Resensi : ENTROK – sebuah novel

Sebuah novel ber-cover “BH” ini  mungkin memberi kesan negatif bagi para pengunjung yang pertama melihat buku ini. Entrok memang kata ganti untuk menyebut “BH” pada masyarakat Jawa (khususnya Jawa Timur). Berawal dari sebuah keinginannya memiliki entrok, Sumarni (Sang Tokoh) rela mengikuti  simboknya yang setiap hari menjadi buruh kupas singkong salah satu pedagang di Pasar Singget. Karena upah dari mengupas kulit singkong tidak pernah berupa uang, maka Marni pun rela menjadi kuli angkut barang untuk mendapatkan uang yang nantinya akan dikumpulkan untuk membeli entrok. Sampai akhirnya Marni pun menjadi kaya karena kepiawaiannya memainkan uang untuk berdagang. Namun kaya bukan berarti bahagia dan tenang pada era Orde Baru yang terkenal mencekam itu. Bayang-bayang kekuasaan tak pernah lepas dari kehidupan keluarga Marni.

Berdasarkan keadaan tahun 60-an setelah era PKI sampai berakhir pada tahun 99 dimana Orde Baru sudah runtuh. Sang penulis, Okky Madasari mampu membawa para pembaca kembali merasakan ketegangan serta sangat mencekamnya hidup di zaman itu. Selain itu, sebuah perbedaan keyakinan yang pada intinya sama itu sedikit digambarkan pada novel ini. Dimana agama Islam masih sangat asing di telinga masyarakat Jawa yang masih menjunjung tinggi tradisi dan budayanya. Novel ini sangat menarik untuk dibaca ataupun untuk sekedar mengisi waktu senggang di antara kesibukan mencari kerja ataupun yang masih sibuk dengan skripsinya.

 

Judul                                     : Entrok

Pengarang                          : Okky Madasari

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                      : 2010

Tebal tanpa cover            : 282 halaman