Monolog #1

Apa kabar kamu, Nona? Uh berapa windu kita tak berjumpa? Tapi rasanya, baru kemarin kita menghabiskan malam dengan sepiring flatter di meja. Juga berbatang-batang puntung yang mengantre untuk padam. Kopiku? Masih setia. Oh iya, sebelumnya aku ingin kamu sampaikan maafku pada Tuan. Karena rinduku tak beraturan. Sedang tak karuan. Sambil mengingatmu yang tengah mengenakan sweater biru dongker, lalu senyummu yang menawan.

Hei, aku menemukanmu pada tumpukan buku-buku. Pada sederet kata-kata yang manis. Kamu tepat berada di bagian paling cantik. Tiba-tiba tersenyum. Lalu aku takluk pada senyum pertamamu. Siapa namamu? Ah, hampir ku lupa, Sifa. Aulia Falasifa. Continue reading “Monolog #1”

Membunuh Rindu!

Aku tiba di kotamu lima belas menit sebelum pukul 8 malam. Selinting tembakau segera terbakar, mengiringi asap yang terhembus bersama udara yang keluar dari paru-paru. Pesanmu baru tiba, lalu kubaca. Kau menuju kemari. Aku duduk cemas sambil menerka baju apa yang tengah kau pakai. Untuk menutupi tubuh mungilmu yang kubayangkan menggigil karena angin malam. Tak cukup itu, mungkin sebelum berangkat kau menimbang-nimbang jaket atau sweater apa yang hendak kau kenakan. Musuhmu malam ini adalah dingin. Siapa yang tak terima, bahwa kemarau tahun ini membawa dingin yang amat. Tulangmu tentu mengeluh. Tapi kuharap niat menemuiku akan membuatmu bergemuruh. Sama seperti aku saat ini. Juga saat sebelum ini. Saat aku menimbang akankah aku menemuimu saja atau mengingkari rindu yang kian lama kian tercipta. Sampailah aku hari ini. Hari dimana dulu sengaja ingin kita ciptakan. Bersama surya dan harapan, kita mengarungi bulan demi bulan untuk sekedar menuntaskan rindu. Continue reading “Membunuh Rindu!”

Dialog kehilangan

Pada senja yang merona, aku kehilanganmu. Jejakmu perlahan mulai terhapus ombak yang riuh bergemuruh menyapa pasir. Pekat bayangmu mulai tersamar oleh sinar yang redup, ketika bulan murung. Ketika matahari termenung di ufuk cakrawala. Lalu aku hanya bisa bermain dengan debur. Dengan karang. Dengan buah kelapa yang maju lalu ke belakang, menggoda ia pada laut. Jadi ini akhir kita. Aku mendesah pada waktu. Sesungguhnya kita sama tau, bahwa kita akan berakhir. Kapan, saat ini sudah terjawab. Aku mencoba mengeja kembali namamu. Bersama kepak sayap camar yang menjauh. Mengecil. Lalu hilang. Continue reading “Dialog kehilangan”