browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Sastra

Portacamp, Oh Portacamp

Hai para bos “Selamat pagi!” Ucapan manis yang keluar dari anak buahmu Yang pagi ini dibayangi tinja di kamar mandi Tak masalah kepunyaan siapa mereka Yang gawat adalah milik kami tak bisa lagi diterima

Categories: Puisi | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Senja dan cerita yang mengawalinya.

Aku dan istriku, Senja, nampaknya memang benar-benar berbeda. Dalam segala hal, tak terkecuali dalam cinta. Beberapa kali kami saling meradang karena itu, dan selalu diakhiri dengan sesal bersama air mata sebelum tubuh kami saling menindih. Senja, seorang wanita yang terbiasa melakukan pekerjaan seperti umumnya, dan mejanya selalu rapi. Pikirannya tak pernah sempit kalau sudah berbicara … Continue reading »

Categories: Cerpen | Tags: , | Leave a comment

Wahyu: Satu sahabat masa kecil

1999-2000 Pagi itu ruang kelas yang ramai mendadak hening. Beberapa murid yang tengah asik bermain, kembali ke tempat duduk. Ada orang asing di antara kami. Ya, ada anak baru yang bergabung di kelas kami. Wahyu namanya. Sekilas, aku agak manyun. Karena dia bisa jadi pesaingku dalam hal kegantengan. Wajah dan perawakannya bersih. Bajunya rapih. Dan … Continue reading »

Categories: Cerpen | Tags: , , | Leave a comment

Dialog Meja Sebelah.

‚Äč”Semua berubah, Akbar. Tak terkecuali wanita. Zaman terus berjalan, manusia menua….”, “Ya, aku sepakat dengan kata-katamu.” “Sekarang mungkin kau sedang memujaku dan melupakan kekasihmu. Tapi masih ada esok, lusa, dan hari-hari yang tak berbatas.” “Jadi kita berbicara tentang waktu? Belasan tahun aku meredam rindu dan amarah hanya untuk menemukanmu. Berapa banyak denting jam seperti memukul … Continue reading »

Categories: Sastra | Tags: | Leave a comment

Matebon.

Pernah salah satu kawan saya, Matebon, membuat gemetar orang serumahnya. Betapa tidak, ia dengan blak-blakan meminta persetujuannya untuk menikah (lagi). Sontak, hal tersebut membuat tangis istrinya, yang sedang hamil muda, meledak. Tapi itulah kawan saya, bukan dia tidak waras lagi, dia sudah memastikan sebelumnya bahwa hari ini akan terjadi. Tangisan istri dan guratan kecewa orang … Continue reading »

Categories: Cerpen | Tags: , , | Leave a comment