Pagi dan kisah yang terulang kembali

Di beranda sebuah rumah berhalaman luas, aku selalu menghabiskan pagi dan malamku. Bersama secangkir kopi, juga sekotak rokok yang sudah lama kutinggalkan. Pandanganku tak pernah lepas dari lincahnya kaki-kaki kecil yang nampak susah mengawali langkah. Juga pada raut khawatir perempuan baya di belakangnya. Hatiku bergetar tiap kali senja nampak bergerak memudar, tanda ia akan pergi dari hari ini. Juga tanda bagiku untuk bergegas menutup jendela kamar, jika tak ingin serangga malam menjadikan isi kamar itu santapan lezat mereka. Saat ini, adalah saat yang dulu sempat membuatku takut setengah mati. Takut setengah mati untuk mati. Takut menjadi tua. Setelah dulu sempat berdoa agar bisa cepat-cepat menyapa remaja. Kini aku sadar, dewasa tidak seindah yang aku bayangkan. Dewasa menjadi amat menyebalkan. Mendadak aku merindukan pelukan ibu saat aku menggigil meriang. Juga suapannya yang dibarengi dengan cemas pandangannya. Aku merindukan kenakalanku dulu yang sempat beberapa kali membuat ibu meradang. Mendadak, aku merindukan sosok ibu. Oleh karenanya, Senja, istriku, paling suka mengolokku sebagai anak mama. Aku tentu saja menampiknya, sekaligus setuju dengannya. Menjadi tua adalah ketakutan semua orang.

Teriakan manja membuyarkan lamunanku. Pipit, cucu pertamaku dari Elang, tergelak tawanya karena digoda. Tingkahnya amat menggemaskan. Jika malam tiba, wajahnya selalu cemas kepada akhir dari dongeng yang ku syairkan padanya, cemas jika saja tokoh utama tak berakhir bahagia. “Pipit, percayalah bahwa semuanya akan berakhir bahagia. Jika tidak, maka percayalah itu bukanlah sebuah akhir”, bisikku setelah kupastikan matanya benar-benar terpejam. Wajahnya selalu mengingatkanku pada ibu. Kata beberapa orang, ibuku menjelma menjadi Pipit. Senja juga pernah mengatakan hal yang sama kepadaku.

Aku menikmati masa tuaku di rumah ini, rumah peninggalan orang tuaku. Aku memilih untuk tidak pindah ke kota. Aku dan Senja pernah berdebat tentang ini. Setelah lama, Senja baru mengangguk, tanda setuju.

Elang memiliki sebuah kafe baca di kota yang jaraknya 3 jam dari desa ini. Sedang Embun, istri Elang, terlalu takut menggantungkan hidupnya pada kafe baca suaminya. Karirnya sedang menanjak di sebuah perusahaan multinasional. Dan Pipit tinggal bersama kami. Di rumah ini. Tinggalnya Pipit di sini bukan tanpa perdebatan. Berbagai bentuk kekecewaan tersirat di raut wajah Embun, istri Elang, saat berbagai alasan kami berhasil mereka pahami. Bersamaan dengan itu, raut wajah gembira tersiar di pipi Senja yang mulai keriput. Dan aku, sesekali mencuri girang. Sebagai lelaki, juga sebagai suami Senja, aku hanya bisa mengiyakan apa yang diinginkan Senja. Apalagi, kami hanya berdua saja menghabiskan hari di rumah besar ini. Senja menjadi sedikit dominan terhadap keinginannya pada kondisi keluarga. Dia tidak lagi mau kecolongan keberserahannya padaku saat mengiyakan Sifa, anak bungsuku, untuk melanjutkan sekolah ke Inggris. Senja pernah berkata padaku pada pagi hari setelah Sholat Idul Fitri, “aku ingin kebersamaan ini abadi”, diam menjadi satu-satunya jawaban yang ku mengerti. Nampaknya, Senja menyadari, kami mulai menua.

Di suatu pagi, setelah Elang, Embun, dan Pipit, membangunkan ayam jago yang kesiangan dengan deru mesin mobilnya, aku melihat betapa mata Senja berkaca-kaca. Masih terlalu pagi untuk menangis. Masih terlalu pagi untuk bersedih.

Kami bersepakat untuk menyekolahkan Pipit di Kota. Walaupun bagiku, kota tak menjanjikan apapun, kecuali kemodernan. Tetapi kali ini aku juga tak bisa mengelak, generasi muda tanpa teknologi adalah generasi yang tidak bisa apa-apa. Masa depan Pipit adalah satu-satunya titik persetujuan kami berempat. Mobil yang membawa Pipit semakin menjauh. Dan silau mentari pagi mengantarkan hilangnya bayangan Pipit di ujung jalan.

Selepas kepergian mereka, anak-anak kami, aku menggandeng Senja dan mengajaknya menikmati pagi di beranda. Aku sesekali masih mendengar isaknya yang tertahan. Setelah dadaku tak lagi gemetar oleh kesedihan yang ku sembunyikan, aku membuka kalimat pertama pada Senja, “Hidup akan selalu berulang, bukankah kita pernah mengalaminya?” yang hanya dibalas dengan diam, lalu tangis yang meledak beberapa detik setelahnya.

Aku membisikkan kata-kata seperti yang sering kugunakan untuk menghibur kekhawatiran Pipit akan akhir dari sebuah cerita yang ku dongengkan, bedanya kali ini yang mendengarkan tak memejamkan matanya, “…ini bukanlah sebuah akhir, Senja”

Krassi, 20 Nop 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *