Di Tiga Purnama itu, aku menunggu.

indexSore itu mendung menyelimuti sebagian kotaku. Beberapa kali petir menyambar apa yang sekiranya sampai ia jangkau. Angin kian kencang menyapu dan mengejar tubuh-tubuh yang berlarian meneduh, layaknya lomba maraton. Aku memandang ke ujung jalan, lalu melirik jam yang bersimpuh pada pergelangan tangan kiriku. Padahal masih jam 4 sore, tapi langit seperti tak sabar menjemput malam, batinku. Aku masih duduk sendiri di teras sebuah warung langgananku. Sambil secangkir kopi yang berdiri di sampingku. Kopi seperti biasanya, tak terlalu manis. “Manis membuat kopi tak lagi apa adanya, tak lagi sederhana” kata-kata itu terngiang di telingaku. Aku masih tak henti memandang ujung jalan, berharap kata-kata itu terulang lagi hari ini, langsung melalui dua bibirmu yang mengecap. Sesosok bayang tertangkap pandangku. Tapi aku tau, itu bukan kamu, yang sedang ku tunggu.

Rintik hujan pertama menemani kesepianku. Suara tanpa nada, menghujam atap seng, bergelontang.

“Mas, mlebu rene lo” (Mas, masuk ke dalam sini) kata penjaga warung itu.

Inggih bu, sekeco dateng ngriki, asrep” (Iya bu, enakan di sini, udaranya sejuk) jawabku sekenanya.

Engko masuk angin lo mas” (Nanti masuk angin lo mas) sahutnya lagi, kali ini tak ada tanggapan dari bibirku.

Aku masih mengingat janjiku padamu. Setiap jeda dua purnama, aku akan menunggumu di sini. Kamu mengangguk. Tanda setuju atau tanda ragu, aku tak begitu mengerti. Aku tak sehebat Mama Laurent perihal menebak kata hati. Aku hanya menangkap mimik wajah pasrah padamu. Dan itu sudah cukup mewakili jawaban “Ya” yang ku mau. Setelah berjabat tangan denganku, kamu pergi menyisiri jalan. Pulang, katamu. Aku melepasmu dengan haru, sekejap aku bisa melihat jalan yang kamu lalui dari tinggi yang ku lalui. Namun tak mampu aku melihat dirimu di antara banyaknya manusia yang melewati jalan itu. Dan sekarang, Tiga Purnama pertama yang kujanjikan padamu.

Aku kembali melirik jam yang setia berdetik. Sudah dua jam aku menunggu. Tapi kamu tak kunjung nyata. Aku mencoba mengingat, apakah aku salah hari? Benarkah ini purnama ketiga tahun ini? Atau kamu sengaja menghindariku? Atau kamu sudah pergi? Kalaupun kamu pergi, apa susahnya memberi kabar padaku? Dan segera berjuta atau muncul menghantui pikiranku. Aku mencoba menelisik pada Si Penjaga Warung, mencari pembenaran prasangkaku.

Iyo nak bener, saiki malem 15” (Iya nak betul, sekarang malam purnama)

Tidak mungkin aku salah menunggu, jalan ini adalah jalan yang selalu kamu lewati selepas kerja. Kamu bilang ini jalan favoritmu, tak terlalu ramai. “Bisa sedikit nyantai, gak perlu harus saling salip menyalip. Dan yang penting bisa menikmati purnama setiap tanggal 15 nya” masih teringat katamu sore itu selepas kerja.

Kamu amat senang melihat purnama. Karena di malam purnama, kamu bisa bebas berlarian sambil membentangkan tanganmu tanpa takut harus tersandung. Sinarnya akan menjaga malammu tetap indah, bagiku sinar purnama akan menjaga pandangku menikmati parasmu.

Suara adzan membuyarkan lamunanku. Langit masih memercikkan air surga, tapi dengan intensitas yang sedikit berkurang. Semburat cahaya oranye mulai menggeliat menampakkan keindahan di perbatasan langit dan bumi. Sedikit menghiburku. Nampaknya Tuhan ingin memberiku harapan. Aku akan menunggumu hingga purnama tenggelam, tekadku.

Aku tak begitu memerhatikan berapa kali orang-orang keluar masuk warung ini. Yang jelas, aku hampir menghabiskan puntung ke delapan belas sejak aku memesan kopi tadi siang.

Jarum jam menunjukkan angka 9. Aku sedikit gontai, dan aku melihat bayangmu datang menghampiri penantianku. Hanya bayangmu. Kali ini Purnama menenggelamkan ragamu dan mengantarkan bayanganmu menujuku. Tanpa sepatah kata, hanya senyum terlukis, mengiringi rongga nafasku yang semakin sesak. Warung itu mendadak ramai, ramai memperbincangkan aku yang tergeletak di lantai.

“Aku masih menunggumu, di Purnama ketiga.”

[AAC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *