Keruntuhan Hidup

Samar kudengar,
Teriakanmu
Rasakan putaran rantai
Perlahan menembusmu

Tetes matamu terlihat
Dalam temaram sinar bulan
Tanda runtuhnya sebuah kehidupan

Kudapati warna keruh
Dalam darah yang terbuang
Kemurkaan Engkau

Aku mencintaimu
Entah tentang yang lain
Aku membutuhkanmu
Entah untuk yang lain
Lebih dari sekedar suapan nasi
Ku berbicara tentang hidup…

Hutanku…

Aku slalu bersamamu
Walau kau tak seperti dulu
Bukan maumu, [memang]
Kebiadaban merekalah yang mengharuskanmu

Kau begitu sempurna
Cerminan kehidupan dunia
Menjajnjikan ‘indah’ pada setiap mata
Memberi kebisuan tuk memuji
Indahnya kala itu

Kini,
Tetes keringat membasahiku
Darah adalah sumber airku
Perlahan racun rasuki rongga selku, namun pasti

Semakin mencekam dalam keramaian
Janji hunian 1×3
Tak sekedar cinta kini tuk memilikimu
Lebih dari sekedar memiliki
Kebutuhanku balas cintamu, padaku
Yang kini coba ku bangun
Hutanku…

Pertanyaan untuk sebuah revolusi

Apa yang terjadi
Engkau kini menjadi kaku
Lebih tinggi, besar
Warnamu kini putih berkilau
Tanpa daun…

Aku seperti tersesat di dunia
Yang tak pernah kukenal
Dunia tiang berjajar, mengagumkan

Aku tertidur seabad lalu
Menikmati segar alamku
Engkau mengelilingiku

Kini ku terbangun
Melihat perubahan
Evolusimu kini
Bukan lagi penghasil udara
Lebih kepada kertas-kertas yang disebut ‘uang’

Gundah aku tuk simpulkan
Inikah takdir, atau keinginan manusia
Hingga kini tak bisa aku menjawabnya
Evolusi pohon menjadi beton

Tentang Hidup…

Terkadang…
Semua Slalu kupertanyakan
Entah itu tentangmu,
Tentangku, tentang kalian,
Dan tentang semuanya

Apa artinya untukku
Tujuan sebenarnya
Belum juga kutemui

Bukan surga ku tatap
Juga neraka ku ratap
Lebih pada kesejatian
Aku tetap tak mengerti

seperempat abad usiaku
Ku berjalan di tengah
gelapnya dunia tanpa arah
Hanya sebatang lilin
Temani, terangi
Dan ku trus mencari
Apa tujuan hidup ini
Walaupun aku…
Tetap tak mengerti