Tentang Hidup…

Terkadang…
Semua Slalu kupertanyakan
Entah itu tentangmu,
Tentangku, tentang kalian,
Dan tentang semuanya

Apa artinya untukku
Tujuan sebenarnya
Belum juga kutemui

Bukan surga ku tatap
Juga neraka ku ratap
Lebih pada kesejatian
Aku tetap tak mengerti

seperempat abad usiaku
Ku berjalan di tengah
gelapnya dunia tanpa arah
Hanya sebatang lilin
Temani, terangi
Dan ku trus mencari
Apa tujuan hidup ini
Walaupun aku…
Tetap tak mengerti

Sayangku…

Sayangku…
Apa engkau masih disini
Setia menemani, tak terarah langkahku
layukah senyum di bibir indahmu
ketika semakin jauh aku dari jalanku
Tetaplah disini…

Sayangku…
Merah wajahmu slalu membiusku
tidurkanku di antara lelahku
walau ku tau…capai tubuhmu
turuti semua inginku
tetaplah disini…

Kurasa cinta ini semakin merasuk
hingga sulit kurasakan adanya
Engkau tlah menyatu dalam rusukku
Menopang beban tubuhku
Sayangku…

Sayangku…
Jangan kau bertanya
tentang keraguan
tentang semua yang kau sebut itu “CINTA”
dan katakanlah
bahwa aku kan menuntunmu
bersama dalam tujuan kita,
Tetaplah disini…

sejenak…
tinggalkanlah penat hidupmu
slalu ingatlah suaraku
“I Love U”

Argha
Bogor, 11 Mei 2011
Special for : Lita

Selamat tinggal, Pelangi

Ku kan terbang

Membaur dengan angin

Menelusup, merasuk di sela jantungmu

Mencari dimana letaknya cinta

Bagai badai, kujelajahi semua ruang hati

Ku temui satu aroma asmara

Membius melingkup di sudut mata

Menggerkkan bibir yang terluka

Walau indah, ku tau semua semu

Dan kini, ku terbang melayang

Kembali menuju mentari

Dan berpaling dari PELANGI

(Argha, 30-12-‘10 00:45)

 

Sebuah Persembahan untuk SHIRO

Kawan, satu jam yang lalu sebelum aku menulis cerita ini, aku menangis. Menangis karena kurasakan rindu yang begitu dalam kepada kalian. Entah kenapa tiba-tiba aku teringat saat-saat bersama kalian. Ku buka keping demi keping piringan Compact Disc ku. Hatiku kembali terpanggil ke masa-masa itu. Di saat kita teriakkan kata “Hore” saat ada jam kosong dalam belajar, saat bel pulang sekolah terdengar lebih awal, dan saat pelajaran Biologi semester 3 dimulai, juga pelajaran Seni yang tak ketinggalan. Semua itu membekas dalam senyuman kalian. Sangat berbeda saat pelajaran Kimia semester 5 berlangsung. Aku sangat ingat saat-saat ketegangan itu mulai muncul di hati. Mendengar suara langkah sepatu “tok tok tok” yang kian mendekat menandakan bahwa Olahraga Jantung akan segera dimulai. Wajah-wajah serius dan seolah membaca buku Piranti Kimia terpasang di raut wajah kalian. Pelajaran Bu Sri Subekti selalu kami nanti. Rindu rasanya bila mengingatnya.
Kawan, aku yakin, kalian juga merasakan rasa yang sama sepertiku. Rasa untuk kembali ke masa-masa itu. Walaupun kadang kita terpecah akibat kesalah pahaman atau perbedaan pendapat, namun itu tidaklah bertahan lama. Aku, dan pasti kalian, sangat merasakan kehilangan seorang teman seperjuangan kala kita duduk di awal kelas XII. Iya, Agus yang biasa kita panggil Akik. Itulah rasa pertamaku.
Teman, sadarkah kalian bahwa slogan yang ada di tembok bagian kiri kelas itu kini semakin terpaku dalam hati ini? Sadar atau tidak, slogan yang kita buat dengan kebersamaan itu kini terpetri sempurna di hatiku. Slogan yang mengajarkanku arti kebersamaan. Baru kini ku sadar bahwa kata-kata itu juga membuatku bangkit dari ke ego an ku.
Wahai temanku, apakah kalian ingat tempat duduk di depan kelas kita? Di situ kita pernah mengukir nama dan tanda tangan kita. Menorehkan tinta sejarah di SMA 2. Aku sangat ingat kejadian itu. Dengan penuh tawa, kalian menuliskan nama-nama kalian dengan penuh semangat. Seakan tak ingin tulisan itu hilang dari tempatnya melekat. Jika bisa, aku ingin pergi ke tempat itu dan melihat kembali prasasti yang telah kita torehkan. Aku bisa melihatnya dari sini kawan. Tidakkah kalian melihatnya juga?
Kawanku,
Aku tersenyum dalam lamunanku. Teringat puisi yang dibawakan Agus kala kita duduk di kelas XI. Seolah canda tawa kalian kini berada di samping telingaku. Aku kembali tersenyum saat teringat kata “Pis of yes”, ahh, hal itulah yang membuatku semakin ingin bertemu kalian.
Kawan, apakah kalian ingat dengan kata-kataku sebelum aku bernyanyi di depan kalian saat pelajaran seni? Apakah kalian merasakannya kawan? Lagu yang ku bawakan kala itu, kini telah mengisi hari-hari sepiku tanpa kalian. PETERPAN “SEMUA TENTANG KITA”. Lagu itu selalu menemani mandiku. Kujadikan sebagai nada dering ponselku, agar ku selalu teringat kalian.
Kawan, senyuman kalian lah yang selalu ku rindu. Kebersamaan kita lah yang selalu ku nantikan saat libur panjang datang. Namun kawan, diluar XII IA 2, sangat susah kurasakan untuk bertemu kalian. Aku mencoba menahan air mata rinduku. Walau kadang tak bisa lagi terbendung.
Tulisan ini ku buat untuk kalian, untuk mengurangi semua beban. Lantunan doa-doa selalu ku ucap lirih untuk memohon kepada Nya, agar kita bisa sukses mencapai apa yang kita harapkan. Amin
Selalu ku tunggu kehadiran kalian di setiap libur-libur panjang.

Yang selalu merindukan kalian,
Argha Aditya Cipta Nugraha.

Lagu kenangan

kembali ingatanku terpanggil. ketika Alim mengingatkan aku tentang lagu pertama yang kami mainkan saat kami bermain musik.

BINTANG DI SURGA by Peterpan, menyisakan sejuta kenangan di hati kami.

kami biasa menyebutnya STAR IN HEAVEN. salah satu lagu yang akan termasuk menjadi saksi sejarah persahabatan kami. lagu yang bisa dibilang menceritakan diri kami sendiri. menceritakan diri kami yang belum pernah merasakan indahnya cinta. tersebut dalam larik yang berbunyi “Lelah tetapku mencari hati untukku membagi menemani langkahku walau tak berarti”. ketika kami telah menemukan seseorang yang kami anggap terbaik, ketika itu pula mereka meninggalkan kami dengan bekas yang sulit hilang di benak kami. kala itu kami ber 4 sama-sama kehilangan orang yang kami sayangi dalam satu minggu yang sama. tak akan terelakkan lagi, hati kami kala itu sungguh tak berbentuk. sedih, susah bercampur menjadi satu. namun dengan semangat kami yang tak pernah padam, kami tak membiarkan orang yang kami sayangi itu pergi begitu saja dengan luka di hati kami. di situ kami memanfaatkan even-even hari yang kami sendiri tak tahu dari mana sejarahnya. VALENTINE. kami memanfaatkan momen itu untuk kembali menarik hati orang-orang yang kami sayang. berbuah hasil memang walaupun tak semanis buah durian montong. tapi kami telah membuktikan bahwa kami berbeda dengan anak-anak lain, kami sangat menjunjung tinggi kesetiaan. itulah yang kurasa membuat kami berasa istimewa.

lagu inipun sempat kami bawa ketika ujian akhir mata pelajaran seni. walaupun dengan alat yang kurang menunjang, kami tetap dengan semangat memainkan lagu itu. sungguh berkesan bagiku walaupun sebenarnya kulihat Guru ku memalingkan telinganya karena bisingnya suara Drum yang dipukul Sugus ( Andrian ) dan suara sound sistem yang bisa dikatakan hampir meledak itu. memang peralatan yang sangat sederhana dan reyot menurutku. tapi biarlah. anak kami nanti pasti menyunggingkan senyumnya untuk cerita kami ini.

pernah kami ingin menyumbangkan lagu dalam acara pelepasan kala itu. namun karena hanya satu lagu yang kami kuasai dengan baik, kami mengurungkan niat kami untuk mengisi. iya, lagu itu tetaplah STAR IN HEAVEN. terasa tanggung memang jika kami berada di atas panggung hanya menyanyikan satu lagu. kami putuskan untuk hanya melihat penampilan teman-teman kami yang mengisi dengan berbagai acara. senang kala itu kami rasakan. semua wajah yang hadir tampak memberikan lukisan senyum yang memang mereka rasakan indahnya walaupun ada sebagian teman kami yang tidak lulus saat itu. namun hal itu tidaklah menjadi penghambat untuk mereka tersenyum.

lagu itu terus kami bawa setiap bermain musik. sungguh indah terdengar di telinga kami.

namun di balik liriknya yang menggambarkan kekecewaan, salah satu lirik lagu itu juga kami jadikan motivasi dalam hidup.
“Dan bila semua tercipta tanpa harus ku merasakan cinta yang tersisa, hampa hidup terasa”.
kami terdorong untuk mencari kembali sisa-sisa cinta dalam hati kami untuk terus mencari dan mencari kekasih yang bisa mengimbangi kesetiaan kami. itulah yang biasa kami sombongkan dalam hati kami. memang setia itu mahal harganya, ketika kesetiaan di balas dengan dusta dan air mata. sudah cukup bagi kami merasakan bekas-bekas luka yang sudah menancap di hati kami. kembali kami terbangkit dalah kesedihan, dan kembali menyongsong indahnya CINTA.

semoga lagu ini kembali bisa kita mainkan. dengan suasana kebersamaan yang sama, kebahagiaan yang sama, namun ku berharap dengan kondisi yang berbeda. kondisi yang pastinya lebih baik dari hari-hari kemarin. tak hanya dengan 4 orang dalam studio, bersama ibu dari anak-anak kami, bersama si kecil buah hati kami. aku akan menantikan saat-saat itu sahabat.

By : Argha Aditya Cipta Nugraha
Inspired by : Alim Adi Tantomo
Special presented to : Alim Adi Tantomo, Andrian Fauzi Desmalasa, dan Feri ketut Wijanarko & Fam