Rindu yang terlarang.

imagesAdakah yang melarang rindu? Ku pikir tidak ada, kecuali kamu, Nona. Padahal aku sudah pernah bilang padamu, bahwa rinduku sama sekali tak mengharap balasan atau penerimaan. Cukup tersampaikan saja. Dan itu masih membuatmu melarangku untuk merinduimu? Juga pernah ku bilang, rinduku sederhana saja, cukup berbincang denganmu. Karena dengan begitu aku tau kamu baik-baik saja. Tak lebih.

“Jangan rindu padaku mas, kurasa aku tak pantas kamu rindui..” masih saja kuingat kalimatmu malam itu.
Aku tersenyum, atau lebih pada terkekeh.
“Jangan munafik nona. Jangan jadi munafik karena sudah menampik rasamu yang dengan setengah mati kamu sembunyikan” kataku tapi kusimpan dalam batin. Sambil aku menyunggingkan senyum padamu.
Aku tau bahwa kamu, Nona, juga mempunyai rasa padaku. Aku kembali terkekeh, disusul asap yang segera menyeruak membelah udara di atas kepala.
Lalu aku kembali menatapmu, mencoba mencari rasa yang kamu sembunyikan di balik senyummu yang selalu kurindu.
Kopi yang ada di hadapanku kini terasa hambar. Padahal kopi adalah salah satu minuman favoritku sebagai pelepas penat. Tak berarti.
***
Aku masih melamun di antara lantunan lagu dari biduan malam. Memandanginya. Menikmati senyuman genitnya yang semakin menggoda. Sampai sekarang aku tak pernah menghiraukan senyuman siapapun. Karena bagiku cuma senyummu yang bisa meluluhkan ku. Tapi kamu melarangku merindu.
Hahaha…
Aku menertawai diriku. Menertawai diri karena sudah 10 tahun ini aku mengharapmu. Dan kini aku tak pernah tau dimana kamu. Sejak pertemuan terakhir kita di kafe itu. Sejak kamu memutuskan untuk pergi. Sejak kamu melarangku untuk merindui.
Pernah aku bertanya alasan atas larangan rindu padamu. Kamu cuma diam, mencoba mencari pembenaran, kurasa.
“Tidakkah kamu jijik melihat pekerjaanku setiap malam, mas? Yang cuma mengandalkan tubuh. Cuma bermodalkan desah.”
“Nona, anjing sekalipun bisa membantu orang masuk surga. Padahal banyak yang jijik kepadanya.”
“Aku merasa tak pantas kamu rindui, mas. Tolong jangan rindu padaku. Kalau kamu ingin tidur denganku, kapan saja aku siap mas. Tapi jangan siksa aku dengan rindumu.”
Aku terdiam.
***
Aku bertemu denganmu dengan cara yang tak pernah ku duga. Di pojok kota kecil aku melihatmu. Menikmati kopi sendiri di ujung meja. Aku melihat sekitar, meja sudah penuh. Aku menghampirimu. Meminta ijin untuk bisa sekedar duduk dan menikmati kopi pesananku. Kamu setuju. Dan di malam itu, senyummu berhasil membiusku. Karena bagiku, cuma senyummu yang terasa tulus. Di balik pakaianmu yang minim.
Satu jam setelahnya, kita berakhir di ranjang. Keringatmu bercampur dengan punyaku. Kamu berpacu, mencari orgasme pertamamu. Lalu kamu memelukku, erat. Sangat erat.
***
“Nona, aku tulus merindumu. Jangan pernah samakan aku dengan pelangganmu. Aku tak pernah melihat seberapa kelam kehidupanmu,” ungkapan terakhirku padamu malam itu.
Kamu membalasnya dengan melenggang pergi. Berjalan menuju ujung yang tak sampai pandang. Lalu hilang.
Andai kamu tau, Nona, ketulusan rinduku menumbuhkan cinta. Yang sungguh kamu larang. Hingga saat ini aku masih sendiri, berkelana. Memasuki warung yang menjajakan tubuh di setiap kota. Tak tau sampai kapan, yang ku tau sampai aku menemukanmu. Dan berkata “aku rindu padamu”.

[AAC]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *