Dialog kehilangan

Pada senja yang merona, aku kehilanganmu. Jejakmu perlahan mulai terhapus ombak yang riuh bergemuruh menyapa pasir. Pekat bayangmu mulai tersamar oleh sinar yang redup, ketika bulan murung. Ketika matahari termenung di ufuk cakrawala. Lalu aku hanya bisa bermain dengan debur. Dengan karang. Dengan buah kelapa yang maju lalu ke belakang, menggoda ia pada laut. Jadi ini akhir kita. Aku mendesah pada waktu. Sesungguhnya kita sama tau, bahwa kita akan berakhir. Kapan, saat ini sudah terjawab. Aku mencoba mengeja kembali namamu. Bersama kepak sayap camar yang menjauh. Mengecil. Lalu hilang.

Ingatanku kukuh tak tergoyang. Bahkan saat pertama kali kita bertemu, setelah jeda tahun yang menyiksa. Kau sembunyi di balik buku menu yang sengaja kau buka lebar, lalu ku tau sebelah matamu mengawasiku. Yang berjalan bingung di tengah meja yang nampak teratur. Semudah menambah satu dengan satu yang lain, aku menemukanmu. Di ujung meja itu, satu deret di sebelah meja pojok yang menginginkanmu jua. Yang hampa lalu cemburu pada meja di sampingnya. Kau yang memilih itu. Aku yang meminta kau. Sejenak senyummu mengembang, melihatku yang kian gugup akan berkata apa.

Hei, sudah lama sampai?” Sungguh, kau harus tau bagaimana detak jantungku saat itu.

Baru saja. Kau tau berapa lama yang dibutuhkan jantung untuk berdetak? Aku lebih cepat 1 detik daripadanya” kau mengakhiri kalimatmu sambil mengerling lucu.

Aku hanya senyum, menarik kursi dan memilih duduk diam sambil memandangimu.

Mau pesan apa?” Tanyamu.

Aku ingin memesanmu malam ini” aku tertawa.

Ah ayolah, kita harus mengawalinya dengan hidangan pembuka. Jangan langsung minta menu utama

Tawa kita menggema. Seakan sunyi mengamini atas kita yang sedang bercerita.

Tak lama, aku mengajakmu keliling kota. Malam rupanya sedang syahdu. Setetes air menabrak hidungmu. Lagi. Lalu bertambah sering. Kau mengaduh manja. Sekali lagi, kupegang lenganmu agar semakin erat memelukku. Di seberang, nampak kedai kopi yang sederhana. Kita menepi, lalu sedikit berlari ke dalamnya. Udara semakin dingin, malam semakin larut. Secangkir kopi segera menujuku. Segelas jahe lalu memilihmu. Sambil kedua tanganmu memegang erat gelas yang nampak mengepul, berusaha mendapatkan kehangatan dari air yang baru saja mendidih. Aku menawarkan tangan untuk kau genggam. Kau mau. Lalu sepanjang waktu, aku menggenggam tanganmu, tak pernah kulepaskan. Rintik hujan akhirnya reda. Teleponmu berdering. Aku bertanya siapa. “Biasa, ibuku. Kalau hujan, ia suka khawatir akan anak gadis satu-satunya ini“. Aku bilang jangan khawatir. Karena kau sedang bersamaku. Kau tertawa. Lalu genggamanmu semakin erat.

Kita memutuskan untuk beranjak. Pukul 11.43 malam. Aku memakai jaketku dan mulai mengambil motor yang terparkir di depan kedai. Kau naik dan sedikit mengeluh. Betapa udara sangat dingin. Aku melajukan motor dengan pelan.

Oh malam, bilakah mampu, aku ingin meminjammu dari rembulan. Biar matahari aku yang bilang. Agar kita selalu berpelukan. Agar peluh kita terus mengembara, diantara kata yang tergantikan dengan lenguh dan desah yang semakin membara.

Wahai waktu. Kau renggut kembali dia dariku. Yang kembali kau tawarkan setelah peluhku mendapatkannya. Dia menghilang atas inginnya. Oh malam, beralihlah kau menuju fajar yang mengundang cemburu senja. Menuju surya yang lamat mulai menghangat. Aku akan menanti, di ujung hari. Mencoba meminjam lagi senja, lalu mengambil malam dari rembulan. Agar dia tau, bahwa aku masih memegahkan pelukku untuk kembali menyambutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *