I.N.D.O.N.E.S.I.A

Rasanya, perasaan tak suka semakin bertambah pada oknum polisi. Kesewenang-wenangan telah mencoreng namanya hampir di seluruh Indonesia, saya rasa. Tentu sebagai rakyat biasa akan takluk oleh seragam dinas yang rasanya setiap tahun harus diganti karena bertambah ukuran. Setelah pengalaman yang sudah saya rasakan dan sudah saya coba untuk lupakan, beberapa hari lalu kembali mencuat setelah serombongan polisi beserta petingginya menyambangi warung, tempat usaha, keluarga. Dengan menunjukkan kesombongan ketika ditanya soal menu yang ingin dipesan dan sama sekali tiada rasa sopan sedikitpun. Sepertinya pangkat di pundak telah membekukan rasa kemanusiaannya. Tak berhenti disitu kekesalan saya. Di akhir hajatnya pun kembali saya menyimpulkan bahwa kejujuran hanya menjadi sebuah manisan bibir yang nampak sejuk didengar. Apa yang disampaikan di meja kasir tidak cocok dengan apa yang dimakan. Dan itu adalah akhir dari kegeraman saya malam itu. Rasa sebal saya tentu tak sehebat sekarang kalau hal itu dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Namun jika berulang berkali-kali, apakah masih layak dianggap sebuah ketidaksengajaan? Saya rasa bukan menjadi jawaban atas keniscayaan pertanyaan tadi. Tentu menjadi sebuah kesalahan jika saya men-general-kan bahwa semua polisi di pelosok negeri sama. Tapi segala sesuatu pasti memiliki pencilan. Sayangnya pencilan dari polisi adalah menjadi pribadi berkemanusiaan. Terbukti ketika saya melakukan survey iseng di media sosial dengan menuliskan “apa yang ada di pikiran anda pertama kali ketika mendengar kata POLISI?”. Dan sebagian besar membalasnya dengan ungkapan negatif. Jadi simpulan saya bukan hanya omong kosong. Ditambah lagi dengan terungkapnya satu dari ribuan kasus korupsi, kali ini melibatkan aparat kepolisian. Menambah geram rakyat kecil seperti saya. Tentu rakyat kecil seperti kami tak bisa seenaknya berbicara, atau lebih tepatnya mengumpat, langsung ke muka para oknum tersebut. Karena belakangan saya tau, bahwa rakyat kecil akan melawan dalam diam. Yang sedikit berwawasan akan mulai berteriak dalam kata.

Di Indonesia ini, saya mulai merasa kehilangan kepercayaan diri. Dengan apa yang guru saya elu-elukan tentang polisi. Dulu pernah saya memiliki pikiran bahwa polisi adalah pengayom masyarakat. Pembela kebenaran. Dan lain sebagainya. Disini sedikit sekali hal negatif yang ada di benak saya terhadap polisi. Lambat laun saya sadar bahwa pendidikan formal tak mungkin membuat sebuah nama atau jabatan, polisi atau apapun itu, menjadi jelek di mata generasi muda. Apalagi generasi yang masih sangat mudah untuk dimasuki sebuah faham melalui pikiran polosnya. Dan tetap, waktu dan pengalaman berkata lebih jujur daripada angin yang diberikan oleh para pengajar di pendidikan formal. Pengalaman membuat semuanya berbeda. Saya mulai krisis dan sering muncul pikiran jika saya harus pindah ke negara lain, entah negara mana. Perancis mungkin. Disusul dengan pertanyaan lain sebelum saya menyelesaikan jawaban negara mana tujuan saya migrasi, kepada siapa saya harus percaya di Indonesia ini? Wakil rakyat yang tak jelas arahnya. Partai. Agama. Politik, ah rasanya malas sekali saya mengetik kombinasi huruf keyboard yang terdiri dari P O L I T I K. Keamanan. Dan semuanya, semuanya. Saya, mungkin mewakili beberapa orang, adalah seorang Indonesia yang tak lagi merasakan Indonesia. Seperti tersesat dalam rumah sendiri. Kau pasti tau betapa aneh dan mengerikannya.

Di negeri ini, saya seringkali memiliki ide-ide untuk bisa membuat kapal bernama Indonesia ini kembali berlayar. Tentunya sebagai warna negara yang baik, semua rakyat memiliki impian untuk tanah airnya. Namun seringkali juga, bahkan lebih intens, ketidakpercayaan yang pernah saya tanam tumbuh melebihi alamiahnya. Dan menjadi sebuah ketidakmungkinan dalam menghidupkan ide-ide tadi. Biasanya di tengah kegiatan saya menikmati siaran Drama TV  terbesar di Indonesia yang tak jauh dari panggung DPR, saya teringat salah satu film berjudul “Harold & Kumar: Goes to Guantanamo’s Bay”. Agak sedikit porno memang, namun ada hal-hal yang harus digarisbawahi. Dan yang paling saya ingat adalah ketika Harold dan Kumar bertemu dengan Presiden USA, Bush Junior. Dalam adegan tersebut Sang Presiden mengatakan kepada Harold serta Kumar, “Percayalah pada Negerimu, jangan pada pemerintahmu…”. Kurang lebih itulah inti yang saya dapatkan dari hampir 120 menit durasi film ini dalam hal nasionalisme. Dan hal itu cukup membuat saya lega. Mungkin karena itu pula keinginan saya untuk berganti warga negara sedikit pupus, selain masalah utama yang saya rasa telak membuat saya takluk. Duit.

Di Indonesia ini, saya sudah tak ingin lagi menghormati para pejabat atau polisi dan sejenisnya. Kalaupun masih ada senyum di bibir saya, pasti ada penyeimbangnya dalam batin ini. Segala sesuatu yang bertolak belakang terlihat seksama di pemerintahan negeri ini. Aparat keamanan dengan iming-iming keamanan dan bayang-bayang ketidak-adilan. Elit politis dengan dalih menyejahterakan serta niat mengendus uang rakyat yang nyata. Petinggi agama yang lekat dengan pahala-dosa dan akhlak yang lebih dekat dengan neraka. Tak lepas juga mahasiswa, dengan teriakan lantang tentang pembelaas terhadap rakyat seringkali terdengar ketika masih menjabat sebagai Petinggi Senat namun mulai berbisik rupiah ketika sudah berada di kursi dewan. Serta masih banyak hal-hal yang bersimpangan di sini, yang sebenarnya bisa kami rasakan sebagai rakyat kecil. Mungkin suara saya, atau kami, tak bisa menembus ruang dingin tempat anda semua bekerja. Tetapi jangan kira saya, atau kami, tak tau apa yang anda semua lakukan di ruangan kerja anda. Saya, atau kami, sudah lelah menyimpan suara. Sudah lelah membunuh amarah. Sudah tak mampu menahan dendam.

Jika keadaan terus seperti ini, masihkah anda harapkan do’a untuk memuliakan anda di depan Sang Pencipta kami lantunkan untuk anda? Jangan berpikir dua kali. Jawabnya hanya satu, tak akan pernah.

Dalam amarah yang tertahan,

Kediri 28 Juni 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *