Papuma

Gaya Fenomenal Kanda Regy

Hari Minggu yang lalu, saya berkesempatan untuk pelesiran raya ke Jember. Papuma menjadi tujuan saya. Sebuah pantai yang dulu sempat eksotis, ya itu dulu. Sekarang sejak dikenal namanya, pantai ini sudah ada indikasi-indikasi pencemaran. Yang namanya manusia, jejak yang ditinggalkan tidak lain adalah sampah.

Perjalanan yang kami tempuh cuma menghabiskan waktu 2 jam dari pusat kota Jember. Tentunya dengan kecepatan yang masih memungkinkan untuk melihat beberapa aktivitas di pinggir-pinggir jalan. Akses jalannya lumayan, walaupun tidak bagus-bagus amat. Setiba di persimpangan menuju watu ulo dan papuma jalan mulai tidak bersahabat. Apalagi saya bawa motor matic, berboncengan, besar-besar pulak. Suspensi jadi tak terasa. Maklum lah, karena akses jalan ke Papuma ini jadi satu dengan akses jalan Perhutani untuk perawatan sampai penebangan jati di area itu. Sempat saya tanya pada teman kenapa tidak diperbaiki saja. Takut banyak maling kayu katanya. Jati memang komoditas kayu pertama di jawa. Oke kembali ke topik perjalanan. Setelah kami melewati jalan aspal rusak dengan lebar minimal, kami tiba di pintu masuk. Tiket per orang dikenakan 15.000 dengan karcis motor 2.000 perak. Jadi dua orang berboncengan mengendarai motor kena biaya 32.000 perak. Cukup terjangkau lah.

Tak terlalu jauh dari pintu masuk, kami sudah tiba di Pantai Papuma yang mulai terkenal itu. Saran saya, pas di bukit sempatkan ambil beberapa gambar pantai dari atas. Cuma kendalanya tidak ada lokasi bebas untuk motret. Masih banyak jati di pinggiran tebing yang mengganggu pemandangannya. Setiba kami di TKP, kami merasakan udara pantai yang panas-panas asoy. Memang pantai yang indah, tapi itulah kekurangannya, semakin dikenal maka akan semakin kotor tempat itu. Apalagi di Indonesia.

Tak banyak gambar bagus yang saya dapatkan waktu itu, karena memang waktunya tidak mendukung. Sunset pun tak saya dapat. Mendung cuy, tapi tak apalah. Rasa penasaran saya sudah hilang pada Papuma. Setidaknya ada jejak saya di pantai ini. Nanti pasti saya kembali ke sini, saat kamu tak lagi eksotis.

Oiya, alasan pertama saya kesini sebenarnya pengen niru gaya foto Kakanda Regy yang fenomenal. Hihihi

Bondowoso, 21 November 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *