Akhlak

Dulu saya pernah posting di facebook mengenai bagaimana kalau saya hidup di jaman awal Muhammad mendapat gelar kenabian. Kurang lebih postingan saya seperti ini:

Andai saya hidup di zaman Muhammad, mungkin saya tidak percaya dengan kenabiannya jika saya melihat dari kepintaran Muhammad. Karena disebutkan bahwa Muhammad tidak bisa baca tulis.

Lalu pikiran lain muncul, bahwa di zaman itu, pengikut pengikut Muhammad tidak menjadikan hal tsb sebagai dasar mereka mengakui gelar kenabiannya. Adalah semua perilaku Muhammad yang membuat pengikutnya memercayai kenabiannya. Segala hal yang dilakukan Muhammad adalah murni keluhuran sempurna manusia. Mungkin hal itu juga yang menjadikan dasar adanya hadist yang berbunyi, Continue reading “Akhlak”

Metafora

Senja masih dengan warna keemasan yang semakin menggoda saat nyiur terus melambai santai tertiup angin pantai. Laut juga tak kalah riuh oleh suara muda-mudi yang tertawa sambil sesekali menekan tombol shutter berkali-kali. Mereka berusaha mengabadikan alam yang sebenarnya semakin terseok-seok menjalani waktu demi waktu yang telah diberikan Tuhan.

Di belakang sana, dibalik payung pantai yang terjajar rapih, sepasang muda tengah membicarakan tentang hari esok. Samar terdengar lirik merdu

‘…malam jadi saksinya, kita berdua diantara kata yang tak terucap…’

beradu dengan deburan ombak. Sang wanita nampak terhanyut oleh suasana, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu sang lelaki. Sang lelaki menyambutnya dengan gembira.

Senja selalu saja menjadi bulan-bulanan rindu dan cinta manusia. Beberapa jejer tripod yang berdiri menopang sepasang kamera dan lensa menjadi bukti bahwa senja belum juga membosankan. Bagi hari, senja adalah penutup terang. Namun untuk manusia, senja berarti cinta yang tak pernah ada habisnya.

Seperti kamu, entah bagaimana mengisyaratkan cinta jika tak ada selainnya yang mampu menjadi metafora.

 

(Pulau Merah, 19 September 2017)

Dia

Barangkali,

Dia adalah titik air yang membasahi dahaga sang tanah saat musim basah tak kunjung menemuinya dalam detik-detik harap yang sedikit ragu-ragu.

Mungkin juga,

Dia adalah pemimpin gerombolan burung pantai yang tengah hijrah mencari daratan yang penuh dengan bebuah. Lalu sekumpulan di belakangnya menyerbu dengan peluh juga rangkaian gundah.

Atau juga, kubayangkan

Dia seperti melodi yang tanpa ia sadari membuat orang di sekelilingnya bernyanyi.

Dan

Dia angin yang datang menyerang hingga kau merasa menggigil kedinginan.

Dia panas yang menyengatmu tanpa perlu takut disebut beringas.

Dia kata yang dapat berdiri tanpa ada aksara.

Dia menyerbu, menusuk, dan mengalunkan denting nadi lalu bermain dengan musiknya sendiri.

Dia tanpa takut disebut pencuri dan membawa pergi ragamu tanpa harus permisi.

Dia datang dan memandangmu, seakan esok tak akan pernah terjadi.

Seakan hari ini menjadi abadi.

 

(Tepian Pantai Pulau Merah, 18 September 2017)

Bersyukur

Beberapa kali, saat saya tiba dari tanah rantau, saya sempatkan mengobrol dengan sopir taksi atau ojek yang saya naiki. Bertanya ini itu, mulai dari cuaca bebeeapa hari belakangan hingga sedikit mengenai kondisi negara, walau pemahaman saya tak pernah luas untuk masalah kenegaraan.

Dalam beberapa obrolan itu, banyak yang mengeluh tentang tingginya harga minyak (bbm), listrik, hingga pulsa. Pemerintah tak pernah memerhatikan ‘wong cilik’, rengek mereka. Saya hanya tersenyum sambil sesekali memainkan handphone. Setelah rengekannya reda, segera saya ceritakan sedikit pengalaman saya berada di antara warga Indonesia di luar jawa hingga di pulau terpencil sebelah utara Timor Leste. Continue reading “Bersyukur”

Selamat Ulang Tahun

Hari ini, jarak dan waktu masih bersekutu menahan lenganku untuk memelukmu. Mengantarmu menuju usiamu yang bertambah satu. Laut, udara, serta ribuan mil hamparan bumi sepakat membutakan mataku untuk menatapmu. Lalu getar suara dengan sempurna memupuskan bisik lembut di telingamu.

Hari ini, aku masih bersahabat dengan rindu. Semakin akrab. Dan kau, kubayangkan sedang menantiku di ujung ruangan. Sambil menutup mata dan menghitung satu dua. Berharap lenganku mampu merengkuh tubuhmu.

Sayang, dua kali dua belas September ku lewatkan tanpa membisikkan ucapan yang kau nantikan langsung pada telingamu. Juga beberapa kuntum bunga yang tak kunjung tiba pada daun pintu depan rumah kita. Tapi di antara semua itu, aku berharap doa yang ku senandungkan di antara sujud sujudku telak tersampaikan padamu. Kurasa, angin tak bisa begitu kejam memotong barisan harap pada usiamu kelak.

Kau adalah bagian yang menggenapi ganjilku. Seperti satu yang menggenapkan satu lainnya. Semoga engkau selalu menjadi malaikat yang menjadi obat bagi tangis keturunan kita. Juga nama lain Tuhan bagi rengekanku yang kekanakan. Dan terus menjadi senja yang tak akan pernah tau arti selesai.

Selamat ulang tahun, Sayang.

Dengan kasih abadi,

 

(Wetar, 12 September 2016)