Senja dan cerita yang mengawalinya.

Aku dan istriku, Senja, nampaknya memang benar-benar berbeda. Dalam segala hal, tak terkecuali dalam cinta. Beberapa kali kami saling meradang karena itu, dan selalu diakhiri dengan sesal bersama air mata sebelum tubuh kami saling menindih. Senja, seorang wanita yang terbiasa melakukan pekerjaan seperti umumnya, dan mejanya selalu rapi. Pikirannya tak pernah sempit kalau sudah berbicara tentang rencana, dan tentu dilengkapi dengan beberapa kekhawatiran tentang masa depan. Baginya, mungkin, dunia tak lebih dari perjalanan yang sedang bermain dengan peluang matematika. Sebuah perjalanan akan dijalani oleh beberapa orang yang hidup di waktu yang berbeda. Dan hidupnya kini, dia meyakini sudah ada yang menjalaninya sebelum ia. Sebuah miniatur dari reinkarnasi. Aku tak pernah menyalahkan pandangan Senja mengenai hidup. Ia selalu nampak serius dalam berbagai hal. Dan itu adalah sempurna versi Senja.

Kekurangan Senja ialah tak begitu tertarik dengan seni. Sejak pacaran, aku tau Senja tak begitu memahami puisi, walaupun dia suka saat aku buatkan puisi untuknya. Bahkan aku curiga dia tak pernah bisa bernyanyi, dan seharusnya ini tak boleh ku sampaikan, atau dia akan marah besar kepadaku. Kesimpulanku ini aku benarkan setelah beberapa kali Senja menolak saat aku memintanya untuk bernyanyi. Dulu, sikap Senja yang seperti ini membuatku jengkel. Bahwa Senja tak memahami puisi juga akhirnya aku yakini setelah dia marah besar saat aku menunjukkan beberapa bait puisi padanya. Dan itu hampir mengakhiri hubungan kami. Senja selalu mengaitkan puisi yang ku buat dengan beberapa wanita masa laluku yang pernah ku kisahkan padanya. Sejak saat itu aku mulai menyembunyikan beberapa kisah tentang wanitaku sebelumnya. Wanita-wanitaku sebelum Senja, katanya, berhasil membuat angka 3-0 untuk kekalahan Senja.

Tetapi di atas segalanya itu, yang membuat aku memilihnya, Senja adalah wanitaku yang tidak pernah mematahkan hatiku.

***

Aku dibesarkan di sebuah keluarga di pedalaman desa. Masa kecilku tak jauh berbeda dengan anak-anak pada masa itu, bermain kelereng, menerbangkan layang-layang, dan sesekali menangis karena dijahili kawan. Aku tak pernah bermain bola seperti sebagian besar anak lelaki di desaku. Luka sobek di sela ibu jari dan telunjuk kaki kanan membuat aku jera. Sebenarnya bukan karena sakitnya, tetapi karena larangan dari ibuku untuk bermain bola lagi. Itu adalah kali kesekian larangan ibu setelah sebelumnya tulang keringku mempunyai tanda baru berwarna biru. Memar. Karena bermain bola.

Aku besar bersama beberapa lirik lagu dari Ebiet dan Rano karno. Setiap pagi, suara bernyanyi ibuku bersahutan dengan suara tape yang diputar sedang. Aku mulai mengagumi beberapa bait di lagu-lagu pagiku. Sungguh puitis mereka. Cinta yang amat sederhana. Lalu menjelang sore, setelah pulang dari sekolah, aku diam-diam mengagumi lincahnya tangan Ayah memainkan wayang di beranda rumah. Dengan batang pohon pisang yang telentang, beberapa tokoh pewayangan berdiri dengan gagah di sisi kiri dan kanan. Dari sini juga aku mulai memahami karakter beberapa tokoh dari tempatnya berdiri, kanan berarti pahlawan, kiri berarti penjahat. Dulu, jauh sebelum itu, aku sering melihat pertunjukan wayang Ayah. Biasanya bulan Suro, Ayah sering ndalang di panggung desa-desa. Aku melihat tepat di belakang punggung ayah yang basah, lengkap dengan pakaian dalangku. Dan biasanya, belum juga setengah pertunjukan, aku sudah minta pulang bersama ibu. Aku tidak tau kenapa, ayah tidak pernah lagi pergi mendalang, mungkin karena terlalu banyak air mata ibu yang melarang. Aku tak pernah tau, dan memang hal itu tak terlalu penting untuk pikiran anak seumuranku.

Aku adalah anak yang tak mengenal malam, seperti anak-anak lain di desaku. Dulu, aku sangat ketakutan oleh gelap, oleh sepi, oleh sendiri. Aku merasa banyak mata yang sedang mengawasiku di kegelapan, juga suara bisik yang lamat kudengar di kesepian. Kelak, aku mengerti bahwa ketakutanku ini adalah sebuah ketertarikan yang menjelma.

Aku mulai mengenal malam saat aku mulai sekolah di Kota. Awal aku jatuh cinta pada senja, pada warna emasnya yang membuat bulir-bulir padi yang menunduk di sepanjang jalan merasa cemburu.

Pada senja itu pula, secarik kertas mulai berpindah tangan pada nama wanita yang tertulis di pojok kanan, Arum. Dia, adalah wanita yang menyegarkan pagi-pagi baruku. Wanita yang berhasil membuatku cemas saat senja sudah menyapa dan secarik suratnya tak kunjung tiba. Lewat surat hubungan kami berjalan. Kami saling menunggu setiap lonceng tanda berakhirnya sekolah hari itu berbunyi. Setiap hari, antara kami pasti ada kata yang tertukar. Lewat sepucuk surat yang dititipkan. Ya, dititipkan. Kami tak pernah memberikan secara langsung surat-surat kami. Bahkan, bisa dibilang kami tak pernah hanya sekedar menyapa. Hanya lewat surat kami bermanja. Dan surat-suratnya membuatku waspada setiap kali ibuku membereskan meja belajarku atau sekedar ingin bertanya kabar padaku. Sepertinya ibuku tau tentang hubunganku dengan Arum, karena pernah aku dimarahi sepanjang jalan karena lupa untuk pulang. Kelak juga aku mulai mengerti tentang kuatnya ikatan batin seorang ibu kepada anaknya.

Begitu hubungan kami berlanjut. Tidak ada yang istimewa sebenarnya antara hubungan kami. Yang membuat Arum menjadi kuingat adalah secarik suratnya siang itu setelah pulang sekolah. Seorang kawannya dengan angkuh memberikan kertas yang dilipat segitiga. Warnanya putih, dan tidak wangi. Siang itu, sepucuk surat mengakhiri hubungan kami. Siang itu, kali pertama aku mengerti bagaimana rasanya patah hati. Tak lebih dari panasnya terik surya yang mengiringi kayuh pedal sepedaku. Setelah malam tiba, surat-suratnya menerangi gelap yang kuhindari. Surat-suratnya menyala bersama ranting yang mengering di halaman rumah. Kata-katanya kubayangkan beterbangan, pergi ke ujung tiada. Dan malam itu, aku berkenalan dengan malam, aku berkenalan dengan sepi. Bersama mereka, aku bernyanyi. Sejak saat itu, Arum kuyakini sebagai wanita yang berdiri di sebelah kiri.

***

Lalu waktu berjalan pelan dan memabukkan. Hari berlalu begitu saja. Bagi para remaja, hari-hari selalu saja bahagia. Apalagi ketika mereka menyadari bahwa mereka telah beranjak dewasa. Saat bulu-bulu tipis mulai menghiasi kulit di antara hidung dan bibir, juga di kedua tungkai kaki mereka, jakun mulai keluar, dan payudara mulai membesar, mereka tak mau lagi disebut anak-anak. Mata mulai tertarik pada lawan jenis yang menjadi seleranya. Lalu para lelaki akan dengan senang hati mengejarnya.

Setelah kepergian Arum, aku tak terlalu larut dalam kesedihan. Aku selalu meyakini bahwa ia yang pasti rugi bila berpisah denganku. Aku selalu menanamkan kepercayaan diri dan optimistis yang kata teman terlalu berlebih. Setelah kenaikan kelas, ada satu adik kelas yang menarik perhatianku. Rambut sedang sedikit di bawah bahu, mata yang teduh, lalu wajah yang tenang berhasil mengirimkan sinyal ketertarikan. Kelak, ia akan menjadi boneka lumba-lumba biru muda yang selalu menghiasi kaca jendela seorang teman yang penuh dengan darah.

Dulu sekali, saat cinta belum mengenal payudara, aku dengan debar jantungku, selalu berkelahi dengan bibir yang sama sekali tak mampu berucap. Masih aku yang sama dengan ketika Arum berada di sampingku. Tanpa kata, tanpa nada. Hanya desir perasaan yang tulus saat aku mengantarnya pulang dari sekolah. Diam menjadi bahasa kami sepanjang jalan. Menuju utara sekira 5 km lalu ke timur 100 m dan kami memasuki bangunan sekolah sebelum masuk ke jalan depan halaman rumahnya. Di ujung sekolah itu, aku selalu memberhentikan motorku. Dan ia turun, sambil meraih tanganku. Menyalami dan mencium tanganku. Sebelum ia beranjak, aku layangkan senyum padanya. Lalu mataku terus memandang hingga langkahnya hilang ditelan gang. Aku belum rela beranjak sebelum ia hilang dari pandangku, aku takut kerikil dan bebatu kecil menjatuhkan tubuh anggunnya ke bumi.

Hari-hari kembali milikku. Aku masih bersurat padanya, tapi tak sesering pada Arum. Aku mencoba berkomunikasi verbal dengannya, walaupun diam masih menjadi kawan akrabku. Tapi aku menikmati itu, menunggu ia pulang dan menyamakan langkahku saat menuju ke luar gerbang menjadi kebiasaanku. Mataku sudah terlatih dengan gerak langkahnya, gerak tubuhnya. Dari kejauhan, aku tak perlu repot membedakan ia dengan yang lain. Dan aku tak pernah salah, ia yang kunanti sepulang sekolah.

Kembali waktulah yang menamparku. Ternyata diam dan cinta tak pernah menjadi akur. Lalu kawan karib juga tak selalu bisa jujur. Kemampuan verbal seorang kawan, membuat aku terpuruk. Cinta yang tulus nyatanya tak pernah bisa diandalkan untuk mempertahankan sebuah hubungan. Perlahan ia pergi, diam-diam. Lalu suatu ketika, aku melihat rambut indahnya tertiup angin bersama seorang yang menganggap saya kawan. Hati mulai membatu. Baru tau aku bagaimana kawan hanyalah sebuah kata tak bermakna. Dan cinta hanyalah pelengkap yang tak seindah artinya. Tak pernah hubungan kami berakhir, bahkan sampai detik ini. Tapi waktu juga yang dengan tegas menjawab, sudah. Kini ia terpajang sebagai boneka lumba-lumba di balik jendela kamar seorang kawan yang penuh darah, sebagai tanda kesucian perasaan cinta terakhir yang kuberikan untuknya. Kisah ini juga sempat ku tuliskan di lain bagian di blog ini.

***

Boleh dibilang, pada Boneka Lumba-lumba itulah hatiku masih tertambat. Bahkan saat Ayu dengan mudah menerima tawaran untuk mengisi hariku. Padanya, aku mengakui ke-banci-an diriku. Boneka lumba-lumba masih menjadi prioritas terhadap Ayu. Malam paling panjang adalah ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Ayu. Kubayangkan setiap balasan pesannya dihiasi air mata yang menetes tak henti-henti. Nada panggilan berganti rintihan tangis yang membayangi malamku. Untuk pertama kali dalam usiaku saat itu, aku sulit memejam. Pikiranku berkelana. Berjuta andai bermunculan. Aku lupa bagaimana bersikap. Akhirnya, aku mematikan ponselku, lalu esoknya aku mengganti nomer ponselku. Aku mengutuk diriku saat itu. Nanti, aku mengakui kesungguhan perasaan Ayu padaku saat aku sudah bersama Senja. Di suatu sore, setelah aku makan sore, ponselku bergetar dengan nomor asing di layarnya. Suara wanita di seberang saat aku menerima panggilan itu. Aku tahu betul, itu Mbak Riska, kakak perempuan Ayu. Pikiranku langsung melayang pada malam dimana aku merasa menjadi pembunuh berdarah dingin. Senja tak tahu, ia pikir itu adalah kawan kecilnya di Madura yang padanya ia pernah membicarakan tentang aku. Aku memilih menghilang lagi dari Ayu. Lalu pernah sekali dan untuk yang terakhir aku tak sengaja bertemu dengan Ayu. Saat aku mengantar Senja ke toko pakaian, aku tak sengaja bertemu dengannya. Sekejap aku merasa gemetar dan keringat dingin tiba-tiba keluar. Sekilas, aku menafsirkan pandangan Ayu kepadaku penuh kebencian. Tiada sungging senyum yang tercipta. Seketika aku mencari Senja dan mengajaknya pergi dari toko itu. Senja kebingungan dengan perubahan tingkahku, yang diakhiri dengan obrolan canggung mengenai ukuran kaos berlabel all size.

***

...bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *