Di Tiga Purnama itu, aku menunggu.

indexSore itu mendung menyelimuti sebagian kotaku. Beberapa kali petir menyambar apa yang sekiranya sampai ia jangkau. Angin kian kencang menyapu dan mengejar tubuh-tubuh yang berlarian meneduh, layaknya lomba maraton. Aku memandang ke ujung jalan, lalu melirik jam yang bersimpuh pada pergelangan tangan kiriku. Padahal masih jam 4 sore, tapi langit seperti tak sabar menjemput malam, batinku. Aku masih duduk sendiri di teras sebuah warung langgananku. -baca selengkapnya->

Pertemuan

Kita pernah duduk berhadapan, tepat di meja ini, kamu dan aku.

*****

Adakah yang lebih indah dibanding senyumanmu di pagi itu?

“hai, kenalkan nama saya Sifa, karyawan baru di sini” sambil memajukan tanganmu.

Aku tergagap, atau mungkin terkesima, “I iya, Akbar, Akbar Nusantara…” kalimatku menggantung.

“cukup nama panggilan aja mas..” jawabmu sambil terkikih.

Mungkin saat itu kamu menangkap kebodohanku.

“tapi namamu bagus, aku suka” lalu kamu melenggang pergi meninggalkanku yang masih gagal paham pada situasi ini.

***** Continue reading “Pertemuan”