Drama di Besakih

BesakihSebelum saya mulai nulis, ini termasuk #VeryLatePost kalo misal kita upload gambar ke Instagram. Tapi gapapa, biar telat daripada sama sekali enggak. Pepatah kok dibolak-balik.

Oke, saya mau cerita pengalaman tentang Besakih. Bali. Saya sempat mengunjungi Besakih pas bulan madu tahun kemarin. Tepatnya setelah efisiensi. Tapi waktu itu kantong masih lumayan tebel jadi pas jalan bisa agak angkat dagu dikit, sambil ngasi senyum-senyum dikit. Saya mengunjungi Besakih di hari kedua bulan madu. Rekomendasi tempat ini dari, lagi-lagi, Kanda Regy. Katanya tempat ini ajib, kalo ke Bali jangan sampe gak mampir. Kata si doski dengan wajah serius. Saya sih langsung percaya, melihat pengalaman travelling nya yang sudah kemana-mana. Saya tiru kata-kata Kanda Regy ke istri saya, tentu dengan semangat yang menyala-nyala dan meyakinkan.

“Nanti kalo mau ke Besakih sempetin berhenti di Bukit Kintamani, ambil foto-foto disitu, baru jalan ke Besakih.” Saya masih ingat kata-kata manis Kanda Regy waktu itu.

Akhirnya pagi benar, saya sudah siap-siap. Berbekal GPS Navitel di hape saya mulai tancap gas. GPS ini lah yang rasanya paling berjasa pas saya di Bali kemarin. Terimakasih yaa. Hehe. Oke, perjalanan dimulai. Nah di GPS itu saya setting untuk cari jalan alternatif yang lebih pendek. Di sebuah persimpangan, entah apa namanya saya juga gak hapal, kami di arahkan ke jalan yang melewati hutan. Saya rasa hutan itu masih alami. Karena kan kelihatan dari jenis-jenis pohon dan strata tajuk yang lengkap. Sempat saya suruh istri untuk mengabadikan momen itu lewat video. Nanti kalo nemu videonya pasti saya upload.

Kira-kira 2 jam perjalanan kami melewati jalanan berbukit yang mulai nampak kabut. Kintamani. Tapi rupanya tidak sesuai dengan kata-kata manis Kanda Regy. Soallnya lagi mendung. Jadi saya tidak sempat mengabadikan momen disitu. Istri sempat kecewa, tapi saya iming-imingi dengan keindahan Besakih. Oke perjalanan masih berlanjut. Berselang 2 jam dari Kintamani, kami sudah tiba di portal tiket masuk ke area Pura Besakih. Saya lupa berapa karcis masuknya. Dan rasa penasaran saya tidak lama lagi akan terbayar.

Tiba di pelataran parkir Besakih, para penjual kain sarung mulai teriak-teriak menawarkan dagangan mereka. Akhirnya kami singgah di salah satu toko kain sarung itu, dan segera disambut wajah sumringah si ibu ibu penjaga toko. Karena dengar-dengar dari pengunjung lain, nanti di dalam Pura wajib mengenakan kain sarung adat Bali. Hari itu Pura Besakih sepi pengunjung, karena lagi ada sembahyang masal umat-umat Hindu di Bali. Setelah pilih-pilih kain yang cocok kami langsung memakainya dan mulai berjalan masuk ke Pura. Belum sampai kaki kami menginjak gapura terdepan, kami dipanggil sama sekelompok orang di pos jaga. Kami datangi lah si orang itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Lalu kejanggalan pertama terjadi.

“Mas, ini kan mas mau masuk ke area pusat peribadathan umat Hindu, jadi unthuk masuk kesana mas wajib didampingi oleh Guide dari kami. Biar nanthi bisa full akses di dalam Pura.” Kata si pemuda dengan aksen Balinya.

Langsung saya jawab, “Oke fine, tidak masalah”.

“Nah unthuk jasa guide ini ada biayanya. Kami thidak menethapkan besarannya. Seikhlasnya saja, thapi sebagai conthoh thadi ada ngasi 500ribu, 1jutha pun ada.” Perasaan saya mulai gak enak. Apalagi isthri. Eh apa sih, istri. Mukanya langsung berubah.

Saya ngasi kode ke istri buat ngasi terserah aja lah, 50rb aja tapi. Hehe.

Akhirnya istri saya ngasi 50ribu. Drama pertama selesai. Kami berjalan didampingi sama Si Bli Guide. Baru saja saya masuk ke gapura depan, para tukang ojek langsung ngejar-ngejar kami. Saya sih awalnya cuek aja. Soalnya sudah biasa kan kalo tukang ojek sekalinya dibilang gak usah tentunya sadar diri, tapi lain tempat lain ojek rupanya. Berkali-kali saya nolak, mereka semakin gencar mengikuti kami, lama-lama pasang wajah memelas. Mirip kucing yang lagi nunggu makanan dari majikannya itu nah. Anjrit. Terpaksa kami pun mengiyakan. Soalnya kasian istri juga sih karena semalem kurang tidur. Kami pun mengojek dengan ceria. Kira-kira 5 menitan kami sudah sampai di gerbang masuk Pura. Dan kami langsung dikerumuni oleh penjaja bunga. Drama kedua terjadi. Kami dipaksa-paksa. Kami pun dengan sekuat tenaga menolak. Tapi tiba-tiba Si Bli Guide ngomong kalau nanti di Pura bakal dipake tuh bunga, untuk menghargai kepercayaan mereka katanya. Akhirnya saya merelakan 30ribu untuk dua ikat bunga dan dua batang dupa. Istri saya mulai masang wajah kurang nyaman.

Akhirnya kami memasuki Pura dengan susah payah. Begitu masuk pelataran Pura, Si Bli Guide langsung pura-pura berbaik hati untuk menawarkan diri jadi fotografer. Pasti dengan senang hati, kami kan sudah bayar. Setelah menjelaskan sejarah Pura Besakih dan beberapa Pura kecil di dalamnya, dia mulai beraksi mengambil gambar.

wajah ceria sebelum terjadinya beberapa drama
wajah ceria sebelum terjadinya beberapa drama
Jadi setelah setiap penjelasan dari Si Bli Guide, kami dipersilakan berfoto. Pengalih isu
Jadi setelah setiap penjelasan dari Si Bli Guide, kami dipersilakan berfoto. Pengalih isu

Disini rasa kesal saya agak sedikit berkurang. Istri saya kelihatannya juga sudah mulai lupa. Kami lanjut untuk berkeliling. Di sepanjang jalan saya sempatkan untuk bertanya-tanya ini itu. Pokoknya apa saja yang saya anggap menarik. Mungkin gara-gara itu juga, saya terlena dan masuk ke jebakan berikutnya. Di sebuah Pura kecil, kami dibelokkan sama Si Bli Guide. Dan kami disambut dengan senyum ramah bapak-bapak sesepuh di dalam Pura. Lalu seperangkat bunga dan dupa yang tadi saya beli, diambilnya. Tikar digelar. Dan kami dipersilakan duduk. Lalu si bapak sesepuh menaruh bunga tadi di wadah daun pisang, dan ditaruhnya di depan kami berdua. Katanya, kami diajarkan berdoa. Mungkin kalau di Agama Kristen, kami sedang di baptis. Drama ketiga pun dimulai. Kami diajarkan beberapa gerakan sembahyang. Di sebelah saya, istri mulai gelisah dan berbisik pada saya, “Yah, gapapa to? Nanti keluar dari sini udah beda keyakinan kan gawat”. Gak salah juga sih pikiran istri saya. Tapi demi menjaga perasaan dan menghargai kepercayaan mereka, saya pun meyakinkan istri. “Gapapa, kan Cuma caranya aja yang diajarkan, nanti kita tetep mohonnya ke Tuhan kita.”

Sembahyang

Setelah beberapa gerakan sudah kami lakukan, nampaknya sembahyang selesai. Sebelum kami beranjak, kami dipersilakan membawa wadah bunga itu ke bangunan Pura utama. Lalu tiba-tiba Si Bli Guide berbisik, “mas, biasanya orang sembahyang di sini selalu ngasi sesembahan uang unthuk ditharuh di athas bunga itu. Biasanya sih 100ribu, tapi lebih banyak lebih bagus”. Anjrit, sejak kapan Tuhan jadi komersil dan doyan duit, kata saya membatin. Sepertinya istri saya mulai sebel sama perlakuan Si Bli Guide ini. Dan dua lembar lima ribuan berlabuh di dua wadah bungan yang kami beli tadi. Dan Si Bli Guide dengan beraninya ngomong, “Cuma segithu mbak?Kalo ada ya 50rb gapapa” anjrit ni orang. Untung saya punya istri yang hebat. Istri mulai menunjukkan muka galak. “Enggak, adanya Cuma segitu, titik”. Wajah Si Bli Guide agak menciut. Saya tertawa dalam hati. Emang enak. Hahaha.

Kami disuruh berpose setelah ngasi sesembahan
Kami disuruh berpose setelah ngasi sesembahan

Perjalanan pun dilanjutkan. Saya kira Si Bli Guide ini sudah ndak berani untuk minta-minta sumbangan lagi. Rupanya saya salah. Di sepanjang perjalanan setelah tragedi sembahyang itu, Si Bli Guide mulai curcol. Katanya pemerintah setempat tidak mendanai perawatan Pura Besakih. Jadi para pemuda setempat berinisiatif untuk membentuk organisasi sendiri untuk merawat Pura Besakih. Salah satu sumber dananya ya dari sumbangan wisatawan di pos jaga depan itu tadi. Lalu si doski memasang muka memelas. Katanya, disitu banyak sekali guide, dan satu guide tidak setiap hari memalak bekerja, tapi ada jadwalnya. Jadi pemasukan buat para guide ini pun gak seberapa. Panjang lebar lah dia ngomong, saya dan istri sudah bisa menebak ujung pembicaraan ini. Akhirnya bener juga dugaan kami, di akhir perjalanan dia minta tips lagi ke kami. Kampret memang Si Bli Guide. Istri saya sudah tidak bisa membendung emosinya. Tapi saya salut sama usaha Si Bli Guide, gak punya malu. Hahahaha. Akhirnya saya menengahi dan menyuruh istri untuk ngasi seikhlasnya. Akhirnya karena kegigihan Si Bli Guide, istri saya menghadiahinya dengan tiga lembar uang sepuluh ribu. Dan disitulah akhir drama panjang kami di Besakih.

Di tengah perjalanan pulang, istri saya ngomong, “kapok saya ke Besakih”. Saya Cuma tersenyum saja sambil nyetir, dan setelah melewati gerbang karcis mobil, saya berkata “SAMA”.

***

Di tulisan ini saya tidak bermaksud untuk merendahkan Pura Besakih, saya justru tertarik karena sejarah Besakih yang luar biasa. Tetapi jujur saya merasa kecewa, karena image bahwa orang Bali itu baik-baik agak tercoreng oleh pelayanan di Besakih. Sedikit kritik gapapa kan ya? Kritik ini membangun kok. Terlepas dari benar atau tidaknya informasi dari Si Bli Guide, tentang lepas tangannya pemerintah untuk mengurus pura terbesar di Bali ini, alangkah lebih menyenangkannya kalau kejadian yang saya alami di atas tidak terulang.

***

Setelah sampai di penginapan, saya segera menghubungi informan saya. Dan bercerita tentang kejadian yang saya alami barusan. Dan yang saya dapat cuma, “hahahahaha”. SEMFUUUCK.

11 thoughts on “Drama di Besakih”

    1. Iyo eh..pokoke ojok coba mrono lah..wes akeh juga sing ngeshare ternyata neng internet tentang pungki besakih.

  1. Halo mas, saya mau ngasi tau. Saya ke besakih tahun 2014 dan saya mengaami kejadian yang sama seperti mas. Tapi bedanya waktu saya ditawari dupa,mama ngajari saya untuk bilang enggak. Dan yang lebih berkesannya lagi,bapak tukang ojeknya nanya2 hal2 yang nggak lazim sama saya. Sayangnya kesan tsb nggak baik. Mama saya kesana lagi 5 hari yang lalu dan katanya, emang warga nya yang nggak mau diajak kerjasama sama pemerintah. Semoga ini bermanfaat. Terimakasih.

    1. Iya mbak, yah semoga ke depan bisa diperbaiki biar wisatawan yang berkunjung tidak merasakan hal serupa. Terimakasih sudah mampir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *