Kelas Ekonomi, Sosial, dan Kebaikan

Well, dalam waktu yang tak lama saya mengakui bahwa adanya kelas-kelas yang tak secara formal dibuat membuat sifat kemanusiaan manusia perlahan terkikis. Kelas ekonomi, dimanapun itu asal masih tetap di Indonesia, menjadi hantu yang nyata bagi semua kelas manusia kecuali untuk penjahat yang berkasta pencopet. Pencopet sukses membuat citra hantu pada kata ekonomi. Karena akan ada rasa curiga setiap kali ada seseorang tak dikenal mulai berbasa-basi pada kita. Disinilah pengaruh media mulai meracuni kepribadian makhluk yang berdasarkan sosial. Memang, waspada dan curiga hanya setebal benang sutra. Tapi mata uang tak pernah hanya satu, pasti berpasangan. Hitam dengan putih. Pasti memiliki sisi lain, apapun itu. Begitu juga dengan kelas ekonomi dengan segala sisi gelapnya.

Perjalanan berawal dari rencana dadakan seorang pasca-mahasiswa penganggur. Selain karena memang hanya ada kelas ekonomi untuk sebuah tujuan, kantong pun menyentak jika memilih kelas eksekutif atau bisnis, walaupun tersedia. Dengan uang saku pas-pas an namun tetap PD (inilah yang saya simpulkan untuk para mahasiswa aktivis, keren dengan dompet tebal karena cuplikan-cuplikan orasi). Masih pada stasiun transit pun duit sudah ludes untuk membeli sekotak rokok, 3 buah roti maryam, dan sekotak nescafe. Jarum jam masih memberi toleransi waktu untuk mengunjungi mesin uang, saat itu. Commuter sudah menjemput, saya segera bergegas. Tak ingin menyia-nyiakan toleransi yang diberikan oleh waktu. Sial. Berjarak setengah jam dari stasiun keberangkatan, kereta bertenaga listrik tersendat. Limabelas menit, mungkin lebih, karena hitungan limabelas menit saya mulai ketika saya kembali bisa membaca arloji yang setia berdetak mengiringi pompa jantung. Pasti panik. Karena hanya orang bodoh untuk berpikir tak mau menaiki kereta dengan dalih balas dendam karena dahulu kereta pernah meninggalkannya. Namun ternyata doa-doa saya, atau kami lebih tepatnya karena ternyata bukan hanya saya yang memiliki tiket kereta tersebut, terkabul. Masih ada waktu untuk mengejar kereta, dengan lari-lari panik tentunya. Dan toleransi untuk mengunjungi mesin uang pun dialihkan untuk menukar tiket online dengan tiket aslinya. Kesimpulannya adalah, tak cukup lagi bekal rupiah untuk membeli sebotol air mineral kemasan terkecil pun. Mungkin bagi sebagian orang, tidak membawa uang cash adalah cara teraman untuk memerangi copet di kelas ekonomi. Tapi percayalah, hal itu justru akan menyiksa diri anda. Tidak percaya? Silakan dicoba. J

K3-5-11B. Kode untuk penumpang kelas 3 (ekonomi) gerbong lima dan nomor kursi 11B. Disini bayang-bayang hantu pencopet jauh dari benak saya. Selain memang tak ber-uang juga karena pengelolaan yang nampak kontras dari beberapa bulan lalu. Masih ada 2 buah roti maryam dalam tas pinggang. Tak ada air, tak apalah. Di kelas ekonomi yang terbayang negatif di mata orang-orang inilah justru seorang manusia akan merasakan kodratnya sebagai manusia sosial. Dimana sudah tidak ada lagi kecurigaan kepada seseorang yang bahkan baru kita kenal bau mulutnya memulai pembicaraan kepada kita. Saling bertanya tujuan mungkin menjadi pertanyaan mayoritas orang di kelas ekonomi ini. Dan disitulah keakraban mulai terjalin. Juga untuk sebuah kelas-kelas yang terbentuk, disinilah tempatnya untuk membuang semua pangkat dan jabatan kita di luar. Membaur. Tidak hitam dan tidak putih (filosofi warna Kebangsaan Fakultas Kehutanan IPB). Abu-abu. Obrolan ringan hingga berbau sejarah kebangsaan mewarnai perjalanan Jakarta-Surabaya. Seorang akuntan mendominasi obrolan, karena menurut saya orang tersebut terlalu berwawasan untuk hanya sekedar menjadi seorang akuntan. Sejenak melupakan rengekan perut yang sedari pagi belum disuplai pasokan makanan yang cukup. Lupa yang disengaja mungkin. Karena waktu belum memberikan toleransi keduanya untuk menyambangi mesin pemberi rupiah. Dompet pun masih menganga tanpa bobot.

Obrolan yang semakin hangat rasanya semakin menguras tenaga yang seharusnya dihemat agar tak loyo akibat kekurangan daya. Perut kembali memberontak. Sebuah bekal roti maryam kembali menyambangi Sang Perut dan merayunya agar tak lagi meronta. Waktu masih menyimpan angkuhnya untuk saya. Tak disangka seorang akuntan lawan obrol yang sedari tadi cukup membuat saya merasa bodoh dengan hanya menjawab “kurang tau” saat ditanya sejarah kebangsaan berbuat kebaikan yang pada tempatnya. Sebungkus nasi lengkap dengan lauk ditawarkan kepada saya. Mungkin beliau ini menguping atau tak sengaja mendengar obrolan saya di telepon bahwa tak ada uang sepeserpun di kantong, atau mungkin juga karena analisa beliau kepada saya yang kerap kali keluar gerbong dengan kata-kata yang selalu menyebut ATM dan kembali dengan muka kecewa. Atau yang paling sempurna adalah ketika tawaran sebotol air mineral saya terima tanpa ada keraguan. Seorang high yang tetap low. Saya rasa tak banyak orang yang memiliki sifat seperti beliau.

Inilah sisi lain dari kelas ekonomi yang sempat membuat trauma para objek kejahatan. Mungkin saja obrolan-obrolan syarat dengan pengetahuan, atau kami biasa menyebutnya SKS jalanan kala masih mengampu bangku S-1, sampai kepada berbagi makanan tak bisa ditemukan pada kelas eksekutif. Saya pribadi sempat mengalami perjalanan dalam kelas eksekutif. Sesungging senyuman terpaksa yang keluar menjadi awal sekaligus akhir dari komunikasi antar dua orang yang baru bertatap muka. Bagi saya pribadi, perjalanan dengan kelas eksekutif sesungguhnya memiliki sisi lain yang lebih mengerikan dibandingkan dengan teori masyarakat tentang kejahatan pada kelas ekonomi. Karena kengerian pada kelas ekonomi berdampak pada materi dan mempunyai sisi lain yang bisa saya katakan memanusiakan manusia. Di kelas eksekutif menawarkan kenyamanan dan ke-privat-an dalam sebuah perjalanan, sekaligus memiliki sisi lain yang lebih mengerikan. Yaitu terkikisnya nilai-nilai kita sebagai manusia sosial.

IMSO,

Kediri, 12 Juni 2013

Selamat tinggal, Pelangi

Ku kan terbang

Membaur dengan angin

Menelusup, merasuk di sela jantungmu

Mencari dimana letaknya cinta

Bagai badai, kujelajahi semua ruang hati

Ku temui satu aroma asmara

Membius melingkup di sudut mata

Menggerkkan bibir yang terluka

Walau indah, ku tau semua semu

Dan kini, ku terbang melayang

Kembali menuju mentari

Dan berpaling dari PELANGI

(Argha, 30-12-‘10 00:45)