Ungkapan Bisu untuk Bapak Ibu

Entah berapa lama saya tidak pernah member makan blog ini dengan beragam tulisan seperti waktu lalu. Selain kesibukan yang kini saya geluti, juga karena setiap awal menulis kalimat rasanya sudah tidak ada lagi greget seperti dulu. Sebenar-benarnya sudah banyak sekali uneg-uneg yang muncul dalam benak, tapi sama seperti manusia pada umumnya, saya memiliki keterbatasan ingatan yang menjadi hambatan.

Tiga bulan lebih sebelas hari di site yang terisolir membuat saya menjadi pasif terhadap seni. Karena kegiatan yang dikerjakan hanya berulang-ulang. Bahkan hari senin pun terus berulang setiap hari. Tidak ada hari selasa dan seterusnya hingga minggu. Hari minggu yang seyogyanya meliburkan segala aktifitas pun diubah menjadi senin yang bengis. Makanya hari senin ini menjadi musuh utama saya di site ini. Tapi dalam segala negatifitas selalu ada positifitas yang muncul. Setidaknya sisi positif yang saya ambil adalah saya bisa menafkahi diri sendiri (dan sebentar lagi menafkahi wanita yang melengkapi langkah-langkah saya selama 8 tahun menjejakkan kaki).

Beberapa hari yang lalu di sela kesibukan di lapangan, saya sempatkan untuk menghubungi orang tua. Menanyakan kabar dan menyiarkan kabar saya di sini. Karena perbedaan waktu 2 jam antara lokasi saya kerja dan keluarga di rumah, komunikasi agak sedikit kurang lancar. Di pagi itu, selain membicarakan tentang acara di tanggal 22 Desember, Ibu saya bercerita panjang lebar. Mengenai aktifitas beliau sehari-hari yang sempat mengeluarkan buliran air mata yang setengah mati saya coba bendung. Beliau bercerita bahwa setiap hari jika ada acara yang melibatkan beberapa rekan kerja beliau, beliau selalu bercerita yang pada intinya bangga kepada anak satu-satunya yang bisa membuat bangga kedua orang tua. Hingga sempat beliau bercerita pada salah satu saudara di Jakarta hingga beliau berlinang air mata. Di detik itulah saya dengan setengah mati menahan buliran air mata yang siap tertumpah. Di detik itu pula saya merasa bahwa perjuangan yang dilakukan kedua orang tua saya tidak sia-sia. Tentu saja apa yang saya capai ini belum bisa membayar apa yang kedua orang tua saya perjuangkan untuk saya selama ini. Dua-puluh-tiga tahun ditambah 9 bulan beliau membesarkan saya tanpa saya tau betapa susahnya mencari uang untuk menghidupi saya. Mungkin pada titik inilah seorang anak mulai mengukir senyum pada kedua orang tua tanpa mereka pinta. Dan saya juga akan terus berusaha membuat bibir mereka menyunggingkan senyum selalu sebagai tanda keberhasilan didikan mereka kepada saya.

Ini adalah sebuah ungkapan yang saya yakin semua anak akan dengan malu untuk menyampaikan rasa cintanya kepada kedua orang tua. Dan saya yakin bahwa Tuhan Semesta Alam membaca dan mendengar setiap untaian doa yang tercurah dari dalam benak setiap anak kepada orang tua mereka. Jika boleh saya memohon, wahai Tuhan Semesta Alam, berikanlah saya waktu untuk bisa membuat mereka tersenyum kepada dunia. Bapak, ibuk, saya mencintaimu.

                                                                                                                Obi, 14 Desember 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *