Jasmin.

Jasmin masih saja bergelut dengan laut. Padahal pada usianya yang menjelang senja, harusnya dia bisa menikmati jerih payahnya selama ini. Mungkin karena Tuhan belum mempercayakan seorang putra padanya, hingga dia masih saja bekerja tak kenal usia. Mungkin karena itu pula, dulu, istri yang dikasihinya pergi. Pergi bersama lelaki lain, kawan sekolahnya dulu, dengan harapan lelaki itu bisa memberinya putra yang diinginkan. Sepeninggal istrinya, Jasmin tetap tersenyum. Dan, ia tak berniat untuk mencari wanita lain dengan tujuan yang sama dengan mantan istrinya, memperoleh keturunan.

Masih teringat oleh Jasmin, langkah istrinya yang pergi dengan tergesa dan nafas yang sedikit tersengal. Di keremangan malam, langkah kaki istrinya hilang tersamar bayangan yang tak terjamah sinar bulan. Jasmin memandangnya dingin, ada sedikit gurat kecewa di mimik wajahnya. Tapi ia tak mau kesedihannya berlanjut hingga fajar menjelang. Sejenak kemudian, senyumnya terlukis. Jasmin masih teringat kata-kata ibunya, bahwa seseorang bisa saja memilih tersenyum hanya karena ia tak mau menjelaskan kenapa ia bersedih. Dan saat itu, ia melakukannya. Malam itu ia habiskan dalam sujud. Doa mengalir untuk istrinya, agar didapatkan apa yang diinginkannya, keturunan. Kata amin menutup doanya sekaligus menyambut pagi dengan sedikit getar.

Tak berapa lama, Jasmin menjual rumah kecilnya. Ia pindah ke rumah kecil lain di pinggir laut. Semenjak ditinggal istrinya, Jasmin suka menikmati senja. Senja dan gelombang laut adalah dua hal yang menenteramkan hatinya. Selain itu, berumah di pinggir laut akan memudahkannya dalam bekerja sebagai nelayan.

Di sebuah hari, sekiranya 10 menit jarak sampan terhadap rumahnya, Jasmin melihat serupa warna senja. Tapi ini tak biasa baginya. Serupa warna senja itu mengepulkan asap abu-abu ke udara. Jasmin berusaha menajamkan pandangannya, seketika ia tau sumbernya berasal dari rumah kecilnya. Api melahap hampir semua bagian rumahnya. Jasmin baru sadar, bahwa api dan kayu bisa menghasilkan warna senja yang menentramkan hatinya. Beberapa tetangga sudah panik ikut memadamkan api. Beberapa dari mereka terpaksa ikut memadamkan api karena takut rumahnya ikut terbakar. Sesampai Jasmin di darat, rumahnya sudah luluh lantak. Rumah beserta isinya. Rumah yang menjadi harta satu-satunya. Jasmin kembali tersenyum. Masih sama seperti dulu, Jasmin tersenyum dengsn ikhlas.

***

Hari ini, Jumat pertama di tahun baru, saya melihat Jasmin duduk khidmat mendengar Kutbah Jumah yang mengulas tentang ikhlas. Selesai sholat, saya berbincang kecil dengan Jasmin. Diperbincangan kecil itulah, bagi saya Kutbah Jumah sebenarnya. Saya belajar tentang ikhlas dari seorang pelaku, bukan pencerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *