Cerita tentang boneka lumba-lumba, biru muda.

boneka lumba-lumba, biru mudaAda cerita tentang boneka lumba-lumba, biru muda. Maukah kau mendengarnya? Akan ku dongengkan untukmu.
***
Riuh mulai terdengar dari gerbang sebuah sekolah di pinggir kali brantas. Dibarengi dengan tatapan matahari yang semakin galak. Panas. Tetapi tak sedikitpun mengurangi keceriaan para murid untuk menyambut kehidupan sebenarnya – kehidupan setelah sekolah. Bagi sebagian murid, sekolah hanya pengisi waktu senggang. Tak lebih. Tapi bagi sebagian lain, datang ke sekolah seumpama sore yang dijemput senja. Ada sesuatu yang membuatnya indah. Mungkin, Pemuda di pertigaan sana adalah salah satunya. Semenjak tadi, ia sudah berdiri disana. Berdiri dengan tatapan awas. Memandangi satu per satu tubuh yang mulai terburai keluar.
“Belum”, gumamnya lirih.
Ia menghampiri pondasi teruntuk tiang bendera, untuk bersimpuh. Lengannya setengah basah, menyeka peluhnya yang bersimbah. Ia masih setia, seperti setianya kemarin. Baginya, setia adalah pekerjaan terbaik. Walaupun ia tau, perempuan itu sudah memiliki pasangan. Pasangan setelah ketidakmampuannya menjaga cinta, dulu.
Siang itu, ia tak mau bersungut untuk merebut. Ya, seperti kemarin, setianya mengalahkan amarahnya, cemburunya. Ia masih awas kepada langkah-langkah yang mulai habis. Tak sempat ia kehilangan asa, sebab tadi ia sempat melihat tawanya di balik jendela. Saat langkah-langkah mulai meriah. Dan, penantiannya sirna. Ia melihat langkah anggun menapaki tanah pinggiran aspal yang berdebu. Diiringi pasangannya. Ia beranjak. Berdiri. Menghampiri.
“Aku ingin berbicara denganmu”,
Perempuan itu menatapnya. Tatapan yang sama sekali tak berubah. Tegas, mantap. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah menuju pertigaan tepat di selatan sekolah. Memandunya. Sebelum berbelok, ia berpaling, memastikan si perempuan mengikutinya. Ia menghentikan langkah, pada rumah pertama di selatan jalan. Ia menangkap tangan si perempuan, menggenggamnya. Lalu mencium punggung tangannya yang lugu. Tak lama.
“Aku masih mencintaimu, selamat ulang tahun”
Si perempuan tetap diam. Diam adalah bahasa si perempuan, dan ia sungguh mengenalinya.
Tak sampai setengah jam mereka berpandang. Saling memberikan pengertian. Lewat tatapan. Lewat pandangan. Pikirannya mengembara ke entah.
Dan, sekotak bingkisan beralih tangan. Si perempuan beranjak, melangkah tanpa berkata-kata. Kembali pada pasangannya. Kembali, bersama boneka lumba-lumba biru muda, di sebuah kotak yang terbungkus rapi.
***
Beritau aku tentang bagaimana cara membunuh waktu. Karena, di sebagiannya, aku tertinggal. Tiada mau melangkah. Tertinggal bersama boneka lumba-lumba, biru muda.

One thought on “Cerita tentang boneka lumba-lumba, biru muda.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *