PERGI

indexMalam ini aku ingin melihatmu menangis. Aku ingin mendengar kejujuran dari hatimu. Berharap kamu sangat kehilanganku.

***

Rintik hujan menghiasi sore yang indah. Mendung tak kuasa menyembunyikan semburat kekuningan di antara gegunung yang melingkari kota ini. Hujan rintik menimbulkan keanggunan tersendiri bagi sebuah senja yang tak bisa dimiliki oleh derasnya hujan. Lalu menjanjikan pelangi.

“Pemandangan ini tak lama lagi tak akan bisa kunikmati”, aku membatin.

Tak ada yang lebih syahdu untuk menikmati lembayung senja yang berhias rintik hujan kecuali dengan secangkir kopi. Tentu, yang tak terlalu manis. Manis membuat kopi tak lagi sederhana, tak lagi apa adanya. Dan kehadiranmu sore ini membuat secangkir kopi di hadapanku menjadi lebih bermakna.

Aku kembali bertatap denganmu di kafe ini. Kafe yang kamu sukai. Karena ketenangan yang ia miliki. Juga pada sepanjang jalan yang lurus dan tak terlalu riuh. Di sini, katamu, kamu bisa menikmati purnama tanpa ada yang menghalangi.

“Aku harus pergi”, aku merasakan kegetiran mulai menyeruak.

Aku mengambil nafas dalam-dalam, menghisap, tak lama asap mengepul dari mulutku. Mencoba melepaskan kegalauan melalui rongga paru. Sedikit kurasa ketenangan. Kembali ku pandang wajahmu, dalam ritme yang ku atur sendiri. Aku menikmati detik-detik menatapmu, memandangmu. Tentu dalam diam yang hanya ku mengerti.

“kenapa kamu cuma memandangku mas? Lalu tersenyum.” Suaramu memecah kesunyian.

Aku masih tak menjawab, masih menikmati wajahmu. Lalu tersenyum. Persis seperti apa yang baru saja kamu katakan.

Lalu kamu mulai bercerita. Seperti biasa, aku lebih banyak mendengar ceritamu sambil sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil darimu. Tiba-tiba aku melihat buliran air mata yang kamu tahan. Dengan setengah mati.

“aku selalu benci dengan perpisahan”, kali ini kamu mengalihkan pandang. Pada secangkir teh hijau di hadapmu. Tanganmu bergerak, memegang sendok mungil, lalu mengaduknya.

“bagiku, orang yang ditinggalkan akan merasa lebih kehilangan daripada orang yang meninggalkan” tambahmu. Aku mulai bergetar. Mengakui kebenaran dari kalimatmu.

“Nona, perpisahan adalah tujuan dari pertemuan. Begitu juga sebaliknya. Yakinlah, Tuhan akan mempertemukan kita kembali dengan cara yang tak pernah kita duga”

Kamu mengangguk pelan. Lalu aku melihat tetesan air dari ujung matamu. Tetesan berikutnya mulai mengalir di pipimu. Kamu semakin menunduk. Mencoba menutupi getar yang kamu rasakan.

Aku memelukmu. Mencoba membuatmu tenang. Tapi tangismu semakin meledak.

“Aku pasti sangat merindukanmu mas. Merindukan semua tentangmu, yang selalu ceria. Besok aku tak bisa melihatmu lagi” tubuhmu terguncang hebat. Pelukanmu semakin erat. Tubuh kita semakin rapat. Di tempat pertemuan pertama. Di meja yang sama.

“Nona, aku berjanji akan menunggumu di sini setiap jeda dua purnama. Pada jeda itu, keyakinan kita akan diuji. Dan aku tak pernah meragukan keyakinanmu.” Sambil ku angkat wajahmu. Kamu mengangguk lalu tersenyum. Mencoba menghibur diri, kurasa. Sambil jemarimu mulai mengusap buliran air mata yang tertumpah.

“Janji?”

“Pasti Nona, asalkan Nona setia menantiku.”

***

Malam ini aku ingin melihatmu menangis. Menangisi kepergianku. Dan tangismu malam ini mewakili jawaban keraguan atas rasamu padaku. Yang tak pernah kamu ucap.

Malam semakin larut, waktu semakin tak berpihak. Aku melepasmu di ujung jalan yang terpisah.

“terimakasih Nona atas malam ini. Sampai jumpa setelah purnama kedua usai.”

[AAC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *