browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Marah

Posted by on 19/12/2018

Saya adalah tipe orang yang berapi-api. Bisa tiba-tiba berubah mood dalam waktu sekejap. Pemarah adalah nama lain saya, dulu tapi. Sekarang masih suka marah, tapi dengan frekuensi yang jauh lebih sedikit. Saat SMA, istri saya (yang waktu itu masih belum punya hubungan istimewa sama saya) mengaku sempat benci dengan saya. Ya karena terkenal pemarah. Waktu kuliah juga sama, dia pernah bilang kalau kawan perempuan saya takut pinjam motor ke saya. Memang beberapa kali saya merasa sangat buruk. Emosi saya mudah sekali tersulut.

Merubah sifat memang jauh lebih susah daripada merubah status jomblo menjadi sold out. Butuh waktu yang sangat lama untuk bisa berhasil. Saya sendiri, butuh bertahun-tahun untuk mengurangi sifat pemarah saya. Caranya adalah melihat dengan sebanyak mungkin sudut pandang. Itupun masih juga sering kecolongan.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah memukul dinding kamar yang terbuat dari tripleks sampai bolong. Itu terjadi dalam kondisi saya tidak sadar. Jadi saya mimpi berkelahi dengan orang, lalu saya berusaha memukulnya. Di mimpi itu saya merasa kalau pukulan saya sama sekali tidak berenergi. Karena emosi benar, maka sudah setengah sadar saya pukul sekuat tenaga, sialnya adalah pukulan saya mengarah ke dinding. Dan bolonglah dinding kamar saya. Jauh sebelum ini pun, saya pernah memukul tembok rumah yang terbuat dari batu bata. Kejadiannya mirip. Saya pukul sekuat tenaga. Gak sampe bolong, sih. Karena kan bukan tripleks. Tapi anehnya, pagi hari saya tidak merasakan memar di tangan saya akibat memukul tembok. Nah, bahkan dalam mimpi pun, kekuatan emosi sangat dahsyat.

Lalu karena emosi juga, saya akhirnya beli handphone lagi. Padahal usia handphone lama saya belum ada setahun. Karena emosi yang gak bisa saya kendalikan, saya lempar handphone saya ke tembok. Dddaaarrr. Berantakan.

Belakangan, saya begitu emosi dengan orang yang mengemudi ugal-ugalan. Pas traffict light di sebuah perempatan berubah ke hijau, mobil saya gas perlahan. Tiba-tiba dari sebelah kanan muncul mobil yang tiba-tiba mepet mobil saya hendak meminta ruang untuk mobilnya. Sialnya, di sisi kiri banyak motor yang juga sedang bergerak. Saya tetap maju dan membunyikan klakson. Akhirnya dia mundur. Tak lama, dia mendahului saya. Rasanya masih ada rasa kesal di hati saya. Saya buka jendela mobil, lalu memaki pengendara itu saat tepat di sebelah saya. Si pengemudi melihat saya lalu menepi setelah berhasil mendahului saya. Saya melihatnya turun dari mobil dan memperhatikan saya. Saya kira berakhir begitu saya. Eh ternyata dia mengikuti saya berusaha untuk menghentikan mobil. Klakson dan isyarat lampu saya lihat dari kaca spion. Saya cuek. Kan saya benar. Tiba di sebuah traffict light dia berhenti di sebelah saya dan membuka jendela. Dan mengetuk kap mobil saya. Saya pun buka jendela mobil saya untuk meladeni dia. Dia marah-marah, katanya “kalau ngomong yang bagus, Mas. Kalau cuma maki saya juga bisa.” Eh kok dia yang marah? Saya pun balas, “sampeyan nyetir jangan ugal-ugalan. Saya bawa anak kecil. Di jalan banyak kecelakaan. Kalau sampeyan gak ugal-ugalan, saya juga gak maki sampeyan.” Lampu berubah hijau. Kamipun melenggang. Aneh, siapa yang salah siapa yang marah. Saya sadar sih, memang saya yang lepas kontrol. Tapi ada alasan yang membuat saya begitu buas waktu itu. Sebelum kejadian makian ini, di jalan saya melihat ada mobil dan motor yang sudah terparkir di pinggir jalan dalam keadaan penyok. Lalu ada informasi juga di radio bahwa dalam waktu yang berdekatan ternyata ada 2 kecelakaan yang berbeda. Salah satunya adalah yang saya lihat itu. Jadi jelaslah kenapa saya begitu emosi pas lihat ada pengemudi yang ugal-ugalan dan bisa mengancam keselamatan saya dan keluarga.

Ya, marah bukanlah hal yang baik untuk diteruskan. Apalagi sampai dibanggakan. Temperamen kok bangga. Bangga itu kalau jadi manusia yang jujur, bersih, selalu memuji Allah, baik kepada sesama, tidak berkata kasar, pokoknya yang baik-baik deh. Tapi sayang, manusia sempurna yang saya sebut tadi sudah meninggal. Selamat ya Muhammad. Mari kita berkirim solawat kepada Nabi terakhir di muka bumi.

Allahumma sholli alaa Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *