Lebaran dan Lalapan

Alhamdulillah.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa illaha illallah huwaallahuakbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Suara Takbir menjadi pembeda di malam itu. Setelah kurang lebih 30 hari selepas adzan isya suara pujian sekaligus niat untuk puasa esok hari selalu menghiasi dan mengundang jamaah di sekitar masjid. Tak ketinggalan suara bedug yang dipukul mengeluarkan suara yang nyaring, menjadi bukti bahwa dilakukan dengan pukulan yang penuh semangat dan gembira. Ya, hari kemenangan telah tiba. Hari kemenangan dari perintah menahan hawa nafsu selama sebulan di siang hari dan memperbanyak amalan saleh di malam hari. Tahun 2009 saya masih menyandang gelar mahasiswa tingkat pertama, yang pasti merayakan Idul Fitri di kampung halaman bersama keluarga. Belum seperti sekarang, setahun pulang lalu tahun depan jaga kandang.

Seperti umat muslim lain di kampung saya, bahkan di seluruh dunia, setelah bangun dari tidur saya menyempatkan untuk minum segelas air. Sunnah rasul untuk menandai bahwa pagi itu umat Muhammad sudah mengakhiri puasa. Dilanjutkan dengan mandi besar dalam rangka menyambut Idul Fitri, lalu menyusul 2 rakaat subuh. Pukul 05.30, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya dan keluarga berdiri di jalan depan rumah untuk menunggu keluarga besar berkumpul, lalu berangkat bersama-sama ke Masjid. Sungguh kebersamaan yang indah, yang boleh dibilang hanya terjadi setahun sekali. Lokasi Masjid di desa saya tak begitu jauh, hanya hitungan langkah sudah sampai di pelataran yang sudah diberi alas terpal untuk mengakomodir melonjaknya jamaah Sholat Ied.

Continue reading “Lebaran dan Lalapan”