Mala.

Ada sebaris senyum yang hingga saat ini masih terbayang dalam ingatanku. Senyum manja bersama rentetan senja yang tak juga berhasil ku cerna. Siapa lagi si empunya senyum itu, kalau bukan kau, Mala. Di sepanjang jalan menuju pulang, bersama kayuhan kecilmu, aku berakhir. Aku berakhir merindukanmu. Kau berhasil memalingkan anganku, dari sebuah senja yang kupuja. Senja yang masih lugu, membasuh lembut punggungku. Imajiku terbang, mungkin belaimu akan menyempurnakan senjaku, lalu sebaris senyummu akan telak membunuhku.

***

Malam masih malas untuk beranjak. Rintik embun juga masih melekat pada helai daun yang melengkung, memberinya jalan untuk terjatuh. Menyapa bumi. Bukankah semua akan berserah pada tanah? Terserap dan musnah. Sedari malam, aku tak bisa memejam. Lama aku terduduk, jemariku dengan malas meraih sebotol bir yang sudah lama berdiri di ujung meja. Bir yang tadinya dingin. Juga sebatang tembakau tak luput dari raihanku. Jantungku berdetak teratur. Mataku berat kurasa. Seketika sekelebat wajahmu mengisi kesepianku. Oh Mala, tak bisakah sedetik saja kau bebaskan aku dari belenggu rindu. Hingga saat ini, senyum manismu masih saja membayang dalam langit-langit kepalaku. Ia berlari, memutar, lalu jatuh ke dalam pelukanku. Lalu malam-malamku menjadi riuh oleh lincah gerakmu.

Mala, kau tau aku tak pernah bisa menyudahi kecintaanku pada senja, juga ketidakberdayaanku mengucap cinta padamu. Kau tau bukan? Ya, mungkin kau membenciku karena ini. Heheh, jangankan kau, bahkan aku sendiri mengutuki keperempuanan dalam diriku. Lalu kau pergi bukan? Bukankah pergi tak pernah bisa menyudahi hidup? Dan aku masih disini. Aku berharap langkahku tergerak menuju duniamu yang baru. Aku berharap tanganku membawaku terbang kepada teduh matamu. Aku berharap pelukku akan membawamu kembali kesini, bersamaku mengagumi senja yang tak pernah berubah di ujung jalan. Tapi tak pernah terjadi. Aku masih saja memaku diriku di tempat jahanam ini. Aku semakin terpatri pada senja yang fana, senja yang membuatku tak bisa apa-apa. Dan kau sudah pergi.

Beberapa kali aku bersurat untukmu. Setiap kali aku mengayuh sepedaku menuju senja di ujung jalan, lembaran kertasku melayang menujumu. Dan aku tau, ribuan suratku tak mungkin kau terima. Aku mengirimnya ke alamat yang tak pernah dipahami oleh pak pos. 

Teruntuk:
Nirmala
Di sebuah senja yang tak pernah terurai.

Begitu aku menulisnya. Kubayangkan pak pos tersenyum geli membaca alamat yang kutujukan padamu. Lalu dengan segera ia berkerut. Dan membuangnya tanpa ada rasa berdosa.

Begitu kulewatkan hari-hariku semenjak kau beranjak. Aku tak peduli apakah kau bisa membaca surat-surat yang kukirimkan padamu. Dan berbotol-botol bekas bir kulayarkan ke laut setelah di dalamnya ku isi dengan permohonan agar bisa bertemu dan mengucap cinta dan meraih tanganmu dan memeluk pundakmu dan mengajakmu mengagumi senja yang tenggelam di ujung sana. Serta kubayangkan kau pasrah dalam pelukku, menangis, lalu membalas pelukku dengan lebih erat.

Aku beranjak dari kursi, keluar kamar dan menuju ke kotak surat di pinggir jalan. Aku memasukkan amplop berisi suratku padamu. Aku kembali menuju ruanganku. Menghabiskan sebotol bir yang sudah kutenggak lebih setengahnya. Dan kupecahkan botolnya lalu ku sayatkan pada nadiku yang sudah membiru.

Kepada:
Nirmala
Di sebuah senja yang tak pernah terurai

Mala, sayangku, taukah kau kalau aku berhasil menguraikan senja? Ya, tentu, kuuraikan senja itu agar saat kita menatapnya kau tak lagi bertanya-tanya. Senja itu tak lagi membuatku bisu. Kau senang bukan?

Aku sudah memiliki jendela yang kubuat dua-dua. Agar aku bisa mengajakmu memandangi senja di mana saja. Tak harus di ujung jalan yang membawamu kepada tiada. Aku benci jalan itu. Jalan yang ternyata tidak punya ujung. Jalan yang merampasmu dariku. 

Mala, di surat ini juga, aku sudah bisa menulis cinta. Aku sudah mengenal huruf-huruf alfabet, tapi tak pernah mampu menuliskan cinta. Di surat ini pertama kali aku bisa. Aku mencintaimu Mala.

Akan kubocorkan padamu sedikit senja yang berhasil kuurai, Mala. Pada kesemuanya itu, pada senja yang terburai, aku menemukanmu. Aku menemukanmu. Kau lah senja itu, Nirmala.

Akbar Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *