Malam.

Kau malam yang selalu saja menolak kubangunkan.

Lalu aku, adalah lelaki yang mulai takut dengan pagi.

Seperti malam itu, tiba-tiba kau datang membawa jutaan bintang di mega angkasa. Lalu kau tambah lagi dengan purnama. Pertanyaanku, sanggupkah aku pergi tidur saja tanpa mengindahkan keduanya?

Dan pagi bergulir, kau masih ada namun pada pandangan yang tak pernah ku sangka.

Harus kuakui, beberapa kali aku berdoa agar hujan turun di pagi hari. Agar lembayung surya tertutup kembali. Seakan-akan malam tak pernah pergi, juga purnama dan jutaan bintang yang menggantung. Mulai saat itu, pagiku kubuat muram, muram. Biar langit terang, namun kau tak pernah lelap dalam hatiku yang kelam.

 

(Sesayap, 2 September 2016)

Diam

Sesekali, ijinkan aku hanya memandangmu.

Biar diam menjadi bahasaku.

Lalu gerak mataku, kau akan lihat,

mengisyaratkan serupa warna senja yang kau suka.

Karena, mungkin saja, kata-kata akan melemahkan aku dan kamu untuk menjadi kita.

 

(Sesayap, Januari 2016)

Ied.

Tahun ini adalah kali kedua saya merayakan lebaran di perantauan. Bekerja di lokasi proyek mengharuskan saya untuk bisa memaklumi jarak dan perpisahan dengan keluarga. Sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa untuk berpisah dengan keluarga dalam jeda 4 minggu, lalu dibayar dengan 2 minggu, walau tak pernah lunas. Tapi ada yang berbeda di tahun ini. Setelah 2 minggu sebelum lebaran saya memutuskan untuk pindah lokasi kerja, yang sebenarnya masih satu provinsi dengan kota tinggal saya dan perintah atasan untuk jaga gawang di lokasi proyek, entah mengapa muncul benih-benih nelangsa di hati. Continue reading “Ied.”

WETAR – Perpisahan

5 Juni 2017
Hujan masih saja membasahi bumi. Sejak empat hari terakhir nampaknya langit sedang menangis, setidaknya itu adalah hal yang saya yakini, langit Wetar menangis 3 hari sebelum saya dibawa pergi oleh Pan Marine 6. Meninggalkan kawan, yang selama 5 minggu berturut-turut menemani hari-hari di Wetar dan diselingi 3 minggu bersama keluarga, adalah kesedihan yang tak bisa dihiraukan. Bahkan kalau boleh jujur, rasanya jantung memompa darah lebih cepat seiring dengan semakin berkurangnya hari-hari saya di Wetar. Tak bisa disangkal di detik-detik terakhir, saya selalu membuat lelucon-lelucon yang bagi saya menyenangkan hanya untuk tidak menghiraukan bertambahnya ritme pompa jantung saya. Continue reading “WETAR – Perpisahan”