Membunuh Rindu!

Aku tiba di kotamu lima belas menit sebelum pukul 8 malam. Selinting tembakau segera terbakar, mengiringi asap yang terhembus bersama udara yang keluar dari paru-paru. Pesanmu baru tiba, lalu kubaca. Kau menuju kemari. Aku duduk cemas sambil menerka baju apa yang tengah kau pakai. Untuk menutupi tubuh mungilmu yang kubayangkan menggigil karena angin malam. Tak cukup itu, mungkin sebelum berangkat kau menimbang-nimbang jaket atau sweater apa yang hendak kau kenakan. Musuhmu malam ini adalah dingin. Siapa yang tak terima, bahwa kemarau tahun ini membawa dingin yang amat. Tulangmu tentu mengeluh. Tapi kuharap niat menemuiku akan membuatmu bergemuruh. Sama seperti aku saat ini. Juga saat sebelum ini. Saat aku menimbang akankah aku menemuimu saja atau mengingkari rindu yang kian lama kian tercipta. Sampailah aku hari ini. Hari dimana dulu sengaja ingin kita ciptakan. Bersama surya dan harapan, kita mengarungi bulan demi bulan untuk sekedar menuntaskan rindu.

Aku tiba di kotamu bersama beberapa deru mesin yang ringkih. Yang semakin lama memberikan janji bahwa jarak tak lama lagi akan terhabisi. Bersama dengan rindu yang selalu menemaniku di antara suara rel yang beradu. Aku telah tiba dan kini sedang menunggumu. Biarlah kulampiaskan dulu kaku serta kulepas dia bersama udara yang tercampur asap rokokku. Ah semoga kau tak lagi mengeluh tentang bau rokok mulutku. Semoga kau mau kembali beradu.

Pada kejauhan, kau menampakkan tubuhmu yang terbalut sweater ungu. Tak lupa sarung tangan bernada sama membungkus sepasang tanganmu. Mereka bersepakat menghalau dingin, menggantikan sementara aku. Aku segera beranjak, memberikan senyum gembira. Kau memarkirkan kendaraanmu, manyalamiku dan mengisyaratkan pinta agar segera menghambur ke dalam pelukanku. Hey, nanti dulu. Di sini banyak mata yang memandang. Aku takut mereka pada cemburu. Pada kita yang sungguh menikmati keheningan malam yang penuh dengan rindu. Mari kugandeng kau, ajak aku pergi.

Rokok di tangan sudah mati, menyusul rindu yang sesaat tadi juga pergi. Namun tak jauh kurasa. Aku yakin bahwa ia akan hadir lagi. Dengan jumlah yang semakin banyak. Saat itu, pasti kau tak bersamaku lagi. Menggantikan rindu yang tadi sejenak pergi.

Kita melenggang menyusuri kota yang sungguh damai. Kau banyak sekali bercerita. Itu yang menenangkanku. Kau masih saja sama. Masih wanita yang diujung telepon memintaku bercerita hingga tak kudengar lagu suaramu di sana. Hingga kau mencapai mimpi yang kau ingini. Ah sungguh kau adalah pengisi satu diantara empat ruang yang ada di jantungku. Yang senantiasa berbisik di antara detak dan senja, yang senantiasa menjadikan kau muara dari rindu yang kurasa.

Aku sudah bersamamu. Kita telah menyelesaikan rencana untuk membunuh rindu. Kekasih, kini aku ingin memelukmu. Lihatlah tanganku yang telentang ini, menyambutmu untuk mendekat. Jangan khawatir. Malam ini milik kita. Tapi aku harus tau lebih dulu. Apakah kau menginginkanku seperti aku menginginkanmu. Ah ingin aku mendengar iya darimu saat ini. Lalu biar bibirku mendarat erat padamu. Sambut aku, berikan aku celah pada bibirmu yang basah. Dan rasakan betapa gairah ini tercipta. Tak kau rasa lagi dingin yang sejak tadi mengancammu bukan? Aku akan membantumu melawannya.

Oh hari, aku kini memujamu. Panjangkanlah waktumu. Aku ingin selamanya. Bersama kamu yang kini tengah mendengkur lirih di sampingku yang tak bosan-bosan membelai rambutmu. Lalu pipimu. Lehermu. Dan kembali kepada rambutmu. Begitu sepanjang malam kuhabiskan. Mata tak kubiarkan mengatup. Karena aku tau, di sana rindu berdiam. Menunggu waktu untuk kembali mendendam. Lalu aku berhambur pada tubuhmu. Memelukmu. Erat. Dan erat. Biarlah, malam ini tak kubiarkan kau pergi. Malam ini aku ingin membunuh rindu itu sekali lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *