Foto Stage: Ngabuburit bareng GIGI Reunion, Bogor

Sabtu, 4 Agustus 2012, saya kembali mendapat kesempatan untuk mengabadikan foto salah satu konser yang rutin diadakan setiap tahun di bulan ramadhan. Ya benar, GIGI (Reunion) bersama Djarum Coklat dan Woods tahun ini menyambangi Kota Bogor. Bertempat di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, konser “Ngabuburit” bersama GIGI ini masih dan semoga selalu bisa dinikmati secara cuma-cuma alias gratis. Walaupun sebenarnya saya kurang begitu familiar dengan lagu-lagu GIGI selain “Janji”, “Pintu Surga”, dan “Nakal”. Tujuan saya sebenarnya hanyalah untuk mendapatkan foto panggung dari salah satu Band papan atas Indonesia.

Beruntung ketika saya dan Mas Ro (salah satu senior saya di Fahutan IPB) tiba di lokasi, para penikmat GIGI belum terlihat memenuhi area panggung. Padahal sempat was-was ketika melihat baliho super besar yang menuliskan bahwa start mulai pukul 15.00 hingga pukul 22.30 dan ketika sekilas membaca baliho tersebut, jam sudah menunjukkan angka 3 lebih. Seusai parkir kendaraan, kami segera merapat ke panggung setelah sebelumnya adu narsis di background personil GIGI yang disediakan panitia khusus untuk poto-poto. Akhirnya kami berdiri tepat di balik pagar yang membatasi penonton member dan non member GIGI Kita (menurut informasi dari Mas Ro, penonton yang sudah menjadi member GIGI Kita bisa masuk ke dalam pagar hingga bisa lebih dekat dengan sang idola, entah benar atau tidak saya yang hanya sebagai penikmat musik cuma bisa mengangguk). Sempat terbesit penyesalan karena saya mengurungkan niat untuk membawa senjata saya –Nikon D3100- karena khawatir akan terjadi hal-hal di luar dugaan, salah satunya tawuran yang biasanya terjadi di konser-konser musik gratis Indonesia. Berbekal kamera pocket bertuliskan Olympus pinjaman dari salah seorang teman, saya mencoba mengabadikan moment-moment konser yang penuh dengan tantangan. Kenapa tantangan? Karena begitu susah untuk mendapatkan foto yang tajam dengan banyaknya gerakan para personil. Agak sedikit salah memilih tempat karena arah matahari yang berada di 90o sebelah kiri saya sehingga foto yang dihasilkan kurang maksimal. Apalagi dengan hanya berbekal kamera pocket. Berikut foto-foto hasil jepretan saya selama aksi panggung,

 

Mungkin tulisan ini juga sedikit me-review kemampuan Olympus VR-310.

Performa memotretnya saya rasa kurang jika digunakan untuk memotret objek dengan banyak gerakan. Autofokusnya juga sering terjadi miss sehingga hasil gambar tidak tajam pada objek utamanya. Kemudian prosesing setelah jepret juga termasuk lama sehingga seringkali kehilangan momen yang baik. Keunggulan dari kamera ini terletak pada zooming hingga 10 kali dan kemampuan untuk menangkap warnanya yang sangat baik. Namun untuk menjadi senjata pada sebuah konser atau foto panggung, tidak disarankan memakai kamera ini. Namun jika untuk mengabadikan pemandangan, kamera ini sudah tepat untuk menemani jalan-jalan anda.

Salam.

Foto Stage “Jungle Jazz” -ala Fahutan-


 

Foto-foto di atas saya ambil ketika ada sebuah pertunjukan musik bertema “Jungle Jazz” –ala kampus- yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Kehutanan IPB beberapa waktu yang lalu. Dengan bersenjatakan Canon EOS Kiss X3 (pinjaman) + lensa tele 55-250mm jebolan Jepang, saya mulai belajar menangkap momen-momen di panggung. Setahu saya, para senior fotografi menyebutnya dengan Foto Stage. Memang agak susah membuat kamera mendapatkan cukup cahaya dengan bukaan lensa yang bisa dibilang lumayan kecil itu. Dengan bukaan f5.6 dan minimnya cahaya membuat seorang pemula seperti saya cukup kebingungan. Kekhawatiran kembali muncul ketika keputusan menaikkan ISO harus dilakukan. Pasti hasilnya akan banyak “pasir”. Namun daripada kehilangan momen penting, mending saya ambil resiko menaikkan ISO. Karena menurut pendapat para senior, saat ini banyak software yang bisa mengurangi noise yang dihasilkan karena ISO yang tinggi. Hal itu cukup membuat saya lega.

Terimakasih saya ucapkan kepada Mas Arya Primasatya yang meminjamkan kamera beserta 3 set lensa pada saya selama lebih dari 1 tahun. Sebagai sarana saya untuk belajar fotografi.

Salam.

Still Life

Sebenarnya saya pribadi mempunyai sebuah ketertarikan dengan sebuah foto hitam putih (BW). Hal ini mungkin karena lingkungan saya sehari-hari di waktu kanak-kanak adalah sebuah keluarga Jawa yang sederhana. Mungkin karena kesederhanaan itulah membuat saya selalu ingin kembali ke masa-masa itu. Dimana kolaborasi warna yang “ngejreng” belum banyak terlihat di sana. Selain itu foto hitam putih terkadang menyampaikan sesuatu yang sekarang sudah hampir dilupakan padahal sangat populer di eranya. Hal itu semakin membuat saya tertarik untuk mengabadikan sesuatu tersebut dalam bidikan lensa saya. Walaupun nanti akhirnya sesuatu tersebut hilang, setidaknya saya bisa menunjukkan foto-foto saya kepada anak cucu saya kelak bahwa pernah ada benda tersebut di dunia ini.
Salam,

Bunga

 

Bunga. Sesuatu yang biasa digunakan untuk menggantikan keindahan, entah untuk kecantikan seorang wanita atau sekedar mengungkapkan keindahan bunga itu sendiri. Selalu menarik untuk dipandang dan selalu dielu-elukan. Bahkan bukan hanya manusia saja yang mendambakan keindahan bunga, kumbang, selalu mengintai dari udara dan siap untuk menancapkan jarum dan mengambil madunya. Bunga, damaikan hatiku tuk melihatmu.