Monolog #1

Apa kabar kamu, Nona? Uh berapa windu kita tak berjumpa? Tapi rasanya, baru kemarin kita menghabiskan malam dengan sepiring flatter di meja. Juga berbatang-batang puntung yang mengantre untuk padam. Kopiku? Masih setia. Oh iya, sebelumnya aku ingin kamu sampaikan maafku pada Tuan. Karena rinduku tak beraturan. Sedang tak karuan. Sambil mengingatmu yang tengah mengenakan sweater biru dongker, lalu senyummu yang menawan.

Hei, aku menemukanmu pada tumpukan buku-buku. Pada sederet kata-kata yang manis. Kamu tepat berada di bagian paling cantik. Tiba-tiba tersenyum. Lalu aku takluk pada senyum pertamamu. Siapa namamu? Ah, hampir ku lupa, Sifa. Aulia Falasifa. Continue reading “Monolog #1”