Malam.

Kau malam yang selalu saja menolak kubangunkan.

Lalu aku, adalah lelaki yang mulai takut dengan pagi.

Seperti malam itu, tiba-tiba kau datang membawa jutaan bintang di mega angkasa. Lalu kau tambah lagi dengan purnama. Pertanyaanku, sanggupkah aku pergi tidur saja tanpa mengindahkan keduanya?

Dan pagi bergulir, kau masih ada namun pada pandangan yang tak pernah ku sangka.

Harus kuakui, beberapa kali aku berdoa agar hujan turun di pagi hari. Agar lembayung surya tertutup kembali. Seakan-akan malam tak pernah pergi, juga purnama dan jutaan bintang yang menggantung. Mulai saat itu, pagiku kubuat muram, muram. Biar langit terang, namun kau tak pernah lelap dalam hatiku yang kelam.

 

(Sesayap, 2 September 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *