Wahyu: Satu sahabat masa kecil

1999-2000
Pagi itu ruang kelas yang ramai mendadak hening. Beberapa murid yang tengah asik bermain, kembali ke tempat duduk. Ada orang asing di antara kami. Ya, ada anak baru yang bergabung di kelas kami. Wahyu namanya. Sekilas, aku agak manyun. Karena dia bisa jadi pesaingku dalam hal kegantengan. Wajah dan perawakannya bersih. Bajunya rapih. Dan satu hal yang sepertinya mirip denganku, potongan rambut mandarin dengan belahan pinggir. Sial. Padahal, sudah 3 tahun ini aku merasakan seperti seorang idola di SD Negeri 1 Ngampel. Seorang idola yang mengidolakan Maissy Pramaisela. Kami semua terdiam, bingung akan keadaan yang baru kami alami. Kedatangan murid baru adalah hal yang amat jarang terjadi. Apalagi di sekolah desa yang lumayan terletak di pelosok pedalaman. Siapa yang mau sekolah di sana selain kami yang sehari-hari hidup di sekitarnya? Satu-satunya pengetahuan tentang murid baru adalah bersumber dari televisi. Dan kami tak tau bagaimana caranya berkenalan.

Kasak kusuk mengenai Wahyu sudah terdengar olehku. Saking putih bersih kulitnya, nampak beberapa guratan biru yang muncul di balik pipinya. Ada yang bilang bahwa tanda guratan biru di pipinya adalah karena setiap pagi ia gemar sarapan telur rebus, malah ada yang bilang 2 butir setiap pagi. Membayangkan hal itu, aku langsung mual. Karena memang kala itu aku tak suka telur rebus. Padahal guratan biru itu adalah nadi yang terlihat samar karena kulit pipinya yang putih. Lalu juga ada yang bercerita tentang suatu malam di desa, setelah acara pengajian usai, anak anak senang bermain petak umpet. Suatu ketika, ada anak yang memang terkenal usil, Feri namanya, membawa seekor katak dan dimasukkan ke dalam bajunya Wahyu yang saat itu berperan sebagai pencari di permainan petak umpet. Dia langsung menangis dan berlari pulang menuju rumah. Aku yang mendengar itu, sedikit lega. Karena ia sebelas duabelas denganku dalam hal keberanian. Termasuk anak yang cengeng juga ia ternyata.

2002-2005
Ujian kelulusan SD telah usai. Tak perlu ditanyakan lagi siapa yang mendapat nilai paling tinggi di SDN Ngampel 1. Selama 6 tahun bersekolah di SD itu, hanya sekali aku tak mendapat ranking pertama. Yaitu sewaktu kelas 4, aku hanya berhasil menempati ranking 2. Sial. Tapi setelah itu, aku kembali menguasai permainan. Menjadi lulusan terbaik di SD tidak berarti gampang memasuki SMP favorit. Setelah ujian tulis berlangsung, namaku masuk ke dalam 10 besar dan menempati posisi 7. Posisi pertama, saya masih ingat betul dengan posisi ini, Adi Susanto. Sekedar informasi, aku kenal dengannya sewaktu mengikuti lomba adzan dan sholat di tingkat SD Se-Kecamatan Papar. Aku masuk 10 besar. Dan bagaimana Wahyu? Ah aku tak ingat. Zaman memasuki sekolah menengah pertama di tahun pertama adalah pengalaman baru untukku. Mengendarai sepeda, kakiku mengayuh pelan. Bersama seorang kawan yang akhirnya kami sering berangkat bersama, Wahyudi. Hingga pada satu titik, aku agak akrab dengan Wahyu karena kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Dimulai di tahap ini, aku mulai dekat dengannya. Setiap minggu, yang biasanya kebanyakan anak di desa kami menghabiskan dengan bermain, kami berdua mengayuh sepeda menuju barat. Kali ini bukan untuk mencari kitab suci. Tapi menuju sekolah dengan seragam coklat dan setangan leher yang sudah rapih. Dengannya selalu kuhabiskan tawa dan canda, kami belum mengenal tangis saat itu. Pernah kami merencanakan untuk pergi ke Pagora. Berenang. Kami sudah merencanakannya semenjak pagi saat pergi ke sekolah untuk berpramuka. Sepulang dari sekolah, aku meminta izin kepada orang tua. Waktu itu orang tuaku nampaknya enggan memberi izin karena seumur hidup, aku belum pernah pergi ke Kota sendiri, dengan bis. Dengan sedikit memaksa aku berangkat dengan tas punggung yang sudah terisi baju dan perlengkapan mandi. Tapi, yang terjadi adalah kami batal pergi karena orang tua Wahyu juga ternyata enggan memberikan izin. Karena ya itu, ternyata ia juga belum pernah bepergian ke Kota sendirian. Banyak kebetulan kebetulan dalam hidup ini. Juga kebetulan kalau kami memiliki orang tua dan masa kecil yang nyaris sama.

Lalu aku mengenal Arum. Sebenarnya, ia adalah salah satu alasanku ikut pramuka. Padanya, aku seringkali berkirim surat. Cinta monyet. Wahyu seringkali menjadi kurir suratku yang kutujukan pada Arum. Lalu melalui surat pula, Arum pergi dariku. Hari-hari kembali berjalan seperti adanya. Matahari masih terbit. Bulan juga. Wahyu menjelma menjadi kawan baikku.
Menginjak kelas 2, aku mengenal Via. Dan kebetulan lagi, ia ikut pramuka. Masih dengan sikapku yang malu malu, aku mengorek informasi dari Wahyu. Akhirnya, aku menjalani hubungan kedua dengan wanita, melalui Wahyu. Hubungan yang sama anehnya dengan aku dan Arum tempo lalu. Kami nyaris tak pernah berkomunikasi. Justru Wahyu yang intens sekali berbicara dengannya. Aku menganggap hal itu adalah upaya seorang kawan membantu kawannya dalam menjalin hubungan. Sampai di suatu waktu, saat aku pergi dengan seorang kawan lain, aku melihat rambut Via tergerai tertiup angin saat berada di bangku belakang motor. Aku mengenal betul motor itu. Ya, itu adalah milik Wahyu. Aku mulai merasa bahwa ia ada hubungan dengan Via. Ada gurat kecewa yang tak kusadari. Tapi sampai detik itu, aku masih menganggap Wahyu adalah kawan baikku. Esoknya saat kami berboncengan sepeda menuju sekolah, aku masih bercanda dengan Wahyu. Di sepanjang jalan, aku tidak membahas apa yang terjadi kemarin. Aku hanya menghabiskan aspal jalan dengan cerita kesana kemari khas seorang ABG.
Secara hukum, aku masih memiliki hubungan dengan Via. Tapi kalau boleh dihitung, frekuensi jalan bersama justru lebih banyak dihabiskan oleh Wahyu. Lama, akhirnya kami berakhir. Wahyu sempat bertanya kenapa. Dan aku jawab seadanya. Yang lucu adalah ketika aku main detektif detektifan. Jadi, itu hari ada kabar bahwa Via akan pergi bersama Wahyu ke sebuah tempat wisata. Aku bersama kawan lain, yang nanti akan menjadi sahabat baikku hingga detik ini, kami menyebut diri kami grup SABLENG. Jalanlah kami menjadi detektif. Dengan rompi motif tentara milik ayah, aku berangkat menuju tempat tujuan Wahyu dan Via. Kami sudah sampai di lokasi. Mengendap-ngendap mencari batang-batang pohon yang mampu menutupi tubuh kami. Kami menemukan mereka. Tapi kacau, penyamaran kami tiada guna. Padahal aku sempat membalik rompi yang kupakai. Tapi masih dikenali juga. Lalu kami pulang dengan perasaan yang tak karuan meliputi dadaku. Di perjalanan, aku dan Andrian masuk ke sela truk gandeng demi menghindari kendaraan yang berjalan beriringan dari depan. Untung kami masih diberi umur hingga saat ini. Sial memang. Di lain waktu, Andrian ku ajak melampiaskan kekecewaan. Bermodal suzuki shogun 125 dengan bensin pas pas-an, aku mengajaknya berjalan tanpa tujuan. Hingga masuk ke sebuah desa, Mekikis, setelah gotong royong mengangkat motor melewati rel kereta api yang tidak di desain untuk motor. Fak. Itu semua karena Wahyu, yang masih menjadi kawan terbaikku.

2005-2008
Aku menginjak SMA. Via masih sesekali menghubungiku. Aku masih berusaha memilikinya. Di tahun itu, aku mengenal Dyah, wanita yang kukagumi kepintarannya. Aku bertemu dengannya di sebuah tempat kursus. Wahyu sempat ikut kursus denganku di tempat yang sama. Ia pun tau kalau Dyah seringkali mencuri pandang padaku. Ia mulai menggojlogku. Tapi begitulah sifat alaminya. Seperti tertantang setiap kali ada wanita yang dekat denganku, Wahyu selalu menunjukkan sikap yang agak lebih agresif pada wanita itu. Tak berbeda pada Dyah. Aku merasa, ia seringkali mencari perhatiannya. Tapi mungkin kali ini hanya perasaanku saja. Karena di perjalanan, memang Dyah mau menjadi lebih dari sahabatku. Dan aku tahu bahwa saat itu aku yang bisa mendapatkan Dyah. Kalau boleh jujur, Dyah adalah wanita yang kujahati paling jahat. Karena hanya hitungan hari, aku meninggalkannya dengan cara yang saat ini kusebut pengecut. Aku meninggalkannya setelah mengirimkan pesan singkat yang menuliskan bahwa aku tak ingin menyakitinya, maka aku harus meninggalkannya. Sebuah alasan yang tak berdasar. Malamnya, aku susah memejamkan mata. Selain karena rasa bersalahku, handphone-ku juga berdering bergangian antara nada pesan dan panggilan. Yang kesemuanya ku abaikan. Sesekali aku membaca pesan balasan yang dikirim Dyah. Lalu kumatikan. Masih tak bisa terpejam, kunyalakan lagi handphoneku. Begitu seterusnya, hingga aku lupa dan mengawali hari lagi setelah membuka mata. Banyak pesan dari Dyah, juga pemberitahuan panggilan tak terjawab. Hari itu, aku pergi ke counter untuk membeli nomor baru. Banci. Mungkin setelah itu, Dyah menghubungi Wahyu. Karena saat aku bermain ke rumah Wahyu, seringkali ia menyampaikan kabar Dyah yang selalu bertanya tentangku. Setelah itu, entah benar atau tidak, aku mendapat kabar dari kawan lain bahwa ia pernah melihat Dyah bersama dengan Wahyu dengan motor yang sama saat Wahyu membonceng Via. Aku lalu tak peduli. Yang aku peduli, saat itu keputusanku mengakhiri hubungan dengan Dyah adalah karena aku ingin mencintai Via lagi. Via yang dulu pernah membuatku jatuh, kini bangkit kembali. Nanti, ia membuatku jatuh dan membuatku tak ingin bangkit padanya lagi. Ya, begitulah Wahyu. Bayang-bayangnya nampak kuat pada jalan hidupku. Bahkan saking kuatnya, dulu sewaktu SMP, aku kecolongan terhadap Mala. Belum sempat rasaku tersampaikan, Wahyu sudah menjadi benteng kokoh yang tak bisa kutembus.
Bercerita tentang Wahyu memang tak bisa terlepas dari wanita. Tapi berkatnya juga, aku bisa memiliki istriku, Senja. Berawal dari apel pertama, lalu makan malam nasi goreng yang karenanya aku bisa duduk bersampingan dengan Senja. Mengenai Senja, aku akan menceritakannya di lain kesempatan.
Begitulah, hingga aku beranjak kuliah. Akhirnya lambat laun, aku mulai jauh darinya. Aku mulai kehilangan kontaknya.

2008-saat ini
Aku kuliah di Bogor, bersama Senja. Setahun paling banyak 3 kali aku pulang kampung. Artinya kesempatan untuk bertemu Wahyu juga semakin kecil. Aku mendengar kabar bahwa ia merantau ke tanah borneo. Yang ku tau, banyak berita miring tentangnya di desa. Untuk itulah Wahyu merantau. Sampai sekarang, aku tak tau kebenarannya. Dan aku tak ingin menghakiminya berdasar ketidaktahuanku.
Lama kami tak bersua. Lalu di suatu kesempatan setelah aku bekerja di Kalimantan, aku sungguh merindukannya. Tapi bagaimana, kontakpun aku tak punya. Akhirnya, melalui facebook aku menuliskan status bahwa bagaimanapun Wahyu saat ini, ia masih sahabat kecilku. Lalu seorang kawan dengan murah hati membagikan nomor hp Wahyu. Dengan senang hati kuterima dan langsung kuhubungi. Ya benar. Suaranya masih sama. Bahasanya masih sama. Tertawanya, ah aku masih ingat betul bunyi tertawanya.
Kemarin, akhirnya aku mengunjungi rumahnya lagi. Dengan kondisi yang berbeda. Dulu di sepanjanb jalan menuju rumahnya, yang tersirat adalah harapan untuk tertawa mengisi hari bersama. Tapi kemarin, aku datang dengan memasang sendu di wajahku. Ibunda Wahyu pergi dari dunia. Entah mengapa aku seakan bisa merasakan apa yang Wahyu rasakan. Bagaimana ia begitu dibanggakan oleh ibundanya. Sembari tangan berjabat, lenganku meraih pundaknya. Memberi pukulan ringan pada punggungnya. Sambil menahan air mata.
Wahyu, dengan segala kekurangannga, dengan semua kelebihannya, masih kuanggap sebagai sahabat kecilku. Yang juga ikut campur dalam mengantarkan hidupku sampai saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *