Dialog Meja Sebelah.

‚Äč”Semua berubah, Akbar. Tak terkecuali wanita. Zaman terus berjalan, manusia menua….”,

“Ya, aku sepakat dengan kata-katamu.”

“Sekarang mungkin kau sedang memujaku dan melupakan kekasihmu. Tapi masih ada esok, lusa, dan hari-hari yang tak berbatas.”

“Jadi kita berbicara tentang waktu? Belasan tahun aku meredam rindu dan amarah hanya untuk menemukanmu. Berapa banyak denting jam seperti memukul mukul kepalaku waktu aku ingat betapa kerapuhanku yang membuat keadaan ini….” Continue reading “Dialog Meja Sebelah.”