Monolog #1

Apa kabar kamu, Nona? Uh berapa windu kita tak berjumpa? Tapi rasanya, baru kemarin kita menghabiskan malam dengan sepiring flatter di meja. Juga berbatang-batang puntung yang mengantre untuk padam. Kopiku? Masih setia. Oh iya, sebelumnya aku ingin kamu sampaikan maafku pada Tuan. Karena rinduku tak beraturan. Sedang tak karuan. Sambil mengingatmu yang tengah mengenakan sweater biru dongker, lalu senyummu yang menawan.


Hei, aku menemukanmu pada tumpukan buku-buku. Pada sederet kata-kata yang manis. Kamu tepat berada di bagian paling cantik. Tiba-tiba tersenyum. Lalu aku takluk pada senyum pertamamu. Siapa namamu? Ah, hampir ku lupa, Sifa. Aulia Falasifa.Biarkan aku bertanya tentang mengapa. Mengingatmu lagi, ada getar yang tiba-tiba keluar. Menguap bersama asap. Bersama kepulan kopi yang baru saja diseduh. Kopi yang tak terlalu manis, bukan? Ia juga hobimu ternyata.
Hari kemenanganku merupakan hari pertama aku bisa duduk berdua denganmu. Duduk di hadapanmu. Hanya aku dan kamu. Diantara kita, ada cangkir yang tengah cemburu. Pada kalimat-kalimatmu. Pada kata-kata yang menjelma getar, lalu tertangkap oleh kupingku. Aku tersenyum memandangi kepulan asap kopi yang berkali-kali berusaha menggapai getaran kata-katamu, tapi tak kunjung bisa. Aku meliriknya, lalu membagi rasa.


Malam kedua, bagiku hanyalah sandiwara. Dimana aku mengagungkan Tuan agar bisa kau terima. Tapi percayalah, aku menjadi acuh. Tentang bagaimana sebuah akhir, aku tak peduli. Tentang kita malam itu, adalah anugerah. Ingin sekali aku menggenggam erat jemarimu saat itu, sekali lagi aku urung. Kau terlalu suci untuk aku yang terlanjur tak peduli. Lihatlah, malam itu sungguh hangat. Di bawah kaki sang arga pura, kita bercanda tentang dunia. Tentang bagaimana seorang wanita dan cerita-cerita. Aku suka. Kamu pun juga, kurasa. Iya kan? Bilang saja iya. Jangan lagi berdusta.


Malam ketiga, untuk kita adalah sebuah akhir dari cerita. Aku akan pergi. Melukis rembulan pada hidupmu yang megah. Pelangi sudah ada yang punya. Rembulan hanyalah untukmu belaka. Hari itu aku tak ingin beranjak. Pada sofa yang bisu. Membeku karena akan kehilangan seorang aku. Sekaligus bertanya pada Nona, kenapa tiada basah pada bekas rembulan yang telah ku lukis padanya. Oh hai, semalam rupanya dia tlah sirna. Tiada tangis air mata pada sepasang pipi yang selalu saja merona.


Malam terakhir, segenggam liontin mendarat sembunyi-sembunyi pada tangan lentik itu. Sembunyi dari keinginan Tuan untuk segera menghapusnya. Kau terima saja. Setidaknya saat aku menganugerahkannya. Jikapun nanti kau buang, asal tidak di depan mataku, itu tak mengapa. Saat ini, aku pun yakin itu sudah kau lakukan. Hatimu selalu pada Tuan. Tuan yang pada hari kedua aku serahlan padamu. Dengan penuh kepura-puraan.


Nona, saat ini aku rindu. Betapa kamu tau, apa yang lebih menyedihkan daripada rindu yang tak lagi mungkin bertemu? Aku titip padamu, secangkir kopiku yang belum juga kosong. Bersiap-siap, jika suatu hari kau datang. Memintaku untuk memesan secangkir kopi yang tak terlalu manis.

Portacamp, 24 Mei 2019 10:26 PM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *