Matebon.

Pernah salah satu kawan saya, Matebon, membuat gemetar orang serumahnya. Betapa tidak, ia dengan blak-blakan meminta persetujuannya untuk menikah (lagi). Sontak, hal tersebut membuat tangis istrinya, yang sedang hamil muda, meledak. Tapi itulah kawan saya, bukan dia tidak waras lagi, dia sudah memastikan sebelumnya bahwa hari ini akan terjadi. Tangisan istri dan guratan kecewa orang tuanya sudah terlukis mendetail di benaknya. Juga tatapan lugu anaknya yang masih 5 tahun, tatapan polos dan tak tau apa-apa. Malam itu, langit seakan menumpahkan amarahnya pada keluarga Matebon. Petir nampaknya sudah memastikan targetnya malam itu – hati si perempuan.

Hari-hari setelah kejadian itu, saya baru mendengar kisahnya. Versi kawan saya yang lain. Sebagai seorang kawan, pasti ada rasa iba. Iba kepada si perempuan. Hari-hari itu pun ponsel saya banyak berdering, mengedipkan nama kawan saya, menggoda untuk minta bicara.

“jadi, apa yang bisa kita lakukan, kawan?”

Saya menghela nafas, lalu diam.

Tak lama, kami – berempat, saling bertatap muka. Kesempatan yang langka sebenarnya. Malam itu, beberapa dari kami memberikan beberapa masukan kepada Matebon. Dan, Matebon mengungkapkan beberapa alasannya, juga. Lalu kami hening. Masing-masing kami mengurai beberapa makna obrolan malam itu. Jawabannya ada dalam pikiran kami masing-masing. Karena kami sepakat untuk tidak membuat sama pembelajaran malam itu.

Lama saya tak mendengar kabar dari Matebon setelah malam itu. Dan barusan, ponsel saya berdering. Seorang kawan menyebutkan, Matebon tak jadi nikah lagi. Saya menghela nafas, lega. Hening sejenak, dan kawan saya mengatakan bahwa hari ini, 2 jam yang lalu, Matebon telah wafat. Saya menghela nafas.

***

Note:

Setelah kami bubar, malam itu, saya hanya bisa tersenyum. Pikiran saya menangkap sebuah makna, terlepas dari punya atau tidak punya perasaan, Matebon – Kawan saya, mempunyai keberanian mengungkapkan inginnya dengan segala resiko yang sudah ia perkirakan jauh sebelumnya. Dia tak ingin menjadi suami pendusta. Dia juga tak memberikan janji yang, ia tau tak akan bisa menepatinya. Dia sepenuhnya mengakui, beristri bukan berarti kehilangan ketertarikan terhadap wanita. Dia menerima seutuhnya sifat alami lelaki tanpa ingin megakhiri hubungan dengan istrinya. Dan dia berani melakukan itu semua di saat kami berusaha mati-matian menyembunyikan ketertarikan kami terhadap wanita.

Senyum kecil tak sadar tersungging dari bibir saya. Di sebelah makam kawan saya, Matebon. Lalu tiba-tiba batin saya berbisik, “engkau masih selangkah di depan kami kawan”

Note:

[Pernah di share di https://m.facebook.com/notes/argha-aditya-c-nugraha/matebon/10153247625707129/?ref=bookmarks]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *