browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Susilo.

Posted by on 13/08/2018

Seorang kawan dengan tiba-tiba menjapri saya di whatsapp. Nasir. Ketua angkatan Fakultas Kehutanan IPB angkatan 45. Jadi HAPKA ke-17 akan berlangsung bulan September mendatang. Sebagai acara 4 tahunan, HAPKA selalu dinantikan oleh angkatan-angkatan tua Rimbawan IPB. Sebagai ajang untuk bersilaturahim sekaligus memupuk ingatan biar terus hidup. Secara alami, momen HAPKA membuat tim redaksi majalah Forest Digest mengabadikan melalui edisi khususnya. Salah satunya adalah memuat memori semasa kuliah mulai dari angkatan pertama hingga sekarang. Itulah yang membuat Nasir menghubungi saya. Beliau meminta saya untuk membuat tulisan tentang kenangan semasa di Fahutan. Sebenarnya, saya tidak terlalu banyak ikut kegiatan fakultas, makanya di awal percakapan saya sedikit menolak halus dengan alasan tanya dulu ke kawan-kawan yang lain. Siapa tau mereka ada yang lebih kompeten. Mungkin karena kesibukan masing-masing yang gak bisa ditinggal, kawan-kawan tidak punya waktu untuk menulis. Ya akhirnya dengan legowo, saya terima tawaran Nasir untuk menulis. Kan, saya banyak nganggurnya. Jadi ya bisa tiap saat nulis. Dibantu Jun Harbi, akhirnya kami menentukan temanya adalah BCR (tulisannya nanti akan saya posting setelah Tim Forest Digest menerbitkan majalah edisi khususnya). Di tengah jalan saat saya nulis tentang BCR inilah, tiba-tiba saya ingat dengan Susilo. Seorang kawan yang unik. Yang sering kami dzolimi.

BCR adalah pintu pertama yang harus dilewati oleh pemegang NIM berawal huruf E. Bina Corps Rimbawan. Sebuah nama yang cukup gagah menurut saya. Sekaligus kamuflase bahwa itu adalah kegiatan ospek atau perploncoan bagi mahasiswa baru. Biar lebih enak didengar, mungkin. Satu hal yang sepertinya sudah jadi SOP sebuah ospek, seragam. Mengatasnamakan sama rasa, semua orang harus berpenampilan sama. Baju, celana, dan rambut harus sama. Sebelum BCR, panitia sudah memberi briefing bahwa peserta BCR yang laki-laki harus berpenampilan seragam. Rambut harus potongan sama. Awalnya, kami pengen seragam gondrong. Tapi karena susah, harus nunggu waktu atau pergi ke salon untuk cangkok rambut, akhirnya kami urungkan niat. Waktu itu ada salah seorang kawan yang punya rambut paling pendek tapi gak sampai plontos. Masih ada lah bentuknya. Akhirnya disepakatilah potong rambut seperti dia.
Mendadak, tukang cukur rambut di bara, bateng, balebak, cibanteng, ciampea, cianjur, eh gak sampe ding, rame dikunjungi mahasiswa dengan pin bekas tutup galon yang tersemat gagah di dada kiri. Membuat pemakainya malah kurang gagah.

“Mas potong sesuai spek ya..jangan kepanjangan jangan kependekan,” saya ngasi perintah ke mas cukur.
“Siyap A’,” jawab si Aa’ mulai beraksi.
Rambut sudah seragam. Aman, pikir saya.
“Nuhun A’,” saya pamit
“Eh A’ belum bayar…”
“Eh belum ya…, terlalu semangat A’ pengen cepet-cepet BCR” saya menjawab, tapi bohong.

Singkatnya, selesailah kami semua potong rambut dengan spek yang sudah kami sepakati sebelumnya. Tibalah saat kumpul lagi sama panitia. Kami berkumpul di lapangan DAR waktu itu. Lapangan DAR yang sering jadi tempat nongkrong abang-abang batagor sama bajigur kalau sore hari. Lapangan DAR yang kini tinggal nama. Semua peserta sudah kumpul. Semua panitia yang berkepentingan juga sudah kumpul. Kami merasa menjadi pemenang saat itu. Karena kami sama sekali tidak nampak seperti peserta BCR di bagian kepala. Rambut masih modis. Sedetik kemudian, ada yang aneh. Angin menyapu dengan santai. Rambut kami bergerak ke kiri ke kanan seperti lagu Ge Mu Fa Mi Re. Ada satu kepala yang rambutnya tidak bergoyang. Kami mulai curiga. Susilo. Tampil dengan rambut plontos 0.5 cm. Lebih pendek daripada TNI. Kami langsung curiga, bahwa Susilo adalah panitia yang menyamar. Tapi ada alibi yang tidak terpatahkan. Ada kawan saya yang satu kelas dengan Susilo semasa TPB. Tapi, siapa tau memang dia disiapkan untuk menjebak peserta BCR semenjak TPB. Kan, kalau jadi panitia gak boleh setengah-setengah. Kalau setengah-setengah, nanti jadinya kayak pembuat spanduk Asean Games yang diadakan di Indonesia. Banyak typo. Mungkin panitia BCR 45 seprofesional itu. Memasukkan mata-mata sejak dini. FAK.

“Sudah seragam, dek?” Tanya panitia. Dek adalah panggilan senior ke junior. Bukan sok romantis
“Sudah…..” Kami masih optimis. Berharap mata panitia tiba-tiba silau dan tidak bisa mendeteksi rambut Susilo. Atau malaikat sedang melindungi kepala Susilo agar terlihat lebih damai ketika dilihat panitia.

“Kamu, maju…..” Perintah seorang Komdis pada Susilo.

“@#&-¥£€.” FAAK

Alamat kami harus membuang uang lagi untuk pangkas rambut.
Kekesalan kami memuncak waktu itu. Entah, tanpa dikomando, kami semua menatap Susilo dengan sinis. Susilo? Tenang-tenang saja maju ke depan barisan kami dengan wajah polosnya yang tak pernah berubah. Kami mulai mengingat wajah ini dan berusaha tidak kami lupakan seumur hidup.
Jadilah malamnya, kami semua kembali menyatroni tukang pangkas rambut. Sebagian pindah salon karena ingin bagi-bagi rejeki. Saya pindah ke salon depan GWW. Begitu saya duduk di kursi pangkas, “Mau potong model apa, ganteng?” Babi ribonding. Tukang cukurnya bencong. Bangke.

Kesialan-kesialan dalam hidup memang kadang menjadi tawa di kemudian hari. Untuk mengabadikannya, ya lewat tulisan. Salah satunya. Susilo jadi man of the match nya fahutan 45. Berkat dia, tukang cukur rambut dapat rejeki yang tak disangka-sangka.

Wahai Susilo, maafkan saya yang tidak ijin terlebih dulu padamu terkait pencatutan nama.

Saya merasa terlalu jahat padanya. Padahal dia baik sama saya. Dulu sewaktu saya ada panggilan interview di Bekasi, saya nginap di rumah Susilo. Berkat menginap di sana lah saya tau bahwa Susilo punya kakak yang kerja di Pertamina. Kalian tau siapa nama abangnya Susilo? Namanya….Susilo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *