browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Lebaran dan Lalapan

Posted by on 30/06/2018

Alhamdulillah.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa illaha illallah huwaallahuakbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Suara Takbir menjadi pembeda di malam itu. Setelah kurang lebih 30 hari selepas adzan isya suara pujian sekaligus niat untuk puasa esok hari selalu menghiasi dan mengundang jamaah di sekitar masjid. Tak ketinggalan suara bedug yang dipukul mengeluarkan suara yang nyaring, menjadi bukti bahwa dilakukan dengan pukulan yang penuh semangat dan gembira. Ya, hari kemenangan telah tiba. Hari kemenangan dari perintah menahan hawa nafsu selama sebulan di siang hari dan memperbanyak amalan saleh di malam hari. Tahun 2009 saya masih menyandang gelar mahasiswa tingkat pertama, yang pasti merayakan Idul Fitri di kampung halaman bersama keluarga. Belum seperti sekarang, setahun pulang lalu tahun depan jaga kandang.

Seperti umat muslim lain di kampung saya, bahkan di seluruh dunia, setelah bangun dari tidur saya menyempatkan untuk minum segelas air. Sunnah rasul untuk menandai bahwa pagi itu umat Muhammad sudah mengakhiri puasa. Dilanjutkan dengan mandi besar dalam rangka menyambut Idul Fitri, lalu menyusul 2 rakaat subuh. Pukul 05.30, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga berdiri di jalan depan rumah untuk menunggu keluarga besar berkumpul, lalu berangkat bersama-sama ke Masjid. Sungguh kebersamaan yang indah, yang boleh dibilang hanya terjadi setahun sekali. Lokasi Masjid di desa saya tak begitu jauh, hanya hitungan langkah sudah sampai di pelataran yang sudah diberi alas terpal untuk mengakomodir melonjaknya jamaah Sholat Ied.

Jam 06.30 semua jamaah berdiri untuk memulai rakaat pertama. Tujuh kali takbir lalu Al-Fatihah dan pembacaan surat pendek. Rukuk. Sujud. Dan seterusnya hingga atahiyat akhir lalu ditutup dengan salam. Imam berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan khutbah. Jamaah belum ada yang beranjak, kecuali satu dua jamaah perempuan yang membawa anak dan menangis di tengah-tengah kutbah. Daripada mengganggu, lebih baik diajak pulang saja. Mungkin itu yang dipikirkan. Tentang iya atau tidaknya apa yang dipikirkan para ibu-ibu itu, saya juga tidak tau. Hanya sebatas menebak saja. Setelah khutbah selesai, diawali dengan teriakan sholawat, semua jamaah berdiri lalu saling bersalaman satu sama lain, sembari mulut tak berhenti memuji Muhammad Rasulullah. Lalu beberapa jamaah keluar masjid. Ada yang langsung pulang, ada yang duduk di beranda depan masjid dan di atas terpal yang sedari kemarin disediakan. Jamaah yang memutuskan tetap tinggal di masjid segera duduk membentuk kelompok yang berbentuk lingkaran. Kami menunggu berkat. Berkat artinya berkah, tapi kami masyarakat jawa menggunakan kata berkat ini untuk tumpeng/sejenis yang dibawa oleh beberapa warga ke masjid pagi sebelum shalat ied untuk dimakan bersama-sama. Di-porak kalau kami bilang. Nah, disinilah petaka terjadi.

Sebelumnya, saya harus menceritakan latar belakang kuliah saya. Bukan untuk pamer, hanya sebuah keharusan dan alasan kenapa saya melakukan sesuatu yang saat ini kalau diingat membuat saya tertawa malu. Oke, tahun 2008 saya memulai kuliah saya di IPB. Bukan Bandung, seperti yang dikira warga kampung saya saat mereka tanya ke saya kuliah di mana. Institut Pertanian Bogor. Bogor, seperti masyarakat Sunda pada umumnya, suka sekali dengan yang namanya lalapan. Dimana saya mampir makan di warung, pasti disediakan lalapan. Lalapannya macam-macam, kacang panjang, daun kemangi, sampai beberapa daun berukuran besar yang lalu saya ketahui rasanya agak sedikit masam. Nikmat kalau dimakan bareng sambal. Sayang kemampuan saya mengidentifikasi daun belum terasah benar. Di jawa, lalapan seperti mentimun, daun kemangi, atau kacang panjang sudah umum dijumpai di warung makan. Dedaunan yang besar-besar inilah yang masih asing bagi saya. Dan di Bogor, saya mulai membiasakan diri untuk mengerti bahwa daun-daunan yang disajikan di meja makan adalah lalapan. Jadi pulang kampung waktu itu adalah mudik pertama saya.

Kembali ke aktivitas memorak berkat. Sebenarnya, tahun-tahun sebelumnya saya jarang sekali atau bahkan tidak pernah mengikuti tradisi ini. Oleh karena saya merasa bahwa waktu untuk bercengkerama dengan kawan kecil saya di desa sekarang terbatas oleh jarak dan waktu karena saya kuliah di luar kota, akhirnya tahun itu saya ikut acara morak. Waktu itu saya bergabung di lingkaran duduk yang cukup besar. Bersama beberapa kawan masa kecil. Cukup banyak, ada hampir 10 orang di kelompok saya. Setelah semua kelompok lingkaran sudah mendapat jatah berkat masing-masing, imam masjid segera mengawali “pesta” memorak berkat dengan doa yang segera diamini oleh seluruh jamaah. Dari suara “amin” yang diteriakkan semakin lama semakin keras, menandakan bahwa doa yang dibaca oleh imam masjid cukup panjang. Atau kami yang tak sabar ingin segera makan. Setelah akhirnya imam masjid menyadari bahwa sudah 10 menit ia memimpin doa, doanya disudahi. Atau mungkin doa yang dihaturkan sudah cukup. Atau kemungkinan lain yang saya tidak tau. Kata “amin” terakhir sungguh lugas dan tegas, lalu dilanjutkan dengan membuka penutup berkat yang rata-rata menggunakan daun pisang. Namun ada yang unik dari berkat kami, di atas daun pisang itu ada 3 buah daun lagi, berukuran seperti lalapan yang biasa saya jumpai di tanah Sunda. Ada salah satu kawan yang tanya, “eh, godong opo iki?” (Eh, daun apaan ini?). Saya langsung merespon, “oh iki lalapan bro, nang Sundo akeh ngene iki” (oh ini lalapan, banyak dijumpai di Sunda). Lalu disambut dengan anggukan kecil kawan saya, pertanda bahwa informasi yang saya beri masuk di akal. Walaupun memang dari anggukannya, saya tau kalau dia kurang yakin. Lalu entah angin apa yang mendorong tangan saya mengambil daun itu lalu mengarahkan ke mulut saya, yang dengan segera mulut dan gigi saya bergerak seirama untuk mengunyah sesuatu yang diantarkan oleh tangan saya. Satu lembar daun yang menurut pemahaman saya adalah lalapan. Teman yang lain melihat saya dengan takjub. Sekaligus menambah keyakinannya bahwa itu memang lalapan. Karena rasanya tidak sama dengan yang pernah saya makan, akhirnya saya memutuskan tidak memakan 2 daun yang lain. Lalu keluar kalimat tawaran kepada teman, “iki lho, jajalen..enak.” (ini nah kau coba, enak) kata saya sambil memberi selembar daun lain. Teman saya menerimanya, tapi tidak serta merta memakannya. Ditaruhnya lagi daun itu. Lalu kami memakan berkat yang tersaji ramai-ramai.

Berkat telah habis di kelompok lingkaran saya. Tersisa nasi yang tercecer di sana sini. Di sekitar juga sama kondisinya. Sisa nasi dan urap (semacam sayuran yang dicampur dengan parutan kelapa) tercecer, tanda bahwa kegiatan morak telah selesai. Sambil melanjutkan beberapa obrolan santai, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri lalu mencari nampan tempat berkat miliknya. Saya tau bahwa ia adalah Matebon. Oiya, Matebon ini sangat terkenal di kalangan para pemilik berkat. Isunya, ia termasuk orang yang koproh (jorok). Saya kurang tau alasannya. Tapi berdasarkan cerita dari Bapak, beberapa warga yang morak berkat selalu menghindari berkat dari Matebon, dari tahun ke tahun. Kembali ke cerita, Matebon berkeliling sambil mengamati nampan yang ada di tengah kelompok lingkaran. Karena kasihan melihat Matebon bingung, salah seorang warga bertanya “cirine koyok opo, Lek?” (Cirinya bagaimana, Paman?). Matebon menyahut, “pokok gambar kembang, abang, terus enek godong neng nduwure” (ada gambarnya bunga, warnanya merah, lalu ada daun di atasnya). Deg. Ternyata berkat yang kami makan adalah milik Matebon. Lalu kawan sekelompok saya memanggil Matebon, hendak memberi tau bahwa nampan miliknya ada pada kelompok kami. Matebon menyambut dengan senyum khasnya. Memperlihatkan giginya yang besar dan bercak hitam di sela-selanya. Noda yang ditinggalkan oleh kopi dan rokok. Tangannya menyambut nampan yang diberikan oleh kawan saya. Dari ekspresinya, saya tau bahwa ia senang melihat berkat miliknya habis. Hanya menyisakan nasi yang lengket di dasar nampan. “Lek, sing mok deleh nang nduwur berkatmu mau godhong opo?” (Paman, daun yang ada di atas berkat tadi, daun apa?) tanya seorang kawan tiba-tiba. Sambil garuk-garuk kepala yang saya tebak tidak gatal, Matebon menjawab “gak ngerti, aku nemu nang embong. Tak pothel terus tak deleh nang nduwur berkat. Ben gak angel lak nggoleki emberku.” (Tidak tau, tadi saya lihat di jalan. Saya petik lalu saya taruh aja di atas berkat. Biar gak susah kalau nyari nampan saya). Tepat saat Matebon berkata demikian, teman saya menoleh ke arah saya yang sudah buru-buru berdiri dan pamit pulang sebelum mengakhiri obrolan yang tadi sempat disela Matebon.

(Kamar A 3-4, Portacamp, Banyuwangi, 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *