Pertemuan

Kita pernah duduk berhadapan, tepat di meja ini, kamu dan aku.

*****

Adakah yang lebih indah dibanding senyumanmu di pagi itu?

“hai, kenalkan nama saya Sifa, karyawan baru di sini” sambil memajukan tanganmu.

Aku tergagap, atau mungkin terkesima, “I iya, Akbar, Akbar Nusantara…” kalimatku menggantung.

“cukup nama panggilan aja mas..” jawabmu sambil terkikih.

Mungkin saat itu kamu menangkap kebodohanku.

“tapi namamu bagus, aku suka” lalu kamu melenggang pergi meninggalkanku yang masih gagal paham pada situasi ini.

*****

Angin malam terasa begitu menusuk, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Ah, memang cuaca semakin tak menentu, gumamku. Jenuh yang kurasakan membuat aku teringat pada Sifa. Gadis yang membuatku bertingkah amat bodoh pagi itu.

Aku beranjak dari kursi, menaiki motor bututku, menuju Coffee Shop agak ke tengah kota. Menghilangkan kejenuhan. Kafe favoritku, tempatnya tenang walaupun dekat dengan kota. Nampaknya orang mulai malas menjamah ketenangan. Kebanyakan menikmati malam di Mall. Apa yang menarik dari dinding beton bersekat yang dipenuhi aneka barang berbandrol, pikirku. Ah, mungkin mereka adalah produk ke-apatis-an zaman.

“mas, biasa ya, jangan manis-manis” kataku pada pelayan yang sudah fasih dengan parasku.

Aku mengambil tempat agak ke ujung. Aku selalu suka dengan lokasi ini. Mungkin karena bisa memandang bebas tanpa halangan apapun. Sejenak aku beranjak ke meja kasir untuk membeli sebungkus rokok. Saat itu aku melihatmu, lagi. Ah Sifa, kataku spontan. Entah suaraku terlalu keras atau telingamu yang terlampau tajam sehingga kamu membalas sapa padaku. Kebodohan yang terulang. Yang kuingat hanya keterkejutanmu yang amat polos.

“Eh ada mas Akbar, suka ngopi juga ya mas?”

“Em iya suka, kamu juga suka ngopi?” hanya mengulang pertanyaan yang sama. Autis.

“Iya mas, cuacanya cepat berubah, obat dingin mas” katamu sambil mengembangkan senyum.

Malam itu kamu lebih menawan. Switer biru dongker dan kerudung hitam. Tapi ada yang berbeda dari kamu malam itu, senyummu lebih manis mengembang.

“Mas Kopi satu ya, jangan terlalu manis”

“Selera kita sama” kataku lirih. Untung tak sampai terdengar olehmu.

Aku mengajakmu duduk bersama. Kamu setuju. Sungguh aku takjub padamu, pada kehidupanmu. Kamu terlalu berbeda. Dibanding siapapun. Aku mulai menyukaimu. Mungkin terlalu cepat jika dibilang mencintai. Aku baru mengenalmu beberapa hari. Aku mencandaimu, kamu tertawa, aku tertawa. Semua berjalan apa adanaya. Sederhana. Sesederhana tatapanmu. Nampaknya aku menyukai kesederhanaanmu. Aku menikmati senyummu.

*****

Senyummu mulai menjadi candu di malam-malamku. Candu yang berujung rindu. Ini salah, sangkalku. Aku sudah beristri. Jika cinta mulai mendua, masihkah ia suci? Tuhan, lepaskan istri dan anak hamba dari dosa-dosa hamba. Aku tak menyangkal, ada getaran rasa yang mulai merebak. Rasa yang tak pernah bisa ku cerna. Dan aku memilih untuk menikmati setiap detik menatapmu. Juga dengan sederhana. Dengan tatapan mesra.

Menatapmu menjadi rutinitasku sehari-hari. Tak berharap lebih, cuma menatap senyummu saja. Ya, senyummu saja. Karena hanya itu yang aku bisa. Hari-hariku menjadi lebih berwarna karena kehadiranmu. Aku mulai terbiasa dengan dosa yang ku buat. Entah sampai kapan. Aku percaya setiap tempat memiliki jejak, dan disini senyummu mulai merebak.

*****

“Aulia Falasifa”

Baru aku tau nama lengkapmu saat berpisah denganmu di kafe itu. Pertemuan yang tak disengaja. Kencan yang tak disengaja. Kencan pertama dan satu-satunya.

*****

Kita pernah duduk berhadapan, tepat di meja ini, kamu dan aku. Ada yang berbeda saat ini. Kamu tidak lagi hadir, hanya bayangan senyummu. Di hadapan secangkir kopi, yang tak terlalu manis.

[AAC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *