. Kata si doski dengan wajah serius. Saya sih langsung percaya, melihat pengalaman travelling nya yang sudah kemana-mana. Saya tiru kata-kata Kanda Regy ke istri saya, tentu dengan semangat yang menyala-nyala dan meyakinkan. Continue reading “Drama di Besakih”

Papuma

Gaya Fenomenal Kanda Regy

Hari Minggu yang lalu, saya berkesempatan untuk pelesiran raya ke Jember. Papuma menjadi tujuan saya. Sebuah pantai yang dulu sempat eksotis, ya itu dulu. Sekarang sejak dikenal namanya, pantai ini sudah ada indikasi-indikasi pencemaran. Yang namanya manusia, jejak yang ditinggalkan tidak lain adalah sampah. Continue reading “Papuma”

PULANG !!

Tepat enam bulan saya berteduh di Obi. Tempat berbagi bukan hanya tawa, tapi semua. Tentu enam bulan bukan waktu yang cukup lama, tapi bagi saya keseharian di Obi sungguh terlalu indah jika harus dibuang. Mulai dari kehangatan canda sampai kehangatan CT dan brandie. Enggan sebenarnya saya untuk meninggalkan Obi, belum puas dengan wisata dan cendera matanya. Terlebih untuk meninggalkan kawan seperjuangan saya di divisi enviro. Pak Wali sang maestro karaoke, Pak Igun sang maestro wanita, Pak Roby sang maestro cerita, Kakanda Regy sang multi talen, serta Nur dan Ira yang dengan sukarela memberi warna yang berbeda di enviro. Serta dua rekan saya yang senasib, Janit dan Hafis.

Tanggal 12 September 2013 kami pertama menginjakkan kaki di Obi, 7 Maret 2014 terakhir kali kami menginjaknya. Memang inilah konsekuensi dari sebuah pertemuan. Harus ada perpisahan yang melengkapinya. Mau tidak mau, siap tidak siap. Mulai hari ini, saya kembali berpetualang mencari tempat untuk berteduh kembali. Menjaga asap mengepul dari dapur kami. Dan menjadi manusia yang berperi.

Saya percaya semua tempat pasti memiliki daya kenang tersendiri. Dan semoga, kenangan saya di Obi tak pernah akan terlupa. Selamat berpisah sahabat, semoga Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk kembali bersua dalam tawa. Saatnya pulang.

7 Maret 2014

Kamar 13, KM Teratai (Bacan-Ternate)

Travelling Obi

Obi, tak pernah sekalipun membayangkan rupanya. Bahkan namanya pun baru terdengar di telinga. Pagi yang dihiasi rintik gerimis menyambut langkah kaki saya untuk menginjak Bandara Sultan Babullah Ternate. Pemandangan yang kontras tersaji di kiri kanan, atau muka belakang, bandara kecil ini. Bukit-bukit hijau dan lautan nan biru menjaga bandara yang mungil ini. Sejenak saya menghirup udara Ternate ini dalam-dalam, mencoba mencari beda dengan udara yang selama ini saya hirup. Nampaknya sama saja. Kedatangan bis bandara membuyarkan konsentrasi saya dan segera memerintah saya untuk naik. Bis yang penampakannya seperti Trans Pakuan Bogor.

Saya bersama dua teman lain, Janit dan Hafiz, berjalan menuju pengambilan bagasi. Sekilas saya melihat beberapa orang lokal memandangi kami dengan wajah curiga. Atau mungkin kagum? Atau juga bingung? Entah, yang pasti kulit kami bertiga lebih terang daripada mereka. Itu nampaknya hal yang mencolok saat ini, hingga nanti kulit kamipun perlahan berubah. Mirip dengan warga lokal. Kecuali kulit Janit yang hanya memerah, lalu memutih lagi.

Jemputan telah tiba dan kami serentak masuk ke dalam Kijang. Ternyata hari itu bukan Cuma kami yang baru tiba di kota kecil ini. Ada 3 lagi yang bersama duduk di dalam jok mobil hingga penuh. Dulu saya pikir angkutan yang paling keren di Indonesia ini Cuma ada di Bogor, dengan sound system yang jedag-jedug, ban ceper, serta asesoris interior mobil yang sporty. Kini kota sejuta angkot itu harus menerima kekalahannya di bidang perangkotan. Karena angkot di Ternate tak kalah jedag-jedug, malah lebih keras rasanya. Dengan ban yang memang dibuat melebar serta as ban yang nampaknya diperpanjang membuat mobil Carry menjadi lebih gagah menantang. Bogor satu poin tertinggal. 15 menit berlalu dan kami sudah tiba di kantor perwakilan yang menyediakan kamar untuk istirahat para karyawan untuk sekedar transit. Mandi, kemudian saya beserta 2 orang teman, Febri dan Kardi namanya, jalan-jalan sambil berburu sarapan. Tak lupa kami singgah sejenak di pasar untuk membeli perlengkapan yang katanya nanti di Obi susah dapetnya. Sampai di kantor perwakilan, saya langsung terpejam.

Saya langsung terjaga saat hafis bangun dengan tergesa. Saya lihat jam tangan masih menunjukkan pukul 5 sore. “napa si buru-buru, masih jam 5 ini” kata saya sambil ingin memejamkan mata lagi. “itu WIB bray, disini udah jam 7 malem” kata Janit. Betul, saya baru nyadar. Tidak sempat mandi lagi, saya pun hanya cuci muka saja. Yang kemudian saya sesali.

Kami diantar lagi ke pelabuhan oleh Bang Darwin, driver perusahaan. Setelah membeli tiket dan bekal selama di kapal, kami langsung menuju kapal. Namanya Obi Permai Bitung.

With Obi Permai Bitung

Kapal yang menjadi tumpuan hidup kami selama 18 jam. Tepat jam 10 malam kapal mulai membunyikan klakson, atau bel? Tanda kapal akan segera melaut. Saya dengan wajah ndeso, menuju dek depan kapal. Dan malam itu, bulan Maluku menghipnotis saya. Bulan yang mempesona. Begitu bulat, dan menjadi satu-satunya penerangan untuk memandang lautan di sekeliling saya. Angin laut menyapu wajah saya, menyisakan dingin saat ia pergi. Lalu saya mulai menyesal karena tak menyempatkan untuk mandi sebelum berangkat. Rasa gatal melanda, sampai ke daerah pusaka. Shit.

Saya kembali ke matras dan mencoba terlelap. Namun rasa gatal semakin jadi, untung tetangga seperaduan hampir semua terlelap dan tempat tidur saya memiliki bagian yang tidak kena sinar, pas untuk aktivitas garuk-garuk selangkangan. Huft. Aktivitas garuk itu saya jadikan pengganti ritual hitung domba untuk mengundang kantuk. Entah berapa kali garukan saat saya mulai tak sadar. Yang saya ingat adalah kenikmatan sensasinya. Coba aja kalo gak percaya, nikmat yang menyiksa. Haha.

Saya bangun, kesiangan. Padahal sudah ada rencana untuk berburu sunrise di tengah laut maluku. Tapi telat. Dan karena ini saya balas dendam, di pagi-pagi lain saya sengaja untuk menjaga mata tertutup saat sang mentari menggeliat minta untuk di abadikan. Saya selalu teringat pagi itu di Obi Permai. Siang, kapal singgah di Pelabuhan Madapolo.

Welcome to Madapolo

Aktivitas penjual Madapolo

Katanya Madapolo adalah rumah bagi pecinta kuliner yang berburu masakan khas Maluku Utara. Tapi siang itu para penjual tidak nampak sedang menjajakan jualannya. Sepertinya laris manis di kapal-kapal sebelumnya. Saya sempatkan waktu untuk mengambil gambar dengan latar ucapan selamat datang di Pelabuhan Madapolo, Obi Utara. Di sekitar pelabuhan nampak anak-anak berlarian sambil bermain air. Di atas kapal, saya menyempatkan untuk memotret kegiatan anak-anak laut itu atraksi menyelam memburu koin yang ditebarkan penumpang dari atas kapal. Dengan cekatan mereka beradu waktu untuk memungut koin rupiah itu, tak jarang mereka menyelam demi mengambil koin itu. Mungkin ini yang dinamakan hobi yang menghasilkan.

Anak-anak Laut

Lewat sekitar 2 jam dari Madapolo, kami tiba di Jikotamo. Jarum jam menunjukkan angka 3. Saya turun dengan susah payah. Karena koper saya paling besar diantara teman yang lain. Ditambah penumpang yang berdesakan berlomba dengan para kuli angkut yang dengan brutal menyerbu kabin penumpang. Turun dari Obi Permai, kami disambut oleh speedboat. Ya, rasanya laut Maluku tak mengijinkan kami untuk berlama-lama menginjak daratan. Kami langsung beriringan menuju speedboat jemputan. Setelah nama saya diucap oleh salah seorang ABK, saya langsung menghentakkan kaki di speedboat. Kini, saya kembali menggantungkan hidup pada speedboat. Saya mengambil tempat duduk paling belakang, agar bisa mondar-mandir keluar untuk menikmati keindahan pulau-pulau yang kami lewati. Di sepanjang perjalanan, saya terpesona melihat hamparan pohon kelapa di kiri kanan laut yang tumbuh subur di pulau-pulau kecil tak berpenghuni. Mungkin, ide dari lagu “rayuan pulau kelapa” adalah di pulau-pulau Maluku. Atau mungkin Maluku adalah cerminan Indonesia lama. Akhirnya saya tiba di Obi. Tempat saya bergiat selama 3 bulan ke depan. Menghabiskan senyum, menampik sendu, dan meratapi hari minggu. Sambil menunggu jemputan menuju Mess, saya memandangi laut Maluku yang dari kemarin malam saya lewati. Samar-samar saya mendengar nyanyian yang saya kenal betul.

….

Tanah airku aman dan makmur

Pulau kelapa nan amat subur

Pulau melati pujaan bangsa

Sejak dulu kala

Melambai-lambai

Nyiur di pantai

….

Pulau Kelapa

Obi, 13 September 2013