Susilo.

Seorang kawan dengan tiba-tiba menjapri saya di whatsapp. Nasir. Ketua angkatan Fakultas Kehutanan IPB angkatan 45. Jadi HAPKA ke-17 akan berlangsung bulan September mendatang. Sebagai acara 4 tahunan, HAPKA selalu dinantikan oleh angkatan-angkatan tua Rimbawan IPB. Sebagai ajang untuk bersilaturahim sekaligus memupuk ingatan biar terus hidup. Secara alami, momen HAPKA membuat tim redaksi majalah Forest Digest mengabadikan melalui edisi khususnya. Salah satunya adalah memuat memori semasa kuliah mulai dari angkatan pertama hingga sekarang. Itulah yang membuat Nasir menghubungi saya. Beliau meminta saya untuk membuat tulisan tentang kenangan semasa di Fahutan. Sebenarnya, saya tidak terlalu banyak ikut kegiatan fakultas, makanya di awal percakapan saya sedikit menolak halus dengan alasan tanya dulu ke kawan-kawan yang lain. Siapa tau mereka ada yang lebih kompeten. Mungkin karena kesibukan masing-masing yang gak bisa ditinggal, kawan-kawan tidak punya waktu untuk menulis. Ya akhirnya dengan legowo, saya terima tawaran Nasir untuk menulis. Kan, saya banyak nganggurnya. Jadi ya bisa tiap saat nulis. Dibantu Jun Harbi, akhirnya kami menentukan temanya adalah BCR (tulisannya nanti akan saya posting setelah Tim Forest Digest menerbitkan majalah edisi khususnya). Di tengah jalan saat saya nulis tentang BCR inilah, tiba-tiba saya ingat dengan Susilo. Seorang kawan yang unik. Yang sering kami dzolimi. Continue reading “Susilo.”

Foto Stage “Jungle Jazz” -ala Fahutan-


 

Foto-foto di atas saya ambil ketika ada sebuah pertunjukan musik bertema “Jungle Jazz” –ala kampus- yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Kehutanan IPB beberapa waktu yang lalu. Dengan bersenjatakan Canon EOS Kiss X3 (pinjaman) + lensa tele 55-250mm jebolan Jepang, saya mulai belajar menangkap momen-momen di panggung. Setahu saya, para senior fotografi menyebutnya dengan Foto Stage. Memang agak susah membuat kamera mendapatkan cukup cahaya dengan bukaan lensa yang bisa dibilang lumayan kecil itu. Dengan bukaan f5.6 dan minimnya cahaya membuat seorang pemula seperti saya cukup kebingungan. Kekhawatiran kembali muncul ketika keputusan menaikkan ISO harus dilakukan. Pasti hasilnya akan banyak “pasir”. Namun daripada kehilangan momen penting, mending saya ambil resiko menaikkan ISO. Karena menurut pendapat para senior, saat ini banyak software yang bisa mengurangi noise yang dihasilkan karena ISO yang tinggi. Hal itu cukup membuat saya lega.

Terimakasih saya ucapkan kepada Mas Arya Primasatya yang meminjamkan kamera beserta 3 set lensa pada saya selama lebih dari 1 tahun. Sebagai sarana saya untuk belajar fotografi.

Salam.