Efisiensi

Beberapa bulan lalu muncul rumor tentang akan adanya pemulangan karyawan besar-besaran, atau yang biasa kami sebut ‘efisiensi’. Beberapa bulan lalu kami juga optimis bahwa kami akan bisa selamat dari sesuatu yang sama sekali tidak kami inginkan. Beberapa bulan lalu juga kami masih merasakan bekerja di bawah sinar rembulan lalu terlelap saat awan tersapu mega jingga dan terjaga saat bulan kembali mengangkasa. Dan hari yang beberapa bulan lalu menjadi bahan cakap kami sudah tiba. Tanggal 15 Januari 2014, walaupun pada kenyataannya agak sedikit maju. Ya, pada tanggal 12 Januari 2014 ini, perusahaan tempat saya mencangkul mendadak sepi. Padahal, sebelum saya meninggalkan pulau ini untuk sejenak menengok keluarga di rumah, jalanan tak beraspal ini tak pernah absen dari lalu-lalangnya Hino bermuatan mineral alam ataupun LV yang sekedar berpatroli. Nampaknya pemerintah Indonesia sudah tidak mau lagi memberi toleransi kepada pengusaha ‘eksploitasi bahan mineral alam’ untuk memasarkan hasil alamnya dalam bentuk mentah. Kebijakan ini tak lain bertujuan agar Indonesia tidak ‘dibodoh-bodohi’ negara lain dengan menjual bahan mentah alam kemudian membelinya lagi dengan harga yang jauh dari harga jualnya. Kebijakan ini pula yang membuat beberapa perusahaan ‘eksploitasi bahan mineral alam’ menjadi kalang kabut. Hingga ber-efek kepada pemberhentian, yang katanya, sementara demi menghemat biaya yang dikeluarkan untuk hasil yang jauh di bawah rata-rata. Ya, prinsip ekonomi kembali berlaku di sini. Dua minggu yang menjadi pemisah antara aktif dan pasifnya sebuah keadaan.

Ada rasa kehilangan yang ber-efek pada rasa malas untuk memulai hari baru. Selain memang tidak ada yang akan dikerjakan di hari itu, juga karena ikut perginya Amang dari site, salah seorang operator exca beristri empat dimana semua istrinya saling tahu tentang statusnya dan lokasi tinggal istri-istrinya yang saling berjauhan, yang sehari-hari bisa menjadi Opera Van Java atau YKS-nya Enviro. Biasanya dengan obrolan ringannya yang selalu entah mengapa berhasil membuat tawa kami tergelak, mengawali aktivitas yang telah menanti. Namun, walau begitu ia pekerja yang bisa diandalkan. Kalau kata Pak Mufti, pekerja seperti ia lah yang bisa membuat atasan demi atasan tertidur pulas. Karena penguasaan alat serta disiplin kerjanya yang optimal. Kini semua alat berat yang biasanya beradu raung dengan suara-suara yang berteriak lewat frekuensi radio sudah berjajar rapi di tempat parkir kendaraan sepanjang hari. Lengan-lengan raksasa yang biasanya nampak perkasa diturunkan hingga beradu dengan tanah, nampak terkulai lemah. Semua dirundung duka, bermuram durja.

Bagi kami, pengawas secara umum, ada sisi untung yang bisa kami paksakan. Karena dengan sistem pembayaran All-in­, justru lebih menguntungkan. Meskipun jam kerja direduksi dan hari kerja yang berkurang sehari, kami tetap mendapatkan upah sesuai perjanjian awal dengan perusahaan. Tapi di sisi lain, kami merasa iba dengan rekan-rekan yang menjadi korban dalam ‘tragedi’ ini. Seperti makan buah simalakama, lanjut kasian putus juga kasian. Lanjut, artinya mereka tidak dapat lemburan yang besarnya bisa dua kali gaji pokok, dan kalau putus malah tidak dapat sepeserpun setiap bulannya.

Jadi apa yang harusnya dilakukan?

Kalau merasa masih punya cicilan, ya harus disiplin kerja walau dalam kondisi apapun. Dan jangan lupa pakai APD biar terhindar dari debu saprolit, limonit, dan nikel yang bisa membuat ke-pitak-an serta kebotakan.

Obi, 15 Januari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *