Membunuh Rindu!

Aku tiba di kotamu lima belas menit sebelum pukul 8 malam. Selinting tembakau segera terbakar, mengiringi asap yang terhembus bersama udara yang keluar dari paru-paru. Pesanmu baru tiba, lalu kubaca. Kau menuju kemari. Aku duduk cemas sambil menerka baju apa yang tengah kau pakai. Untuk menutupi tubuh mungilmu yang kubayangkan menggigil karena angin malam. Tak cukup itu, mungkin sebelum berangkat kau menimbang-nimbang jaket atau sweater apa yang hendak kau kenakan. Musuhmu malam ini adalah dingin. Siapa yang tak terima, bahwa kemarau tahun ini membawa dingin yang amat. Tulangmu tentu mengeluh. Tapi kuharap niat menemuiku akan membuatmu bergemuruh. Sama seperti aku saat ini. Juga saat sebelum ini. Saat aku menimbang akankah aku menemuimu saja atau mengingkari rindu yang kian lama kian tercipta. Sampailah aku hari ini. Hari dimana dulu sengaja ingin kita ciptakan. Bersama surya dan harapan, kita mengarungi bulan demi bulan untuk sekedar menuntaskan rindu. Continue reading “Membunuh Rindu!”