Wahyu: Satu sahabat masa kecil

1999-2000
Pagi itu ruang kelas yang ramai mendadak hening. Beberapa murid yang tengah asik bermain, kembali ke tempat duduk. Ada orang asing di antara kami. Ya, ada anak baru yang bergabung di kelas kami. Wahyu namanya. Sekilas, aku agak manyun. Karena dia bisa jadi pesaingku dalam hal kegantengan. Wajah dan perawakannya bersih. Bajunya rapih. Dan satu hal yang sepertinya mirip denganku, potongan rambut mandarin dengan belahan pinggir. Sial. Padahal, sudah 3 tahun ini aku merasakan seperti seorang idola di SD Negeri 1 Ngampel. Seorang idola yang mengidolakan Maissy Pramaisela. Kami semua terdiam, bingung akan keadaan yang baru kami alami. Kedatangan murid baru adalah hal yang amat jarang terjadi. Apalagi di sekolah desa yang lumayan terletak di pelosok pedalaman. Siapa yang mau sekolah di sana selain kami yang sehari-hari hidup di sekitarnya? Satu-satunya pengetahuan tentang murid baru adalah bersumber dari televisi. Dan kami tak tau bagaimana caranya berkenalan.

Continue reading “Wahyu: Satu sahabat masa kecil”

Dialog Meja Sebelah.

​”Semua berubah, Akbar. Tak terkecuali wanita. Zaman terus berjalan, manusia menua….”,

“Ya, aku sepakat dengan kata-katamu.”

“Sekarang mungkin kau sedang memujaku dan melupakan kekasihmu. Tapi masih ada esok, lusa, dan hari-hari yang tak berbatas.”

“Jadi kita berbicara tentang waktu? Belasan tahun aku meredam rindu dan amarah hanya untuk menemukanmu. Berapa banyak denting jam seperti memukul mukul kepalaku waktu aku ingat betapa kerapuhanku yang membuat keadaan ini….” Continue reading “Dialog Meja Sebelah.”

Matebon.

Pernah salah satu kawan saya, Matebon, membuat gemetar orang serumahnya. Betapa tidak, ia dengan blak-blakan meminta persetujuannya untuk menikah (lagi). Sontak, hal tersebut membuat tangis istrinya, yang sedang hamil muda, meledak. Tapi itulah kawan saya, bukan dia tidak waras lagi, dia sudah memastikan sebelumnya bahwa hari ini akan terjadi. Tangisan istri dan guratan kecewa orang tuanya sudah terlukis mendetail di benaknya. Juga tatapan lugu anaknya yang masih 5 tahun, tatapan polos dan tak tau apa-apa. Malam itu, langit seakan menumpahkan amarahnya pada keluarga Matebon. Petir nampaknya sudah memastikan targetnya malam itu – hati si perempuan.

Continue reading “Matebon.”

Mala.

Ada sebaris senyum yang hingga saat ini masih terbayang dalam ingatanku. Senyum manja bersama rentetan senja yang tak juga berhasil ku cerna. Siapa lagi si empunya senyum itu, kalau bukan kau, Mala. Di sepanjang jalan menuju pulang, bersama kayuhan kecilmu, aku berakhir. Aku berakhir merindukanmu. Kau berhasil memalingkan anganku, dari sebuah senja yang kupuja. Senja yang masih lugu, membasuh lembut punggungku. Imajiku terbang, mungkin belaimu akan menyempurnakan senjaku, lalu sebaris senyummu akan telak membunuhku.

***

Malam masih malas untuk beranjak. Rintik embun juga masih melekat pada helai daun yang melengkung, memberinya jalan untuk terjatuh. Menyapa bumi. Bukankah semua akan berserah pada tanah? Terserap dan musnah. Sedari malam, aku tak bisa memejam. Lama aku terduduk, jemariku dengan malas meraih sebotol bir yang sudah lama berdiri di ujung meja. Bir yang tadinya dingin. Juga sebatang tembakau tak luput dari raihanku. Jantungku berdetak teratur. Mataku berat kurasa. Seketika sekelebat wajahmu mengisi kesepianku. Oh Mala, tak bisakah sedetik saja kau bebaskan aku dari belenggu rindu. Hingga saat ini, senyum manismu masih saja membayang dalam langit-langit kepalaku. Ia berlari, memutar, lalu jatuh ke dalam pelukanku. Lalu malam-malamku menjadi riuh oleh lincah gerakmu.

Continue reading “Mala.”

Desember [cerpen]

Desember adalah bulan yang akan melekat padaku, mungkin selama ingatanku ada. Desember menjadi pemisah antara aku dan kamu. Dan dengan bisikanmu, yang tak sedikitpun menyiratkan air mata, aku melangkah menjauh. Lalu sebaris sofa gelap di ruangan itu nampak sunyi. Begitu sunyi.

Biasanya dalam kondisi semacam itu, para lelaki meluapkan perasaannya lewat asap tembakau. Bagi mereka, tembakau bukanlah racun, tapi obat untuk beban yang tak mungkin mereka sampaikan. Tak terkecuali aku. Sebungkus tembakau filter tak perlu mengantri lama mengisi paru-paruku. Aku menghisap dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. Sekejap asap mengepul menuju angkasa raya.

Continue reading “Desember [cerpen]”