Pagi dan kisah yang terulang kembali

Di beranda sebuah rumah berhalaman luas, aku selalu menghabiskan pagi dan malamku. Bersama secangkir kopi, juga sekotak rokok yang sudah lama kutinggalkan. Pandanganku tak pernah lepas dari lincahnya kaki-kaki kecil yang nampak susah mengawali langkah. Juga pada raut khawatir perempuan baya di belakangnya. Hatiku bergetar tiap kali senja nampak bergerak memudar, tanda ia akan pergi dari hari ini. Juga tanda bagiku untuk bergegas menutup jendela kamar, jika tak ingin serangga malam menjadikan isi kamar itu santapan lezat mereka. Saat ini, adalah saat yang dulu sempat membuatku takut setengah mati. Takut setengah mati untuk mati. Takut menjadi tua. Setelah dulu sempat berdoa agar bisa cepat-cepat menyapa remaja. Kini aku sadar, dewasa tidak seindah yang aku bayangkan. Dewasa menjadi amat menyebalkan. Mendadak aku merindukan pelukan ibu saat aku menggigil meriang. Juga suapannya yang dibarengi dengan cemas pandangannya. Aku merindukan kenakalanku dulu yang sempat beberapa kali membuat ibu meradang. Mendadak, aku merindukan sosok ibu. Oleh karenanya, Senja, istriku, paling suka mengolokku sebagai anak mama. Aku tentu saja menampiknya, sekaligus setuju dengannya. Menjadi tua adalah ketakutan semua orang. Continue reading “Pagi dan kisah yang terulang kembali”