Desember [cerpen]

Desember adalah bulan yang akan melekat padaku, mungkin selama ingatanku ada. Desember menjadi pemisah antara aku dan kamu. Dan dengan bisikanmu, yang tak sedikitpun menyiratkan air mata, aku melangkah menjauh. Lalu sebaris sofa gelap di ruangan itu nampak sunyi. Begitu sunyi.

Biasanya dalam kondisi semacam itu, para lelaki meluapkan perasaannya lewat asap tembakau. Bagi mereka, tembakau bukanlah racun, tapi obat untuk beban yang tak mungkin mereka sampaikan. Tak terkecuali aku. Sebungkus tembakau filter tak perlu mengantri lama mengisi paru-paruku. Aku menghisap dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. Sekejap asap mengepul menuju angkasa raya.

Kamu masih tak bergeming, matamu juga kering. Tak nampak setetes pun air yang menumpuk di ujung pelupuk mata itu. Beberapa kali aku mencoba memilikimu. Walaupun sebenarnya aku tau, kamu telah memilih yang lain. Dan sialnya, yang lain itu juga memilihmu. “Sirna” kataku lirih, hingga nyaris aku tak mendengarnya.

Pada Desember aku melangkah. Memilih untuk menyingkir. Lalu beberapa bulan setelahnya, ia meminangmu. Sementara kamu, dengan mudah menerimanya. Dan beberapa bulan setelah pinangannya padamu, aku mati. Aku mati dalam arti yang jauh lebih hebat. Aku menghentikan semua hal yang kumulai karena kamu. Ya, semuanya. Termasuk yang sekarang ku lakukan, menulis. Aku sudah tak mampu menulis. Tentang kamu, aku, dan secangkir kopi yang beradu di ujung meja.

Adakah pernah kamu bertanya kenapa?
Jika pertanyaanmu tiba, jawabanku tak berubah: kamu adalah sisi yang hilang dari kekasihku dulu.

(Dan maukah kau peduli, Bahkan kini aku sudah membenci kopi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *