Matebon.

Pernah salah satu kawan saya, Matebon, membuat gemetar orang serumahnya. Betapa tidak, ia dengan blak-blakan meminta persetujuannya untuk menikah (lagi). Sontak, hal tersebut membuat tangis istrinya, yang sedang hamil muda, meledak. Tapi itulah kawan saya, bukan dia tidak waras lagi, dia sudah memastikan sebelumnya bahwa hari ini akan terjadi. Tangisan istri dan guratan kecewa orang tuanya sudah terlukis mendetail di benaknya. Juga tatapan lugu anaknya yang masih 5 tahun, tatapan polos dan tak tau apa-apa. Malam itu, langit seakan menumpahkan amarahnya pada keluarga Matebon. Petir nampaknya sudah memastikan targetnya malam itu – hati si perempuan.

Continue reading “Matebon.”