[Layaknya] Jomblo

Suara adzan kedua berkumandang di TV saat saya mulai dilanda bosan yang lebih. Sebenarnya sejak pagi saya merencanakan untuk pergi jalan-jalan mengitari kota Bogor, mengharap ada sedikit hiburan disana untuk sekedar dinikmati atau mengabadikannya melalui jepretan lensa. Namun niat itu tak terlaksana. Selain karena memang matahari sudah tinggi saat saya memulai hari ini, entah kenapa akhir-akhir ini hidup saya selalu menjadi pahlawan kesiangan, juga yang terpenting adalah musibah di malam sebelumnya. Bukan musibah seperti pengertian kebanyakan orang, yang selalu terbayang darah dan rumah sakit ketika pertama kali mendengar kata itu, apalagi bayangan orang tua ketika mendengar kata itu diucapkan anaknya di telepon. Musibahnya adalah, sebuah atau lebih tepatnya dua buah film yang saya copy-paste dari seorang teman yang pernah saya anggap –maaf– pedofil. Hangover. Di saat itu ada setan yang membisikkan untuk menontonnya, kurang tau persis setan apa tapi saya akui, saya tergoda. Well, saya menyudahi sajian film tersebut 15 menit sebelum adzan kedua yang berkumandang online hari ini.

Tiga rakaat. Doa sebagai dessert. Makan. Jujur saya sedikit bingung dengan menu saya petang ini. Dan jujur, kekhusu’an sholat saya berkurang karenanya. Akhirnya di akhir sesi doa saya, Tuhan memberikan jawaban-Nya. Ayam goreng aroma. Yah, perjalanan dimulai. Tak ada yang spesial dalam perjalanan saya menuju ke jawaban Tuhan tersebut. Isi bensin rasanya bukan sebuah keadaan yang bisa dikatakan ‘spesial’, tapi lebih kepada kepastian yang dihadapi dengan motor pinjaman. Dan kepastian yang selanjutnya adalah saya sampai di tempat tujuan dengan selamat. Setusuk udang, telur, dan ayam siap menuju penggorengan. Keadaan mulai tak berpihak. Sekaligus menegaskan kesendirian saya di kota Bogor ini. Tak ada meja yang hanya terisi satu manusia. Kalaupun bukan pasangan khusus, pastilah dengan beberapa kawan. Saya memilih sebuah tempat yang berada di pojok ruangan hampir menuju keluar. Dan memiliki sedikit kebahagiaan (alasan kenapa hanya sedikit akan saya jelaskan di kalimat berikutnya) bahwa yang datang sendiri saat itu tak hanya saya. Seorang laki berumur menikmati santapannya sendirian.

Seorang musisi jalanan mengisi keheningan waktu. Dan berlalu tanpa keluar receh dari saya. Karena selain suaranya yang agak kurang pas di telinga saya, namun alasan yang lebih masuk akal adalah recehan yang ada di dompet. Pastilah malas mengambilnya kalau tangan sedang berlumuran sambal. Musisi kedua masuk dan memulai lagunya. Lagu yang sama. Saya mulai berpikir bahwa para musisi ini sudah janjian untuk menyanyikan lagu yang sama sepanjang hari. Dan berakhir dengan recehan dari saya. Bukan karena sudah selesai makan, tapi lebih karena kata-kata terakhir musisi tersebut yang membuat saya meringis:

“….didoakan lancar jodoh bagi yang masih jomblo”

Tentu saya tidak bermaksud PD. Tapi semua orang akan merasa sama seperti yang saya rasakan. Karena tepat saat para pengamen tersebut selesai, memang saya seperti jomblo. Makan. Seorang diri. Dan berakhir dengan 500 yang berpindah kantong. Kembali bukan karena faktor suara atau lagu, tapi lebih kepada kata-kata sakti yang terucap di akhir syair.

Bogor, 5 Juni 2013

Ladies First

Biasanya dalam situasi yang memang benar-benar mendesak dan berbahaya, ungkapan ladies  first selalu banyak dikatakan oleh para kaum adam. Ungkapan ini dikatakan sebenarnya untuk memberi kesempatan seorang perempuan untuk mengambil jatah keselamatan terlebih dahulu daripada laki-laki. Namun sempat saya berpikir jika sebenarnya ungkapan itu adalah sebuah alasan bagi laki-laki untuk bersembunyi dari ketakutan untuk mati. Karena biasanya orang terdepan adalah orang yang beresiko terbesar. Contohnya dalam perang, tidak usah jauh-jauh kepada peperangan, saya ambil yang mudah saja dan tidak berbahaya, bermain catur sajalah. Pion maju dahulu, dan mayoritas, pion adalah bidak yang pertama kali mati di tangan musuh. Jadi saya analogikan di sini perempuan sama dengan pion bagi lelaki. Ada kemungkinan lelaki mengatakan ladies first untuk mengetahui bagaimana keadaan lapangan sebenarnya. Dan itulah alasan untuk seorang pria bisa mengambil langkah berikutnya jikalau langkah pertama yang diambil oleh sang wanita itu salah. Ehm, jadi pesan saya di sini adalah, berhati-hatilah jika dalam kondisi berbahaya ada seorang laki-laki mengatakan ladies first, bisa saja orang tersebut menjadikan anda sebagai kelinci percobaan untuk mati.

*Tulisan ini saya buat tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya, jadi kebenaran dari anggapan saya ini layaknya seperti bajaj. Bahwa tidak ada yang tau kapan bajaj belok kecuali sang sopir dan Tuhan.

Bogor, 15 Mei 2012

Krisis…

Malam ini kembali aku bergelut dengan ketidakmampuanku membaca keinginan. Dalam kemelut itu tak nampak satu pun jawaban yang dapat mengantarku ke dalam hal yang ku idamkan. Jawabmu tentang ini, dan sanggahku tentang itu. Entah benar atau salah, apakah memang ini mengenai apa yang benar dan siapa yang salah? Rasanya bukan. Atau mungkin tentang sesuatu yang sebenarnya ingin ku capai namun aku sendiri tak tahu itu apa. Entahlah. Belaimu pun tak sehangat dulu, kurasa.

Ingin sebenarnya ku berbagi cerita denganmu. Tentang keputusan-keputusan yang akan ku ambil dalam waktu dekat ini. Dan sama seperti di awal ku ungkapkan bahwa banyak sekali yang harus dipertimbangkan ketika harus mengambil langkah A ataupun B. Keputusan untuk meninggalkan tanggung jawabku, rasanya sungguh bukan lelaki yang mencari ludah yang telah dibuangnya ke jalanan dan mungkin sudah tercampur dengan beban-beban hidup orang lain di sana. Atau menggeluti kembali apa yang belum ku selesaikan? Ya, tidak semua orang percaya akan indahnya rencana yang dibuat Tuhan untukku. Yang saat ini kusadari adalah, aku berada dalam krisis. Krisis kepribadian.

Entah apa yang terjadi dalam diriku yang selama ini mungkin seorang yang kuat dan bersemangat di matamu. Apa yang terjadi dengan semangatku? Keyakinanku? Antusiasku? Diriku? Pernah kucoba membuka satu tali yang kurasa menjadi pangkal kejadian ini menyambangiku. Namun nihil. Bukan itu. Atau memang rasaku terhadapnya sudah tak lagi ada karena hal-hal yang dulu kucoba hindari. Semakin lama ku bergelut dengan diriku yang hitam, semakin ku sadar bahwa ketika seseorang berusaha keras menjauhi apa yang dianggapnya jelek, maka sesuatu itu perlahan akan merasukinya dalam dan semakin dalam tanpa ia ketahui sepenuhnya. Sampai ia sadar bahwa ia telah masuk dan terkungkung pada apa yang ia hindari selama ini.

Kediri, 14 Mei 2013.

Salam sapa rindu

Sayang, malam ini ingin ku mengadu padamu melalui hembusan angin yang kerap kali menyapu dadaku. Malam ini adalah malam dimana semua orang yang dulu kita pernah berada dalam golongannya kembali beradu suara. Di tribun. Dentuman drum, tarian semangat, gairah kemenangan, dan semua hal yang tidak ada kaitan dengan kesedihan. Namun tak seperti itu diriku, malam ini. yang masih terselimuti oleh dinginnya sambutan hari esok kepadaku. Sering engkau memberiku lecutan semangat. Namun jika kehendak belum sampai di jiwa, rasanya berat kakiku untuk melangkah. Bukan karena tak paham akan kepentingan waktu. Yang sering kau sebut sebagai penunda langkahku bersamamu. Tapi aahh, terlalu banyak kata tapi dalam diri ini.

Sayang, di malam yang penuh ceria ini aku ingin berbagi kerinduan padamu. Yang meski tanpa kubagi pun rasanya kau telah lebih merinduiku. Tapi bukankah ini yang biasa terucap oleh kawan tentang arti cinta? Suka dan duka berbagi bersama. Namun rasanya tak rela aku jika harus berbagi duka denganmu. Yang kuinginkan hanyalah senyuman ikhlas yang tergambar di raut mukamu ketika kita bertemu di penghujung rindu yang kita bangun selalu.

Sayang, di sela kepulan asap yang biasa kau sebut racun ini aku bergumam tentang arti sebuah masa depan. Bahwa bahagia tak selalu diciptakan dari keindahan. Seperti aku mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa alasan. Dan memang seharusnya seperti itu. Bagaimana denganmu sayang? Bukan aku ragu atas rasmu padaku, hanya sekedar keinginanku untuk bertanya padamu tentang suatu hal yang kurasa begitu istimewa untukmu.

Sayang, mungkin pernah terbesit di pikiranmu bahwa seorang lain memiliki kelebihan daripadaku. Seorang kawan mungkin tak perlu repot memikirkan dimana ia akan mengabdikan hidup untuk menghidupi orang lain yang bukan siapa-siapanya, bos. Atau seorang lain yang bergelut di bidang yang kita geluti sudah mencapai sesuatu yang engkau idamkan. Tapi kenapa engkau masih bertahan denganku? Harapku tentang jawabmu semoga tak kau pertahankan diriku karena sebuah ciuman malam itu. Disini aku masih mencari asal dari getar yang secara tiba-tiba menghampiriku saat ku melakukan sesuatu. Tak tahu sampai kapan akan berakhir. Dan semoga tak sampai dimana engkau sudah merasa jenuh terhadapku.

Sayang, malam ini aku ingin memberikan ungkapanku padamu tentang apa yang memenuhi pikiranmu setelah aku memiliki sebuah kertas ajaib yang diberikan oleh universitas di akhir masa belajarku. Santai. Tiada usaha. Malas. Mungkin itu tiga dari sekian banyak kata yang hinggap di pikiranmu padaku. Tapi disini kembali ku berikan padamu sebuah pengertian mengapa kini aku berada dalam lautan samudra. Aku seperti sebuah pohon yang tumbuh dalam pot. Terkurung dan terbatasi oleh ruang tumbuh yang tak cukup. Ah, mungkin kau yang lebih mengerti daripadaku. Berbeda denganmu, aku masih mencari dimana jembatan yang bisa mengantarkan kita kepada apa yang kita impi-impikan tanpa harus membunuh satu atau lebih sebuah rasa yang kita bawa sejak pertama kali menghirup udara di dunia. Kuharap kau mengerti maksudku sayang.

Sayang, malam ini sangat ingin aku berada dalam dekapmu. Seperti apa yang kawan-kawanku rasakan malam ini juga. Seperti seorang teman yang tiba-tiba datang dengan senyum dan cerita tentang hangatnya kecupan orang yang disayanginya, walau hanya di tangan. Entah mengapa aku merindukan kecupan bibirmu di tanganku. Bukan karena lupa, atau karena intensitas bibir kita bertemu sudah terlalu. Namun karena keromantisan rindu yang membuatku semakin mencintaimu.

Sayang, satu hal yang ingin ku sampaikan padamu sebelum aku menyelesaikan sapa rinduku. Benar tidak melulu berpasangan dengan salah, begitu juga bahagia yang tak selalu karena indah.

Salam sayang penuh cinta kusampaikan padamu, melalui angin ini. Harapku semoga kau terima tanpa ada secuil rinduku yang tak kau rasa.

Bogor, 4 Mei 2013

Sayangku…

Sayangku…
Apa engkau masih disini
Setia menemani, tak terarah langkahku
layukah senyum di bibir indahmu
ketika semakin jauh aku dari jalanku
Tetaplah disini…

Sayangku…
Merah wajahmu slalu membiusku
tidurkanku di antara lelahku
walau ku tau…capai tubuhmu
turuti semua inginku
tetaplah disini…

Kurasa cinta ini semakin merasuk
hingga sulit kurasakan adanya
Engkau tlah menyatu dalam rusukku
Menopang beban tubuhku
Sayangku…

Sayangku…
Jangan kau bertanya
tentang keraguan
tentang semua yang kau sebut itu “CINTA”
dan katakanlah
bahwa aku kan menuntunmu
bersama dalam tujuan kita,
Tetaplah disini…

sejenak…
tinggalkanlah penat hidupmu
slalu ingatlah suaraku
“I Love U”

Argha
Bogor, 11 Mei 2011
Special for : Lita