Perjalanan

Malam begitu cepat menyelimuti surya. Di sore yang sudah menuju mati, kepakan kelelawar mengganti dominansi sayap-sayap merpati yang mulai lelah. Lalu berputar segerombol, membentuk pusaran angin kemudian memisah. Mereka menjadi pertanda bahwa gelap sudah berkuasa. Guguran daun di reranting pohon mulai samar terlihat. Jatuh terlampau jauh disapu Sang Angin. Pergi tanpa arah.

Sebuah taman di tengah kota mulai terlihat sepi. Kering kerontang. Warisan yang ditinggalkan terik siang. Angin pun enggan membawa kesejukan, hanya mengibaskan udara panas. Meratakan setiap sudut kota. Embun yang tersisa terlihat gontai, menguap dan pasrah membaur bersama angin senja. Di musim begini, orang-orang enggan untuk keluar rumah. Karena angin membawa ancaman penyakit. Ataukah mereka yang teramat lemah, hingga menyerah oleh siraman hawa duniawi. Gerombolan muda-mudi bisa dihitung jari. Datang, lalu menyepi. Meninggalkan tunggangan di pinggir-pinggir jalan yang remang. Lalu hilang di antara rimbun semak yang mengalangi pandang.

Di sebuah kursi memanjang, duduk seorang pria sambil menghisap rokok kesukaannya. Kretek. Baginya, rokok kretek murni adanya. Tidak ada sekat yang memisahkan tembakau kering dengan bibirnya yang menghitam. Agak lama ia duduk dan terdiam di kursi itu. Mengamati aktivitas masyarakat kota yang baginya memuakkan.

Ia berdiri. Sedikit memutarkan pergelangan kaki. Lelah tak pernah ia rasa, mungkin ia sudah terlalu lelah untuk merasa. Hingga lelah sudah tak ia hiraukan. Ia berjalan ke arah pusat kota sambil menghisap rokok kretek kesukaannya. Setelah beberapa jalan ia lalui, ia masuk ke dalam jalan menyempit hampir di bibir kota. Di ujung jalan, gemerlap lampu mulai terlihat. Menyala, menggantikan surya yang sudah setengah hari berkuasa. Rentetan mobil memanjang, mencoba menerobos jalan yang sudah tak mampu menampung mereka. Sambil sesekali suara klakson berbunyi. Seakan melotot dan memaki.

Pemuda itu memilih untuk diam di pinggir jalan ramai itu. Ia melihat seorang perempuan muda keluar dari mobil. Tak sabar menunggu antrian mobil yang tak kunjung tiba di tujuan. Bajunya merah menyala, tanpa lengan. Dengan rok yang hampir menyentuh ujung bokongnya, perempuan itu melenggang. Tak dihiraukan pandangan penuh nafsu yang menuju padanya. Seperti menantang, perempuan itu menyibakkan rambutnya yang panjang menutupi punggungnya. Memamerkan leher jenjangnya yang putih bersih. Pakaian yang ia gunakan memperlihatkan punggungnya yang tanpa cela. Dadanya menyembul bergoyang tak mau kalah dengan irama langkah kakinya. Si pemuda terus memandanginya penuh heran sampai si perempuan hilang di sebuah gedung klub malam.

Desiran angin tak membuat langkah Si Pemuda gemetar. Ia terus berjalan meyusuri kota yang dipenuhi dengan kehidupan hedonis para manusia yang lupa tujuan. Tak jarang ia temukan beberapa penguasa negeri berjalan, mengendap, masuk ke sebuah klub malam yang namanya sudah mendunia. Lalu setelah beberapa lama, keluar bersama wanita yang dengan mesra menggandeng lengannya.

“Mau dibawa kemana negeri ini kalau penguasa hanya bisa membuat citra. Di depan media mereka berteriak, memaki, dan melaknat tempat-tempat prostitusi. Tapi di belakang, mereka menjadi penikmat dunia yang ia larang.” Ia tersenyum nyinyir.

Pemuda itu kembali mengayunkan langkah. Tapak demi tapak yang ia jejakkan menyimpan harapan. Harapan yang mulai ia ragukan. Masihkah ada orang-orang yang masih memiliki hati nurani di negeri ini?

Pada ujung langkah yang ia tapaki, ia melihat perkelahian. Perkelahian antar gelandangan. Salah satu dari mereka merebut robekan kardus lusuh bekas susu milik yang lainnya. Lama perkelahian itu usai, dengan menyisakan yang kalah. Si Empunya kardus tersungkur sambil memaki seadanya. Di zaman ini, kalah berarti pecundang. Bahkan untuk golongan gelandangan, masih ada pecundang. Sang Pemenang tersenyum senang walau ia tak yakin tenang melewati malam. Takut Si Pecundang kembali datang di tengah tidurnya. Merebut kembali robekan kardus yang hanya bisa mengalasi setengah punggunya.

Si Pemuda menelan ludahnya yang memahit. Bahkan di golongan gelandangan pun terjadi keserakahan. Bukan hanya di kelas penguasa, kelas manusia berdasi. Bedanya, perkelahian antara orang berdasi tak mencolok dipandang publik. Hanya permainan politis yang mereka mainkan, mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, lalu bibirnya kembali diolesi gincu sebagai pemanis pandang. Merekayasa keadaan, membuat pencitraan, dan menutup kebenaran. Lalu menulis ulang sejarah, mencuci kembali dasi mereka dari tetes demi tetes air mata rakyat. Setidaknya itu yang terlintas di pikiran Si Pemuda.

Di sebuah warung kecil di pinggiran kota, ia singgah. Memesan secangkir kopi hitam sebagai obat rasa asam yang mulai menguasai mulutnya. Tak banyak ia berbicara. Ia jawab sekenanya beberapa pertanyaan yang tertuju padanya. Si Pemuda ingin lebih banyak mendengar. Mendengar, baginya lebih terasa nyaman dibanding harus berbicara. Berbicara, membuat hatinya tertutup oleh prasangka yang ia buat sendiri. Lalu akan menganggap bahwa kebenaran hanya menjadi miliknya, semua pendapat orang akan salah dibuatnya. Ia sungguh menghindari itu.

Samar Si Pemuda mendengar obrolan para penjaja di warung tempat ia singgah. Tiga orang berpakaian serba putih tertawa cekikikan di depan secangkir kopi yang mengepul. Dari pakaiannya, Si Pemuda menyimpulkan bahwa mereka adalah pemuka agama. Dan dari obrolan demi obrolan yang mereka lontarkan, Si Pemuda kembali kehilangan harapan. Dulu, sempat ia berpikir bahwa orang yang berjalan di jalan Tuhan, akan termuliakan. Tepat di malam ini, harapan itu pupus. Tiga orang pemuka agama itu sedang membicarakan upah yang mereka dapat dari hasil ceramah keagamaan. Bahkan dengan terang-terangan, salah seorang dari mereka berkata “dulu pernah saya disuruh datang dan memberi ceramah, tapi saya tolak karena upahnya gak sesuai” lalu disusul gelak tawa dua orang lainnya. Agama dijadikan ladang mencari uang.

Setelah ia rasa cukup, Si Pemuda segera meninggalkan warung kopi itu. Meninggalkan para manusia yang hilang arah. Kembali berjalan, berkelana. Tak bosan dia mencari nurani yang sudah lama hilang dari manuia-manusia yang ia temui.

Lama sudah Si Pemuda berkelana, hari-hari pun sampai tak ia ingat lagi. Kini langkahnya berpijak pada hamparan tanah becek. Jauh dari keramaian. Tak mendengar ia berbagai kebisingan yang selama ini menjadi hal yang wajar di kota besar. Hanya nyanyian tonggeret yang memasuki rungunya. Ditambah dengan kicauan burung-burung liar yang menari, berloncatan dari dahan ke dahan. Kadang burung-burung itu berkejaran, lalu berdua mereka memisah. Memadu kasih di antara dedaun yang hijau indah. Di balik daun itu ada gumpalan ranting yang mereka buat, dan di dalamnya burung-burung kecil menyambut orang tua mereka dengan menyodorkan paruh mungilnya. Tanda ingin dimanja. Pemandangan itu membuat perasaan Si Pemuda perlahan menjadi damai. Lalu tersungging senyum yang sudah lama tak ia lakukan.

Si Pemuda meneruskan langkah. Mendaki bukit, menuruni lembah, hidup di antara alam yang pasrah. Baru saja Si Pemuda ingin menikmati segarnya mata air yang jatuh dari ketinggian, ia melihat ada sekelompok masyarakat adat yang sedang membakar ubi di pinggir sungai. Mereka menyapa Si Pemuda dengan tersenyum dan mengangguk. Tetua kelompok melambaikan tangan padanya agar mau ikut bergabung menikmati hasil panenan mereka. Si Pemuda merasa kehangatan keluarga terlukiskan di antara masyarakat adat yang baru ia kenal. Diajaknya Si Pemuda untuk mampir ke desa mereka, sekedar melepas lelah. Si Pemuda setuju, mereka berjalan kembali. Menyusuri jalan setapak yang sering mereka lewati. Tak lama, mereka sudah sampai di desa adat.

Si Pemuda mengamati kehidupan di desa itu. Hatinya sungguh tergetar. Di sini, para penghuninya begitu ramah. Senyuman demi senyuman menyambutnya kala ia manginjakkan kaki di depan gerbang kayu sederhana. Si Pemuda pun kembali membalas senyum. Senyum adalah bahasa universal. Semua suku bangsa mengenal senyum sebagai tanda keterbukaan.

Pemuda itu menemukan apa yang ia cari di sini, di desa adat yang jauh dari kemoderenan. Mereka masih menjunjung tinggi nilai luhur. Tidak ada hukum tertulis yang mereka buat, tapi itu tidak membuat mereka terlena, hidup suka-suka. Mereka merasa memiliki satu dengan yang lain. Jika ada satu keluarga mendapatkan hasil panen, selalu mereka bagi dengan tetangga sekitar. Berapapun besarnya, mereka selalu berbagi. Tidak ada agama yang mereka peluk. Tapi sungguh, kebaikan hati mereka mengalahkan para pemuka agama yang sering muncul di media-media elektronik. Yang kebanyakan hanya berkedok dan bermodal bicara. Terbesit pertanyaan di pikiran Si Pemuda, apakah mereka, masyarakat adat yang baik hatinya, akan merasakan panasnya neraka gegara tiada agama yang mereka peluk? Akankah Tuhan murka kepada mereka? Ah, bukankah Tuhan selalu mengajarkan kebaikan lewat kitab-kitab yang Dia turunkan? Bukankah masyarakat adat ini memiliki hati yang murni? Tidak mungkin Tuhan sekeji itu. Baginya, masyarakat adat ini lebih pantas menikmati surga yang telah Tuhan janjikan ketimbang mereka, para masyarakat kota yang sudah hilang nuraninya.

Si Pemuda memutuskan untuk menghentikan langkah kakinya berkelana. Di sini dia menemukan jawaban berbagai keresahannya. Ia memutuskan untuk tinggal, bahkan mati di desa ini. Menyerahkan raganya di tanah yang suci. Bersih dari berbagai kemunafikan manusia.

“Tuhan, sujudku padamu hari ini serta terimakasihku atas segala berkah yang telah Engkau beri. Bukan materi, tetapi pemberianMu atas kegigihanku serta kekuatanku untuk tetap memiliki hati hingga aku menemukan tujuan hidupku di alam nan permai ini. Terimakasih Tuhan. Engkau, Tuhanku Yang Maha Baik.”

Nunukan, 20 Januari 2015.

[AAC]

4 thoughts on “Perjalanan”

    1. ahahaha…gak se ekstrim itu juga keles…dasar idenya sama, tapi perjalanannya yang beda…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *