Sebuah Persembahan untuk SHIRO

Kawan, satu jam yang lalu sebelum aku menulis cerita ini, aku menangis. Menangis karena kurasakan rindu yang begitu dalam kepada kalian. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat saat-saat bersama kalian. Ku buka keping demi keping piringan Compact Disc ku. Hatiku kembali terpanggil ke masa-masa itu. Di saat kita teriakkan kata “Hore” saat ada jam kosong dalam belajar, saat bel pulang sekolah terdengar lebih awal, dan saat pelajaran Biologi semester 3 dimulai, juga pelajaran Seni yang tak ketinggalan. Semua itu membekas dalam senyuman kalian. Sangat berbeda saat pelajaran Kimia semester 5 berlangsung. Aku sangat ingat saat-saat ketegangan itu mulai muncul di hati. Mendengar suara langkah sepatu “tok tok tok” yang kian mendekat menandakan bahwa Olahraga Jantung akan segera dimulai. Wajah-wajah serius dan seolah membaca buku Piranti Kimia terpasang di raut wajah kalian. Pelajaran Bu Sri Subekti selalu kami nanti. Rindu rasanya bila mengingatnya.
Kawan, aku yakin, kalian juga merasakan rasa yang sama sepertiku. Rasa untuk kembali ke masa-masa itu. Walaupun kadang kita terpecah akibat kesalah pahaman atau perbedaan pendapat, namun itu tidaklah bertahan lama. Aku, dan pasti kalian, sangat merasakan kehilangan seorang teman seperjuangan kala kita duduk di awal kelas XII. Iya, Agus yang biasa kita panggil Akik. Itulah rasa pertamaku.
Teman, sadarkah kalian bahwa slogan yang ada di tembok bagian kiri kelas itu kini semakin terpaku dalam hati ini? Sadar atau tidak, slogan yang kita buat dengan kebersamaan itu kini terpetri sempurna di hatiku. Slogan yang mengajarkanku arti kebersamaan. Baru kini ku sadar bahwa kata-kata itu juga membuatku bangkit dari ke ego an ku.
Wahai temanku, apakah kalian ingat tempat duduk di depan kelas kita? Di situ kita pernah mengukir nama dan tanda tangan kita. Menorehkan tinta sejarah di SMA 2. Aku sangat ingat kejadian itu. Dengan penuh tawa, kalian menuliskan nama-nama kalian dengan penuh semangat. Seakan tak ingin tulisan itu hilang dari tempatnya melekat. Jika bisa, aku ingin pergi ke tempat itu dan melihat kembali prasasti yang telah kita torehkan. Aku bisa melihatnya dari sini kawan. Tidakkah kalian melihatnya juga?
Kawanku,
Aku tersenyum dalam lamunanku. Teringat puisi yang dibawakan Agus kala kita duduk di kelas XI. Seolah canda tawa kalian kini berada di samping telingaku. Aku kembali tersenyum saat teringat kata “Pis of yes”, ahh, hal itulah yang membuatku semakin ingin bertemu kalian.
Kawan, apakah kalian ingat dengan kata-kataku sebelum aku bernyanyi di depan kalian saat pelajaran seni? Apakah kalian merasakannya kawan? Lagu yang ku bawakan kala itu, kini telah mengisi hari-hari sepiku tanpa kalian. PETERPAN “SEMUA TENTANG KITA”. Lagu itu selalu menemani mandiku. Kujadikan sebagai nada dering ponselku, agar ku selalu teringat kalian.
Kawan, senyuman kalian lah yang selalu ku rindu. Kebersamaan kita lah yang selalu ku nantikan saat libur panjang datang. Namun kawan, diluar XII IA 2, sangat susah kurasakan untuk bertemu kalian. Aku mencoba menahan air mata rinduku. Walau kadang tak bisa lagi terbendung.
Tulisan ini ku buat untuk kalian, untuk mengurangi semua beban. Lantunan doa-doa selalu ku ucap lirih untuk memohon kepada Nya, agar kita bisa sukses mencapai apa yang kita harapkan. Amin
Selalu ku tunggu kehadiran kalian di setiap libur-libur panjang.

Yang selalu merindukan kalian,
Argha Aditya Cipta Nugraha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *