Selamat Ulang Tahun

Hari ini, jarak dan waktu masih bersekutu menahan lenganku untuk memelukmu. Mengantarmu menuju usiamu yang bertambah satu. Laut, udara, serta ribuan mil hamparan bumi sepakat membutakan mataku untuk menatapmu. Lalu getar suara dengan sempurna memupuskan bisik lembut di telingamu.

Hari ini, aku masih bersahabat dengan rindu. Semakin akrab. Dan kau, kubayangkan sedang menantiku di ujung ruangan. Sambil menutup mata dan menghitung satu dua. Berharap lenganku mampu merengkuh tubuhmu.

Sayang, dua kali dua belas September ku lewatkan tanpa membisikkan ucapan yang kau nantikan langsung pada telingamu. Juga beberapa kuntum bunga yang tak kunjung tiba pada daun pintu depan rumah kita. Tapi di antara semua itu, aku berharap doa yang ku senandungkan di antara sujud sujudku telak tersampaikan padamu. Kurasa, angin tak bisa begitu kejam memotong barisan harap pada usiamu kelak.

Kau adalah bagian yang menggenapi ganjilku. Seperti satu yang menggenapkan satu lainnya. Semoga engkau selalu menjadi malaikat yang menjadi obat bagi tangis keturunan kita. Juga nama lain Tuhan bagi rengekanku yang kekanakan. Dan terus menjadi senja yang tak akan pernah tau arti selesai.

Selamat ulang tahun, Sayang.

Dengan kasih abadi,

 

(Wetar, 12 September 2016)

Malam.

Kau malam yang selalu saja menolak kubangunkan.

Lalu aku, adalah lelaki yang mulai takut dengan pagi.

Seperti malam itu, tiba-tiba kau datang membawa jutaan bintang di mega angkasa. Lalu kau tambah lagi dengan purnama. Pertanyaanku, sanggupkah aku pergi tidur saja tanpa mengindahkan keduanya?

Dan pagi bergulir, kau masih ada namun pada pandangan yang tak pernah ku sangka.

Harus kuakui, beberapa kali aku berdoa agar hujan turun di pagi hari. Agar lembayung surya tertutup kembali. Seakan-akan malam tak pernah pergi, juga purnama dan jutaan bintang yang menggantung. Mulai saat itu, pagiku kubuat muram, muram. Biar langit terang, namun kau tak pernah lelap dalam hatiku yang kelam.

 

(Sesayap, 2 September 2016)

Diam

Sesekali, ijinkan aku hanya memandangmu.

Biar diam menjadi bahasaku.

Lalu gerak mataku, kau akan lihat,

mengisyaratkan serupa warna senja yang kau suka.

Karena, mungkin saja, kata-kata akan melemahkan aku dan kamu untuk menjadi kita.

 

(Sesayap, Januari 2016)