Matebon.

Pernah salah satu kawan saya, Matebon, membuat gemetar orang serumahnya. Betapa tidak, ia dengan blak-blakan meminta persetujuannya untuk menikah (lagi). Sontak, hal tersebut membuat tangis istrinya, yang sedang hamil muda, meledak. Tapi itulah kawan saya, bukan dia tidak waras lagi, dia sudah memastikan sebelumnya bahwa hari ini akan terjadi. Tangisan istri dan guratan kecewa orang tuanya sudah terlukis mendetail di benaknya. Juga tatapan lugu anaknya yang masih 5 tahun, tatapan polos dan tak tau apa-apa. Malam itu, langit seakan menumpahkan amarahnya pada keluarga Matebon. Petir nampaknya sudah memastikan targetnya malam itu – hati si perempuan.

Continue reading “Matebon.”

Mala.

Ada sebaris senyum yang hingga saat ini masih terbayang dalam ingatanku. Senyum manja bersama rentetan senja yang tak juga berhasil ku cerna. Siapa lagi si empunya senyum itu, kalau bukan kau, Mala. Di sepanjang jalan menuju pulang, bersama kayuhan kecilmu, aku berakhir. Aku berakhir merindukanmu. Kau berhasil memalingkan anganku, dari sebuah senja yang kupuja. Senja yang masih lugu, membasuh lembut punggungku. Imajiku terbang, mungkin belaimu akan menyempurnakan senjaku, lalu sebaris senyummu akan telak membunuhku.

***

Malam masih malas untuk beranjak. Rintik embun juga masih melekat pada helai daun yang melengkung, memberinya jalan untuk terjatuh. Menyapa bumi. Bukankah semua akan berserah pada tanah? Terserap dan musnah. Sedari malam, aku tak bisa memejam. Lama aku terduduk, jemariku dengan malas meraih sebotol bir yang sudah lama berdiri di ujung meja. Bir yang tadinya dingin. Juga sebatang tembakau tak luput dari raihanku. Jantungku berdetak teratur. Mataku berat kurasa. Seketika sekelebat wajahmu mengisi kesepianku. Oh Mala, tak bisakah sedetik saja kau bebaskan aku dari belenggu rindu. Hingga saat ini, senyum manismu masih saja membayang dalam langit-langit kepalaku. Ia berlari, memutar, lalu jatuh ke dalam pelukanku. Lalu malam-malamku menjadi riuh oleh lincah gerakmu.

Continue reading “Mala.”

Pagi dan kisah yang terulang kembali

Di beranda sebuah rumah berhalaman luas, aku selalu menghabiskan pagi dan malamku. Bersama secangkir kopi, juga sekotak rokok yang sudah lama kutinggalkan. Pandanganku tak pernah lepas dari lincahnya kaki-kaki kecil yang nampak susah mengawali langkah. Juga pada raut khawatir perempuan baya di belakangnya. Hatiku bergetar tiap kali senja nampak bergerak memudar, tanda ia akan pergi dari hari ini. Juga tanda bagiku untuk bergegas menutup jendela kamar, jika tak ingin serangga malam menjadikan isi kamar itu santapan lezat mereka. Saat ini, adalah saat yang dulu sempat membuatku takut setengah mati. Takut setengah mati untuk mati. Takut menjadi tua. Setelah dulu sempat berdoa agar bisa cepat-cepat menyapa remaja. Kini aku sadar, dewasa tidak seindah yang aku bayangkan. Dewasa menjadi amat menyebalkan. Mendadak aku merindukan pelukan ibu saat aku menggigil meriang. Juga suapannya yang dibarengi dengan cemas pandangannya. Aku merindukan kenakalanku dulu yang sempat beberapa kali membuat ibu meradang. Mendadak, aku merindukan sosok ibu. Oleh karenanya, Senja, istriku, paling suka mengolokku sebagai anak mama. Aku tentu saja menampiknya, sekaligus setuju dengannya. Menjadi tua adalah ketakutan semua orang. Continue reading “Pagi dan kisah yang terulang kembali”

Rindu yang terlarang.

imagesAdakah yang melarang rindu? Ku pikir tidak ada, kecuali kamu, Nona. Padahal aku sudah pernah bilang padamu, bahwa rinduku sama sekali tak mengharap balasan atau penerimaan. Cukup tersampaikan saja. Dan itu masih membuatmu melarangku untuk merinduimu? Juga pernah ku bilang, rinduku sederhana saja, cukup berbincang denganmu. Karena dengan begitu aku tau kamu baik-baik saja. Tak lebih. Continue reading “Rindu yang terlarang.”