Bondowoso dan Beberapa Pelajaran Berharga

indexSetelah kurang lebih 3 bulan saya hidup di kota kecil ini, akhirnya saya meninggalkannya. Cukup singkat memang, dan sebenarnya saya masih belum puas tinggal di Kota nan damai ini. Puncak Ijen pun belum sempat saya cicipi. Yaa tapi mau bagaimana lagi, demi kehidupan yang lebih baik akhirnya saya kembali hijrah ke pulau seberang. Menyusul teman seperjuangan saya, Joko Lestari (Joko kok dilestarikan J), yang dua hari lebih awal meninggalkan Bondowoso. Interview bareng, sama-sama diterima, berangkat naik bus bareng, cabut juga hampir bareng. Koe koen koen..haha Banyak sekali kebersamaan yang berat untuk ditinggalkan. Apalagi saya banyak berinteraksi dengan teman-teman lapangan yang sangat luar biasa. Umur masih muda, rata-rata 1 tahun di bawah saya, tapi pencapaian mereka jauh melebihi saya. Malahan sudah ada yang punya usaha rental mobil pick-up sendiri. Gila. Juga teman-teman kantor yang sangat luar biasa. Banyak pelajaran dan sharing pengalaman yang bisa memperbaiki keseharian saya. Pak Eka, beliau sama umurnya dengan saya, statusnya juga sama sebagai anak tunggal, sudah berkeluarga dan memiliki satu orang putra. Dari beliau saya belajar tentang kedewasaan dan managemen organisasi yang ajib. Sering saya diajak untuk sekedar ngopi di pinggiran alun-alun sampai larut malam. Mulai dari obrolan ringan sampai habis menertawai kekonyolan TMT. Dari beliau juga saya semakin percaya bahwa umur tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan. Pandu, teman satu mess saya, yang sempat agak slek dengan saya. Hampir kami baku hantam di jalan raya gara-gara bercanda yang berlebihan. Darinya saya belajar tentang pentingnya sebuah teman, dan bagaimana tidak enaknya berselisish dengan teman satu mess. Tapi mungkin kalau bukan gara-gara perselisihan waktu itu, lama-lama juga dia akan naik darah karena terkena bulian demi bulian yang saya lemparkan padanya. Hahaha. Joko, teman seperjuangan saya. Kami interview bareng, berangkat bareng, dan resign pun hampir bareng. Darinya saya belajar menyembunyikan kegilaan. Hahaha. Memang awal saya mengenal Joko, terlihat penampilan yang cool. Bahkan mantan manager kami, Pak Ari, menyebutnya sebagai sosok yang kalem saat ditanya oleh direktur. Anda khilaf Pak Ari. Dari Joko juga saya belajar tentang loyalitas tanpa batas. Walau habis uang yang dia pegang, kalau masih ada sebatang rokok yang ia miliki, tak enggan ia menawarkannya. Dia teman rame saya kalau di mess. Kalau Pandu sama Mas udin lebih sering autis di kamar. Mas Udin, asisten manager yang lebih banyak pencitraannya. Hahaha. –5 menit berlalu- saya tidak bisa menemukan pelajaran apa yang bisa saya ambil dari Mas Udin. Peace mas. Dia gigih mengejar cintanya sampai ke Mimbaan, area kerja saya. Dengan Bu Sekdir. Dan saya gak mau meneruskan bagaimana hubungan mereka, karena kalau sampai Bu Sekdir baca tulisan saya ini, saya bisa mati dimarahinya. Juga dari teman-teman seperjuangan di sana yang gigih memperjuangkan argumen ilmiahnya di hadapan Profesor yang menurut mayoritas orang agak-agak nyleneh , selamat berjuang terus. Buat Harfam bangga memiliki kalian. Kalian luar biasa. Bondowoso yang tentram, suatu saat nanti saya pasti akan mengunjungimu. Masih banyak kenangan yang ingin saya bangun di sana. Bahkan belum juga sempat saya berfoto di Monumen Gerbong Mautmu. Sampaikan salamku pada mekaran bunga yang membuat candu, sampaikan terimakasih karena sudah member inspirasi dan ide yang membuat saya menelurkan karya sastra selama duduk di pojok kursi sambil menikmati kopi original dan beberapa menu platter yang saling susul. Selamat tinggal Bondowoso. [AAC]

One thought on “Bondowoso dan Beberapa Pelajaran Berharga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *